Lewati ke konten
Analgesik / AntipiretikResep dokter

Biropyron

Biropyron adalah **obat keras** berbentuk kaplet yang mengandung **metamizole sodium (metampiron)** sebagai analgesik-antipiretik, dikombinasikan dengan **vitamin neurotropik B1 (tiamin), B6 (piridoksin), dan B12 (sianokobalamin)**. Obat ini dipakai untuk meringankan **nyeri sedang hingga berat pada neuritis dan neuralgia** (nyeri saraf akibat peradangan atau jepitan saraf). Karena metamizole berisiko menimbulkan **agranulositosis** (gangguan sumsum tulang yang bisa fatal), Biropyron hanya boleh digunakan dengan **resep dokter** dan tidak untuk swamedikasi.

Nama generik
Metamizole sodium (metampiron/dipyrone) 500 mg + Thiamine HCl (Vitamin B1) 50 mg + Pyridoxine HCl (Vitamin B6) 100 mg + Cyanocobalamin (Vitamin B12) 100 mcg
Nama dagang
Biropyron
Disusun Tim Redaksi SehatkuDiperbarui 23 Juni 2026

Indikasi (Untuk apa)

  • Meringankan nyeri sedang hingga berat pada kondisi neuritis (radang saraf) dan neuralgia (nyeri saraf), termasuk nyeri akibat jepitan saraf
  • Nyeri yang disertai kebutuhan asupan vitamin neurotropik B1, B6, dan B12 sebagai pendukung fungsi sel saraf
  • Sebagai analgesik-antipiretik jangka pendek atas pertimbangan dokter, dengan cara kerja menghambat sintesis prostaglandin

Dosis

Dewasa
Gunakan hanya sesuai resep dokter. Dosis lazim dewasa yang tercantum pada kemasan adalah 3 x 1 kaplet sehari sesudah makan, dengan batas maksimal 4 kaplet sehari; dokter dapat menyesuaikan dosis dan lama pemakaian sesuai kondisi Anda. Diminum sesudah makan untuk mengurangi iritasi lambung. Jangan menambah dosis atau memperpanjang pemakaian sendiri karena risiko efek samping serius meningkat pada penggunaan jangka panjang.
Anak
Tidak dianjurkan diberikan pada anak tanpa penilaian dokter. Kandungan piridoksin dosis tinggi dan metamizole tidak sesuai untuk penggunaan bebas pada anak. Konsultasikan ke dokter untuk alternatif pereda nyeri yang lebih aman.
Lansia
Lansia lebih rentan terhadap gangguan darah, penurunan fungsi ginjal/hati, dan hipotensi. Dokter biasanya memberikan dosis efektif terendah dengan durasi sesingkat mungkin. Ikuti petunjuk resep dokter.

Efek Samping

  • Agranulositosis (penurunan drastis sel darah putih) — efek samping paling ditakuti dari metamizole; tandanya demam mendadak, nyeri tenggorokan, sariawan atau luka di mulut
  • Reaksi alergi hingga syok anafilaksis, ruam, gatal, biduran, dan pembengkakan wajah/bibir
  • Penurunan tekanan darah (hipotensi), pusing, dan lemas terutama bila diminum saat kondisi tubuh lemah
  • Gangguan saluran cerna: mual, nyeri ulu hati, atau iritasi lambung
  • Gangguan darah lain seperti leukopenia, trombositopenia, atau anemia aplastik
  • Pada pemakaian piridoksin (B6) dosis tinggi jangka panjang dapat timbul neuropati perifer sensorik (kesemutan, baal, gangguan keseimbangan) — hal yang justru berlawanan dengan tujuan pengobatan
  • Urine dapat berwarna kemerahan (efek metabolit metamizole, umumnya tidak berbahaya)

Kontraindikasi (Tidak boleh untuk)

  • Riwayat hipersensitif terhadap metamizole atau turunan pirazolon lain (mis. fenilbutazon, propifenazon)
  • Riwayat agranulositosis atau gangguan pembentukan sel darah/depresi sumsum tulang
  • Defisiensi enzim G6PD karena risiko hemolisis
  • Porfiria akut intermiten
  • Riwayat asma atau reaksi alergi yang dicetuskan analgesik (analgesic-induced asthma)
  • Gangguan fungsi hati atau ginjal berat
  • Kehamilan (terutama trimester pertama dan ketiga) serta masa menyusui, kecuali dokter menilai sangat perlu

Interaksi dengan Obat Lain

  • Dengan obat penekan sumsum tulang (mis. metotreksat, kloramfenikol, obat antikanker) — meningkatkan risiko agranulositosis dan gangguan darah berat
  • Dengan siklosporin — metamizole dapat menurunkan kadar siklosporin dalam darah
  • Dengan alkohol dan obat penenang — dapat memperkuat efek sedasi dan menambah beban hati
  • Dengan antikoagulan, antihipertensi, atau OAINS lain — kemungkinan perubahan efek obat dan peningkatan risiko perdarahan atau hipotensi
  • Piridoksin (B6) dapat menurunkan efektivitas levodopa pada pasien Parkinson yang tidak memakai penghambat dekarboksilase
  • Informasikan ke dokter atau apoteker seluruh obat, herbal, dan suplemen yang sedang Anda konsumsi sebelum memakai Biropyron

