Lisinopril
ACE inhibitor sekali sehari untuk hipertensi, gagal jantung, dan proteksi ginjal pada diabetes. Onset 1 jam, durasi 24 jam — kepatuhan lebih baik dari captopril 3x/hari. Lini pertama hipertensi pada pasien dengan diabetes, proteinuria, atau pasca infark miokard.
- Nama generik
- Lisinopril
- Nama dagang
- Tensinop, Noperten, Interpril, Linoxal, Zestril
Indikasi (Untuk apa)
- Hipertensi (esensial dan sekunder) — lini pertama, terutama pada pasien diabetes atau proteinuria
- Gagal jantung kronis dengan reduced ejection fraction (HFrEF) — menurunkan mortalitas
- Pasca infark miokard akut dengan disfungsi ventrikel kiri — dimulai dalam 24 jam pasca MI
- Nefropati diabetik (proteinuria) — proteksi ginjal
- Penyakit ginjal kronis dengan proteinuria — memperlambat progresi
- Migrain (off-label) — profilaksis migrain kronis
Dosis
Efek Samping
- Batuk kering persisten (5-20% pasien, mekanisme bradikinin)
- Pusing dan hipotensi terutama pada dosis pertama (first-dose hypotension)
- Sakit kepala
- Lelah (fatigue)
- Hiperkalemia (terutama dengan kalium tambahan atau diuretik hemat kalium)
- Peningkatan kreatinin dan urea (10-20% awal, biasanya stabil; >30% peningkatan perlu evaluasi)
- Angioedema (BAHAYA — bengkak wajah/bibir/lidah/laring, 0.1-0.7%) — STOP obat, IGD
- Ruam kulit
- Penurunan rasa (dysgeusia)
- Disfungsi ginjal akut pada pasien dengan stenosis arteri renal bilateral
- Anemia ringan, neutropenia (jarang)
- Disfungsi ereksi (jarang)
Kontraindikasi (Tidak boleh untuk)
- Riwayat angioedema dengan ACE inhibitor sebelumnya
- Hipersensitivitas terhadap ACE inhibitor
- Kehamilan (kategori D — risiko malformasi janin trimester 1, oligohidramnion-displasia ginjal-pulmonal trimester 2-3)
- Stenosis arteri renal bilateral atau pada ginjal soliter
- Penggunaan bersama sacubitril-valsartan (entresto) — interval 36 jam
- Penggunaan bersama aliskiren pada pasien diabetes atau GFR <60
Interaksi dengan Obat Lain
- Diuretik hemat kalium (spironolakton, eplerenon, amilorid) — risiko hiperkalemia
- Suplemen kalium dan pengganti garam mengandung KCl — hiperkalemia
- NSAID (ibuprofen, naproksen, asam mefenamat, ketoprofen) — kurangi efek antihipertensi, risiko gagal ginjal akut, terutama pada lansia atau dehidrasi
- Lithium — peningkatan kadar lithium → toksisitas
- ARB (losartan, valsartan, telmisartan) — kombinasi tidak direkomendasikan rutin (risiko hiperkalemia, hipotensi, gagal ginjal)
- Aliskiren — kontraindikasi pada diabetes atau GFR <60
- Sacubitril-valsartan — interval 36 jam
- Trimethoprim (Bactrim) — hiperkalemia
- Insulin atau antidiabetes oral — peningkatan sensitivitas insulin, monitor hipoglikemia
Peringatan Penting
- KEHAMILAN: KONTRAINDIKASI MUTLAK trimester 2-3, hindari trimester 1 jika memungkinkan
- Pantau elektrolit (kalium, natrium) dan fungsi ginjal (kreatinin, BUN) 1-2 minggu pasca mulai, lalu rutin tiap 3-6 bulan
- Berikan dosis pertama saat tidur atau berbaring untuk hindari first-dose hypotension
- Pasien volume-depleted (dehidrasi, diuretik dosis tinggi): koreksi dulu sebelum mulai
- STOP segera dan IGD jika ada angioedema (bengkak bibir/lidah/laring/wajah)
- Hentikan saat dehidrasi berat, diare, muntah, atau sebelum operasi mayor (risiko hipotensi)
