Lewati ke konten
Kesehatan Mental

Gangguan Makan: Mengenali Anoreksia dan Bulimia

Gangguan makan adalah penyakit jiwa serius, bukan gaya hidup atau cari perhatian. Kenali jenis, tanda bahaya, dan kapan harus ke IGD.

Tim Redaksi Sehatku
Disusun Tim Redaksi Sehatku9 menit baca20 Juni 2026Diperbarui 20 Juni 2026
Ilustrasi kecemasan terhadap makanan dan citra tubuh
Sehatku.id

Banyak orang mengira gangguan makan hanya soal 'diet yang kebablasan' atau keinginan untuk terlihat kurus. Anggapan ini keliru dan menyakitkan. Gangguan makan adalah penyakit jiwa yang serius — melibatkan otak, emosi, dan tubuh sekaligus. Ini BUKAN gaya hidup, BUKAN pilihan, dan BUKAN cara mencari perhatian. Seseorang tidak bisa 'tinggal berhenti' begitu saja, sama seperti penderita diabetes tidak bisa menyembuhkan dirinya hanya dengan niat.

Jika Anda atau orang terdekat sedang bergumul dengan hubungan yang rumit terhadap makanan dan tubuh, Anda tidak sedang lemah atau kurang bersyukur. Anda sedang menghadapi kondisi medis yang nyata dan bisa dipulihkan dengan bantuan yang tepat.

Apa Itu Gangguan Makan?

Gangguan makan (eating disorder) adalah kelompok kondisi kesehatan jiwa yang ditandai oleh pola pikir dan perilaku terganggu seputar makanan, berat badan, dan citra tubuh. Yang membuatnya serius: gangguan ini bukan sekadar kebiasaan makan, melainkan mencengkeram cara seseorang menilai dirinya sendiri.

Penyebabnya kompleks dan saling terkait — faktor genetik/biologis, tekanan psikologis (perfeksionisme, kecemasan, trauma), serta pengaruh sosial dan budaya yang mengagungkan tubuh kurus. Tidak ada satu 'penyebab tunggal', dan tidak ada pihak yang patut disalahkan — bukan salah orang tua, bukan salah penderita.

Gangguan makan bisa menimpa siapa saja: perempuan maupun laki-laki, remaja maupun dewasa, dengan berat badan besar, sedang, maupun kecil. Berat badan yang tampak 'normal' tidak berarti seseorang baik-baik saja.

Jenis Gangguan Makan

Ada beberapa bentuk utama yang perlu dikenali:

  • Anoreksia Nervosa: pembatasan makan yang ekstrem sehingga asupan jauh di bawah kebutuhan tubuh. Ada rasa takut hebat menjadi gemuk dan gangguan citra tubuh — merasa gemuk meski tubuh sudah sangat kurus. Penderita sering menyangkal seriusnya kondisinya.
  • Bulimia Nervosa: siklus makan dalam jumlah besar (binge) yang terasa lepas kendali, diikuti perilaku 'menebus' seperti memuntahkan kembali, olahraga berlebihan, atau menyalahgunakan obat pencahar/diuretik. Berat badan bisa tampak normal, sehingga sering tidak terdeteksi.
  • Binge Eating Disorder (BED): episode makan berlebih tanpa kendali yang berulang, disertai rasa malu dan bersalah, tetapi tanpa perilaku menebus seperti pada bulimia. Ini adalah gangguan makan yang paling umum, dan bukan sekadar 'kurang disiplin'.

Menentukan jenis dan tingkat keparahannya adalah tugas tenaga profesional (psikolog atau psikiater), bukan hasil menebak-nebak sendiri dari konten media sosial. Diagnosis bukan swadiagnosis dari TikTok atau Instagram.

Bisa Mengancam Nyawa

Ini bagian yang sering diremehkan: gangguan makan dapat mengancam nyawa. Anoreksia nervosa memiliki angka kematian tertinggi di antara semua gangguan jiwa — akibat komplikasi fisik dari kekurangan gizi berat maupun akibat bunuh diri.

Kekurangan gizi jangka panjang dapat merusak jantung, tulang, hormon, otak, dan organ pencernaan. Perilaku memuntahkan makanan dan penyalahgunaan pencahar menguras cairan dan mineral penting tubuh. Karena itu, gangguan makan bukan sesuatu yang bisa 'ditunggu sampai reda sendiri'. Semakin cepat mendapat bantuan, semakin besar peluang pemulihan.