Peringatan Penting

  • Biropyron termasuk obat keras (golongan merah)wajib dengan resep dokter dan tidak boleh dibeli atau digunakan untuk swamedikasi.
  • Sebelum memakai, beri tahu dokter atau apoteker bila Anda punya riwayat alergi obat (terutama terhadap metamizole, turunan pirazolon, atau obat pereda nyeri lain), asma, gangguan darah/sumsum tulang, defisiensi G6PD, atau penyakit hati dan ginjal.
  • Hentikan obat dan segera ke dokter bila muncul demam, nyeri tenggorokan, sariawan/ulkus mulut, memar tanpa sebab, atau lemas berat — ini bisa merupakan tanda agranulositosis.
  • Segera cari pertolongan darurat bila timbul sesak napas, bengkak pada wajah/lidah, atau ruam luas setelah minum obat (tanda reaksi anafilaksis).
  • Ibu hamil dan menyusui tidak boleh menggunakan Biropyron tanpa persetujuan dokter. Metamizole dihindari terutama pada trimester pertama dan ketiga, dan dapat masuk ke dalam ASI.
  • Metamizole/dipyrone telah ditarik dari peredaran di sejumlah negara (antara lain Amerika Serikat, Inggris, Swedia, Australia) karena risiko agranulositosis dan syok anafilaksis, meskipun masih beredar legal di Indonesia. Diskusikan alternatif yang lebih aman dengan dokter Anda.
  • Hindari penggunaan jangka panjang tanpa pengawasan. Kandungan piridoksin 100 mg yang diminum terus-menerus berisiko menyebabkan neuropati perifer.
  • Minum sesudah makan dan jangan mengonsumsi bersama alkohol.
  • Pastikan produk memiliki nomor izin edar BPOM yang sah — periksa di cekbpom.pom.go.id. Awalan DKL pada nomor registrasi menandakan obat keras produksi dalam negeri.

Kategori Ibu Hamil (FDA)

Belum diklasifikasi

Pertanyaan Umum

Biropyron obat apa?

Biropyron adalah obat pereda nyeri golongan keras berbentuk kaplet yang berisi metamizole sodium (metampiron) ditambah vitamin neurotropik B1 (tiamin), B6 (piridoksin), dan B12 (sianokobalamin). Obat ini digunakan untuk meringankan nyeri sedang sampai berat pada neuritis dan neuralgia, yaitu nyeri saraf akibat peradangan atau jepitan saraf. Metamizole bekerja menghambat pembentukan prostaglandin sehingga nyeri dan demam mereda, sementara vitamin B kompleks berperan sebagai pendukung fungsi sel saraf — bukan sebagai obat utamanya. Karena tergolong obat keras, Biropyron hanya boleh digunakan dengan resep dokter.

Apakah Biropyron bisa dibeli bebas di apotek?

Tidak. Biropyron adalah obat keras (bertanda lingkaran merah dengan huruf K) sehingga harus ditebus dengan resep dokter. Penandaan ini juga tercermin pada awalan DKL di nomor izin edar BPOM-nya. Alasannya bukan sekadar formalitas: kandungan metamizole berisiko memicu agranulositosis, yaitu penurunan drastis sel darah putih yang dapat berakibat fatal, sehingga pemakaiannya perlu dipantau tenaga medis. Anda dapat memverifikasi keaslian dan status izin edar produk melalui cekbpom.pom.go.id sebelum membeli.

Apa efek samping Biropyron yang paling perlu diwaspadai?

Yang paling penting adalah agranulositosis. Segera hentikan pemakaian dan periksakan diri ke dokter jika muncul demam mendadak, nyeri tenggorokan, atau sariawan/luka di mulut, karena ini bisa menjadi tanda awal gangguan sumsum tulang. Waspadai pula reaksi alergi berat hingga syok anafilaksis (sesak napas, bengkak wajah atau lidah, ruam luas) yang memerlukan pertolongan darurat. Efek lain yang mungkin terjadi meliputi penurunan tekanan darah, pusing, mual, dan iritasi lambung. Pada pemakaian panjang, kandungan vitamin B6 dosis tinggi justru dapat menimbulkan neuropati perifer berupa kesemutan atau baal. Karena itu, jangan memperpanjang pemakaian atas inisiatif sendiri — ikuti petunjuk pada kemasan atau resep dokter.

Referensi Medis

  1. 1. Cek BPOM — Verifikasi nomor izin edar produk obat
  2. 2. PIONAS BPOM — Pusat Informasi Obat Nasional
  3. 3. KlikDokter — Biropyron (komposisi, golongan obat keras, indikasi analgesik)

Disclaimer medis: Informasi obat ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi dokter atau apoteker. Selalu baca aturan pakai di kemasan dan ikuti anjuran tenaga medis berlisensi. Jangan menghentikan obat resep tanpa konsultasi.