- Batuk persisten yang mengganggu: switch ke ARB (losartan, valsartan, telmisartan)
- Pada gagal jantung: mulai dengan dosis sangat rendah dan titrasi perlahan
- Vaksinasi tidak terpengaruh
- Monitor tanda hiperkalemia: lemas otot, palpitasi, mual
Kategori Ibu Hamil (FDA)
Estimasi Harga
Generik 5 mg: Rp 500-1.500/tablet (strip 10 tab: Rp 5.000-15.000). Generik 10 mg: Rp 700-2.000/tablet. Generik 20 mg: Rp 1.000-3.000/tablet. Tensinop 10 mg: Rp 2.500-5.000/tablet. Noperten 10 mg: Rp 2.000-4.000/tablet. Interpril 10 mg: Rp 2.500-5.000/tablet. Zestril 10 mg (import): Rp 4.000-10.000/tablet. Cover BPJS penuh untuk generik dan beberapa merek (Tensinop, Noperten).
Pertanyaan Umum
Lisinopril vs captopril, mana yang lebih baik?
Keduanya ACE inhibitor dengan efek setara untuk hipertensi dan gagal jantung. PERBEDAAN UTAMA: (1) FREKUENSI DOSIS: Lisinopril 1x/hari (durasi 24 jam) vs Captopril 3x/hari (durasi 6-8 jam) — Lisinopril memberikan KEPATUHAN JAUH LEBIH BAIK dan kontrol tensi lebih stabil sepanjang hari. (2) PENGARUH MAKANAN: Lisinopril TIDAK terpengaruh makanan, bisa minum kapan saja. Captopril harus 1 jam sebelum atau 2 jam sesudah makan (kalau tidak, absorpsi turun 30-40%). (3) METABOLISME: Lisinopril tidak dimetabolisme hati, langsung diekskresi ginjal — bagus untuk pasien penyakit hati. Captopril dimetabolisme hati. (4) HARGA: Captopril lebih murah, tapi lisinopril generik juga sudah terjangkau. (5) INDIKASI KHUSUS: Captopril sering jadi pilihan saat butuh onset sangat cepat (krisis hipertensi sublingual — meski tidak optimal). REKOMENDASI: LISINOPRIL lebih disukai untuk terapi jangka panjang karena kepatuhan, kestabilan, dan tidak terpengaruh makanan. CAPTOPRIL masih relevan untuk pasien yang sudah toleran atau di klinik dengan formularium terbatas. Untuk efek samping mirip (batuk, hiperkalemia, angioedema).
Apakah harus berhenti lisinopril jika fungsi ginjal saya menurun?
TIDAK SELALU. Peningkatan kreatinin RINGAN (10-30%) pasca mulai ACE inhibitor adalah HAL NORMAL dan menunjukkan obat BEKERJA dengan mengurangi tekanan intraglomerular (memberi proteksi jangka panjang). Ini biasanya stabil dalam 2-4 minggu. KAPAN HARUS WASPADA: (1) Peningkatan kreatinin >30% dari baseline → KURANGI DOSIS atau hentikan sementara, evaluasi penyebab (dehidrasi, NSAID concomitant, stenosis arteri renal), (2) GFR turun <30 mL/min/1.73m²: pertimbangkan kurangi dosis, lanjutkan jika manfaat > risiko (terutama dengan proteinuria atau gagal jantung), (3) Hiperkalemia berat (K+ >5.5 mEq/L): cek diet, suplemen K, obat lain (diuretik hemat K, NSAID), kurangi dosis atau STOP, (4) GFR <15 atau dialisis: ACE inhibitor masih bisa dipakai tetapi dengan dosis sangat rendah dan monitoring ketat. PADA PROTEINURIA DIABETES: lanjutkan ACE inhibitor MESKIPUN kreatinin sedikit naik — proteksi jangka panjang sangat berharga (penundaan ESRD). PADA STENOSIS ARTERI RENAL BILATERAL: KONTRAINDIKASI — ACE inhibitor dapat sebabkan gagal ginjal akut. Konsultasi NEFROLOG jika ada pertanyaan tentang dosis pada penyakit ginjal lanjut. JANGAN STOP MENDADAK tanpa konsultasi — risiko hipertensi rebound dan dekompensasi gagal jantung.