Tanda Darurat Medis: Segera ke IGD

Muntah berulang dan penyalahgunaan pencahar dapat menyebabkan gangguan elektrolit — ketidakseimbangan mineral seperti kalium dan natrium dalam darah. Kondisi ini bisa mengganggu irama jantung secara mendadak dan berbahaya.

Segera ke IGD terdekat bila muncul salah satu tanda berikut pada diri sendiri atau orang terdekat:

  • Jantung berdebar atau terasa berdetak tidak teratur
  • Nyeri dada
  • Pingsan atau nyaris pingsan, pusing berat
  • Tubuh sangat lemas yang tidak biasa
  • Kejang atau linglung/kebingungan

Jangan menunggu. Gejala-gejala ini bisa menandakan kondisi darurat medis akibat gangguan elektrolit yang perlu ditangani segera.

Kaitan dengan Depresi dan Cemas

Gangguan makan jarang berdiri sendiri. Sering kali berjalan beriringan dengan depresi, gangguan kecemasan, atau trauma. Rasa malu, isolasi, dan tekanan batin yang menyertainya dapat memunculkan pikiran untuk menyakiti diri sendiri.

Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal mengalami hal ini: bila muncul pikiran menyakiti diri atau mengakhiri hidup, segera hubungi 119 ext 8 (layanan SEJIWA Kemenkes) atau datang ke IGD terdekat — Anda tidak sendirian. Meminta bantuan bukan tanda kelemahan; itu langkah paling berani yang bisa diambil.

Penanganan: Kerja Tim, Bukan Sendiri

Kabar baiknya: gangguan makan bisa dipulihkan. Penanganan yang efektif biasanya melibatkan tim yang bekerja bersama, karena kondisi ini menyentuh tubuh sekaligus jiwa:

  • Dokter untuk memantau kondisi fisik dan menangani komplikasi medis.
  • Ahli gizi untuk membantu pemulihan status gizi secara bertahap dan aman.
  • Psikolog atau psikiater untuk terapi psikologis. Terapi Perilaku Kognitif (CBT) adalah salah satu pendekatan yang banyak digunakan untuk membantu mengubah pola pikir seputar makanan dan tubuh.
  • Obat-obatan kadang diresepkan psikiater, terutama bila ada depresi atau kecemasan yang menyertai.

Rencana penanganan selalu disesuaikan oleh profesional dengan kondisi masing-masing orang. Tidak ada 'jalan pintas' atau 'obat ajaib' — pemulihan adalah proses yang butuh waktu, kesabaran, dan dukungan.

Peran Keluarga: Dukung Tanpa Menghakimi

Dukungan orang terdekat sangat berarti dalam pemulihan. Beberapa hal yang membantu:

  • Dengarkan tanpa menghakimi. Hindari komentar soal berat badan, bentuk tubuh, atau porsi makan.
  • Jangan menyalahkan — baik menyalahkan penderita maupun diri sendiri. Ini penyakit, bukan kegagalan siapa pun.
  • Fokus pada perasaan, bukan sekadar makanan. Tanyakan kabar hati mereka, bukan hanya 'sudah makan belum'.
  • Dorong mencari bantuan profesional sedini mungkin, dan tawarkan untuk menemani.

Mencari pertolongan lebih awal sangat menentukan. Jika Anda mengenali tanda-tanda ini pada diri sendiri atau orang tercinta, langkah pertama yang paling baik adalah berbicara dengan psikolog atau psikiater. Anda tidak harus menghadapinya sendirian, dan pemulihan itu mungkin.

Tools kesehatan terkait

Coba kalkulator gratis yang relevan dengan topik ini.

Referensi Medis

  1. 1. Kemenkes RI
  2. 2. Sehat Jiwa Kemenkes
  3. 3. WHO

Disclaimer medis: Artikel ini bersifat edukatif dan tidak dapat menggantikan konsultasi langsung dengan dokter. Selalu konsultasikan kondisi kesehatan Anda dengan tenaga medis berlisensi sebelum mengambil keputusan terkait perawatan.

Bagikan artikel ini

Penulis

Tinjauan Editorial

Tim Redaksi Medis Sehatku

Konten disusun mengacu pada sumber medis resmi

Diperbarui: 19 Juni 2026