Lewati ke konten
Penyakit

Rubella (Campak Jerman): Bahaya pada Ibu Hamil dan Pencegahannya

Bagi kebanyakan orang rubella ringan, tetapi pada ibu hamil virus ini bisa menyebabkan cacat lahir serius. Kenali bahaya dan cara mencegahnya.

Tim Redaksi Sehatku
Disusun Tim Redaksi Sehatku8 menit baca6 Juni 2026Diperbarui 6 Juni 2026
Penyakit

Rubella (Campak Jerman): Bahaya pada Ibu Hamil dan Pencegahannya

Sehatku.id

Banyak orang menyebut rubella sebagai "campak Jerman" dan menganggapnya sama dengan campak biasa. Padahal keduanya penyakit berbeda. Pada anak dan orang dewasa sehat, rubella umumnya ringan dan sembuh sendiri. Namun bila menyerang ibu hamil, virus ini bisa menimbulkan dampak yang sangat serius bagi janin. Artikel ini menjelaskan mengapa rubella perlu diwaspadai dan bagaimana cara mencegahnya.

Apa itu rubella?

Rubella adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus rubella. Penularannya melalui percikan (droplet) dari saluran napas saat penderita batuk, bersin, atau berbicara. Masa inkubasi, yaitu jarak antara terpapar virus sampai muncul gejala, biasanya sekitar 2 sampai 3 minggu.

Pada sebagian besar kasus, rubella tergolong ringan. Bahkan banyak orang yang terinfeksi tidak menyadarinya karena gejalanya samar. Justru sifat inilah yang membuat rubella berbahaya: seseorang bisa menularkannya tanpa sadar, termasuk kepada ibu hamil di sekitarnya.

Gejala rubella

Gejala rubella yang khas antara lain:

  • Ruam halus berwarna kemerahan yang biasanya muncul mulai dari wajah lalu menyebar ke badan; ruam umumnya berlangsung singkat, sekitar 1-3 hari.
  • Pembengkakan kelenjar getah bening, terutama di belakang telinga dan di tengkuk (leher belakang). Tanda ini cukup khas pada rubella.
  • Demam ringan.
  • Nyeri sendi, lebih sering dirasakan pada remaja dan orang dewasa, khususnya perempuan.

Karena gejalanya ringan dan mirip penyakit virus lain, diagnosis pasti tidak bisa hanya berdasar penampakan ruam. Bila ada kontak dengan ibu hamil, pemeriksaan oleh tenaga medis menjadi penting.

Proteksi Kesehatan

Lindungi Keluarga dari Biaya Rumah Sakit yang Tinggi

Asuransi kesehatan Allianz dengan sistem cashless di rumah sakit rekanan Allianz. Konsultasikan kebutuhan keluarga Anda dengan agen tersertifikasi, gratis, tanpa kewajiban beli.

✓ Cashless di RS rekanan✓ Klaim cepat✓ Konsultasi gratis
Konsultasi Gratis

Bahaya pada ibu hamil

Inilah alasan utama rubella tidak boleh dianggap remeh. Bila seorang ibu terinfeksi rubella saat hamil, terutama pada trimester pertama, virus dapat menembus plasenta dan menginfeksi janin. Risiko penularan ke janin dan tingkat keparahannya paling tinggi pada awal kehamilan, saat organ-organ janin sedang terbentuk.

Akibatnya bisa berupa keguguran, kematian janin dalam kandungan, atau bayi lahir dengan kumpulan kelainan yang disebut Sindrom Rubella Kongenital.

Sindrom Rubella Kongenital (CRS)

Sindrom Rubella Kongenital (Congenital Rubella Syndrome/CRS) adalah kumpulan cacat lahir akibat infeksi rubella selama kehamilan. Dampaknya bisa menetap seumur hidup dan meliputi:

Organ terdampakKelainan yang bisa terjadi
PendengaranTuli (gangguan pendengaran), sering jadi gejala paling umum
MataKatarak dan gangguan penglihatan lain
JantungKelainan jantung bawaan
Otak/sarafGangguan perkembangan otak dan keterlambatan tumbuh kembang

Karena dampaknya berat dan tidak bisa disembuhkan, pencegahan jauh lebih penting daripada pengobatan.

Vaksin sebelum hamil

Cara paling efektif mencegah rubella dan CRS adalah imunisasi. Vaksin rubella biasanya diberikan dalam bentuk kombinasi MR (Measles-Rubella) atau MMR (Measles-Mumps-Rubella).

Yang perlu dipahami, vaksin MR/MMR adalah vaksin hidup yang dilemahkan. Karena itu, vaksin ini tidak diberikan selama kehamilan. Inilah mengapa wanita usia subur yang berencana hamil dianjurkan memastikan status imunisasinya sebelum hamil. Setelah vaksinasi, umumnya disarankan menunda kehamilan untuk jangka waktu tertentu sesuai anjuran tenaga kesehatan.

Bila Anda berencana hamil dan ragu apakah sudah pernah divaksin atau pernah terkena rubella, konsultasikan dengan dokter. Pemeriksaan status kekebalan dapat membantu menentukan apakah vaksinasi diperlukan.

Beda rubella dan campak biasa

Meski sama-sama menimbulkan ruam, rubella (campak Jerman) berbeda dari campak biasa (measles):

AspekRubella (campak Jerman)Campak biasa (measles)
PenyebabVirus rubellaVirus campak (measles)
Berat gejalaUmumnya lebih ringanCenderung lebih berat
Ciri khasKelenjar bengkak di belakang telingaDemam tinggi, bercak Koplik di mulut
Bahaya utamaCacat lahir bila kena ibu hamilKomplikasi seperti radang paru, otak

Keduanya bisa dicegah dengan imunisasi yang sama (MR/MMR), sehingga melengkapi imunisasi memberi perlindungan ganda.

Perawatan dan pencegahan

Belum ada obat antivirus khusus untuk rubella. Penanganan bersifat suportif, yaitu meredakan keluhan sambil menunggu tubuh melawan virus:

  • Istirahat cukup.
  • Cukup minum cairan.
  • Obat penurun demam atau pereda nyeri bila diperlukan, sesuai anjuran tenaga kesehatan.

Untuk pencegahan, langkah utamanya adalah imunisasi MR/MMR sesuai jadwal, memastikan wanita usia subur terlindungi sebelum hamil, serta menjaga jarak penderita rubella dari ibu hamil. Bila Anda sedang hamil dan merasa kontak dengan penderita rubella atau muncul ruam, segera hubungi dokter untuk evaluasi lebih lanjut.

Rubella mungkin ringan bagi Anda, tetapi bisa mengubah seluruh hidup seorang bayi. Pencegahan lewat vaksinasi adalah bentuk perlindungan paling nyata.

Asuransi kesehatan keluarga dari Allianz

Cashless di RS rekanan · Klaim 24 jam · Konsultasi gratis

Lihat Detail

Tools kesehatan terkait

Coba kalkulator gratis yang relevan dengan topik ini.

Referensi Medis

  1. 1. WHO - Rubella
  2. 2. Kemenkes RI
  3. 3. IDAI - Ikatan Dokter Anak Indonesia

Disclaimer medis: Artikel ini bersifat edukatif dan tidak dapat menggantikan konsultasi langsung dengan dokter. Selalu konsultasikan kondisi kesehatan Anda dengan tenaga medis berlisensi sebelum mengambil keputusan terkait perawatan.

Bagikan artikel ini

Penulis

Tinjauan Editorial

Tim Redaksi Medis Sehatku

Konten disusun mengacu pada sumber medis resmi

Diperbarui: 5 Juni 2026