Mengapa lisinopril kadang menyebabkan batuk? Apa solusinya?
BATUK KERING adalah efek samping KLAS ACE inhibitor (semua: captopril, lisinopril, ramipril, perindopril, enalapril). Insiden: 5-20% pasien, lebih sering pada WANITA dan ASIA. MEKANISME: ACE menghambat enzim ACE yang juga MEMETABOLISME BRADIKININ → bradikinin menumpuk di saluran napas → iritasi saraf vagal → BATUK KERING persistent. KARAKTERISTIK: kering (tidak ada dahak), tidak responsif terhadap antitusif biasa, sering memburuk saat tidur. ONSET: bisa dari hari pertama sampai berbulan-bulan setelah mulai. SOLUSI: (1) PASTIKAN ETIOLOGI: bukan dari infeksi saluran napas, asma, GERD, atau merokok, (2) JANGAN STOP MENDADAK — konsultasi dokter dulu, (3) JIKA BATUK RINGAN: lanjutkan jika tensi terkontrol baik (toleransi mungkin meningkat), (4) JIKA BATUK MENGGANGGU: SWITCH KE ARB (LOSARTAN, VALSARTAN, TELMISARTAN, CANDESARTAN) — ARB memberikan efek antihipertensi setara TANPA risiko batuk (insiden <5%). ARB tidak menumpuk bradikinin karena mekanisme berbeda (memblokir reseptor angiotensin II langsung). (5) WAKTU PENYESUAIAN: setelah ganti ke ARB, batuk hilang dalam 1-4 minggu. PERINGATAN: pasien yang sudah pernah angioedema dengan ACE inhibitor TIDAK BOLEH switch ke ARB tanpa diskusi (risiko cross-reactivity 5-10%). Untuk batuk ringan tanpa angioedema, switch ARB aman. Diskusikan dengan dokter untuk pilih ARB yang sesuai.
Bolehkah lisinopril dikombinasi dengan amlodipine atau diuretik?
YA, kombinasi ACE inhibitor dengan amlodipine atau diuretik adalah PILIHAN UTAMA untuk kontrol hipertensi yang tidak tercapai dengan monoterapi. (1) LISINOPRIL + AMLODIPINE: kombinasi favorit. Mekanisme komplementer (ACE inhibitor mengurangi vasokonstriksi via angiotensin, CCB mengurangi vasokonstriksi via kalsium). Studi ACCOMPLISH menunjukkan kombinasi ini lebih efektif kurangi event kardiovaskular dibanding ACE inhibitor + diuretik. Bonus: amlodipine sering menyebabkan edema kaki — ACE inhibitor MENGURANGI edema ini. Tersedia kombinasi fixed-dose: Lisinopril/Amlodipine 10/5 mg, 20/5 mg, 20/10 mg. (2) LISINOPRIL + HIDROKLOROTIAZIDE (HCT): klasik untuk hipertensi sedang-berat. Diuretik mengurangi volume darah, ACE inhibitor relax pembuluh. Tersedia fixed-dose Lisinopril/HCT 10/12.5, 20/12.5, 20/25 mg. WASPADA: hiperkalemia jika diuretik hemat K (spironolakton) bukan thiazide, (3) LISINOPRIL + INDAPAMIDE: alternatif diuretik dengan profil lebih baik untuk efek metabolik, (4) TRIPLE COMBINATION (jika perlu): Lisinopril + Amlodipine + HCT atau Lisinopril + Amlodipine + Spironolakton (untuk hipertensi resisten dengan hiperaldosteronisme). DIHINDARI: (1) LISINOPRIL + ARB (losartan, valsartan): tidak direkomendasikan rutin — risiko hiperkalemia, hipotensi, gagal ginjal. Hanya pada kasus khusus dengan monitoring ketat. (2) LISINOPRIL + ALISKIREN: KONTRAINDIKASI pada diabetes. (3) LISINOPRIL + SPIRONOLAKTON dosis tinggi tanpa monitoring K: hiperkalemia. KONSULTASI DOKTER untuk pilih kombinasi yang tepat berdasarkan profil pasien (komorbid, fungsi ginjal, harga, kepatuhan).
Apa yang harus dilakukan jika hamil saat sedang minum lisinopril?
INI ADALAH KEADAAN PENTING. Lisinopril dan SEMUA ACE inhibitor SERTA ARB MUTLAK KONTRAINDIKASI dalam kehamilan, terutama TRIMESTER 2 dan 3, karena: (1) TRIMESTER 1 (minggu 1-12): risiko malformasi kardiovaskular dan SSP janin (bukti dari studi epidemiologi besar), (2) TRIMESTER 2 (minggu 13-26): risiko OLIGOHIDRAMNION (cairan ketuban berkurang) → hipoplasia paru janin, displasia tulang wajah dan tengkorak, kontraktur anggota gerak, (3) TRIMESTER 3 (minggu 27+): GAGAL GINJAL JANIN, oligohidramnion berat, hipotensi neonatal, gagal ginjal neonatal, KEMATIAN JANIN/NEONATAL. LANGKAH JIKA HAMIL DAN MINUM LISINOPRIL: (1) JANGAN PANIK — banyak wanita yang terpajan trimester 1 melahirkan bayi sehat, tapi konsultasi dokter SEGERA (1-2 hari, bukan minggu), (2) JANGAN STOP MENDADAK SENDIRIAN tanpa obat ganti — hipertensi tidak terkontrol juga sangat berbahaya bagi ibu dan janin (preeklampsia, stroke), (3) HUBUNGI Sp.PD/Sp.JP DAN Sp.OG untuk SWITCH OBAT dalam 24-48 jam, (4) PILIHAN ANTIHIPERTENSI AMAN KEHAMILAN: METHYLDOPA (lini pertama, paling banyak data keamanan, semua trimester), LABETALOL (beta-blocker selektif, lini pertama atau kedua), NIFEDIPINE LONG-ACTING (CCB, terutama untuk hipertensi berat), HIDRALAZINE (alternatif), (5) DIHINDARI dalam kehamilan: ACE inhibitor, ARB, ALISKIREN, ATENOLOL (IUGR), DIURETIK (kecuali ada indikasi khusus seperti edema paru, dengan hati-hati). PENCEGAHAN: WANITA USIA SUBUR yang minum ACE inhibitor harus pakai kontrasepsi EFEKTIF (pil KB, IUD, atau kondom konsisten). BERHENTI lisinopril sebelum mencoba hamil — switch ke obat aman dahulu. JIKA HAMIL TIDAK SENGAJA: ultrasound detail trimester 2 (anatomi janin) WAJIB untuk skrining malformasi. Konsultasi feto-maternal untuk evaluasi risiko-manfaat. JANGAN MENYUSUI saat masih minum lisinopril (kadar ASI rendah tapi kapcetiry lebih aman: enalapril atau captopril).
Tools kesehatan terkait
Coba kalkulator gratis yang relevan dengan topik ini.
Referensi Medis
Disclaimer medis: Informasi obat ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi dokter atau apoteker. Selalu baca aturan pakai di kemasan dan ikuti anjuran tenaga medis berlisensi. Jangan menghentikan obat resep tanpa konsultasi.