Lewati ke konten
Antikoagulan / Pengencer DarahResep dokter

Rivaroxaban

Rivaroxaban adalah **antikoagulan oral generasi baru (DOAC, penghambat faktor Xa)** untuk mencegah dan mengobati **gumpalan darah**. Umumnya **tidak perlu cek INR rutin**, tetapi **tetap berisiko perdarahan** dan **tidak boleh dihentikan mendadak** tanpa anjuran dokter.

Nama generik
Rivaroxaban
Nama dagang
Xarelto
Disusun Tim Redaksi SehatkuDiperbarui 5 Juni 2026

Indikasi (Untuk apa)

  • Pencegahan stroke dan emboli pada fibrilasi atrium (gangguan irama jantung)
  • Pengobatan trombosis vena dalam (DVT) dan emboli paru serta pencegahan kekambuhannya
  • Pencegahan terbentuknya gumpalan darah setelah operasi penggantian sendi besar (panggul atau lutut)

Dosis

Dewasa
Ditentukan dokter sesuai indikasi. Dosis tertentu (misalnya 15-20 mg) harus diminum bersama makanan agar terserap baik. Minum teratur pada jam yang sama setiap hari; jangan mengubah dosis sendiri.
Anak
Penggunaan pada anak hanya atas keputusan dan pengawasan dokter spesialis.
Lansia
Perlu kehati-hatian; dokter dapat menyesuaikan dosis terutama bila ada gangguan fungsi ginjal.

Efek Samping

  • Perdarahan (efek samping utama): mimisan, gusi berdarah, memar mudah, atau haid lebih banyak
  • Memar luas, BAB hitam seperti aspal, kencing berwarna merah/cokelat
  • Mual, nyeri perut, atau gangguan pencernaan ringan
  • Pusing atau merasa lemas

Kontraindikasi (Tidak boleh untuk)

  • Riwayat alergi rivaroxaban
  • Perdarahan aktif yang sedang berlangsung atau risiko perdarahan sangat tinggi
  • Gangguan hati berat disertai gangguan pembekuan darah
  • Tidak dianjurkan pada kehamilan dan menyusui

Interaksi dengan Obat Lain

  • Beberapa obat antijamur azol tertentu (misalnya ketoconazole) dapat meningkatkan kadar dan risiko perdarahan
  • Sebagian obat HIV dapat memengaruhi kadar rivaroxaban
  • Sebaiknya tidak digabung dengan obat pereda nyeri NSAID (seperti ibuprofen, asam mefenamat) atau pengencer darah lain tanpa anjuran dokter, karena menambah risiko perdarahan

Peringatan Penting

  • JANGAN berhenti minum secara mendadak tanpa anjuran dokter — berhenti tiba-tiba meningkatkan risiko gumpalan darah dan stroke.
  • Keunggulan dibanding warfarin: umumnya TIDAK perlu cek INR rutin dan lebih sedikit pantangan makanan. Namun ini bukan berarti tanpa risiko.
  • DARURAT 119/IGD: perdarahan yang sulit berhenti, memar sangat luas, BAB hitam, muntah/batuk darah, kencing merah, nyeri kepala hebat mendadak, atau tanda stroke (wajah mencong, bicara pelo, lemah sebelah).
  • Beri tahu dokter, dokter gigi, dan apoteker bahwa Anda memakai rivaroxaban sebelum tindakan operasi atau cabut gigi.
  • Perlu kehati-hatian dan kemungkinan penyesuaian dosis pada gangguan ginjal; lakukan kontrol sesuai jadwal dokter.

Kategori Ibu Hamil (FDA)

Kategori C - hati-hati

Estimasi Harga

Bervariasi antar apotek dan kekuatan dosis; tanyakan langsung ke apotek atau dokter.

Pertanyaan Umum

Apa bedanya rivaroxaban dengan warfarin?

Rivaroxaban termasuk DOAC (penghambat faktor Xa) sehingga umumnya tidak perlu cek INR rutin dan lebih sedikit pantangan makanan dibanding warfarin. Keduanya sama-sama mengencerkan darah dan berisiko perdarahan. Pemilihan obat yang tepat untuk Anda ditentukan oleh dokter.

Kenapa tidak boleh berhenti minum secara mendadak?

Karena berhenti tiba-tiba dapat membuat darah kembali mudah menggumpal sehingga meningkatkan risiko gumpalan dan stroke. Jika ada efek samping atau rencana operasi, jangan hentikan sendiri — bicarakan dulu dengan dokter Anda.

Apakah rivaroxaban tetap bisa menyebabkan perdarahan?

Ya. Meski tidak perlu cek INR rutin, rivaroxaban tetap berisiko menyebabkan perdarahan. Kenali tandanya seperti memar luas, BAB hitam, kencing merah, atau perdarahan yang sulit berhenti, dan segera ke dokter atau IGD (119) bila muncul.

Tools kesehatan terkait

Coba kalkulator gratis yang relevan dengan topik ini.

Referensi Medis

  1. 1. BPOM RI - Cek Produk Obat
  2. 2. Kemenkes RI
  3. 3. Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (InaHeart)

Disclaimer medis: Informasi obat ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi dokter atau apoteker. Selalu baca aturan pakai di kemasan dan ikuti anjuran tenaga medis berlisensi. Jangan menghentikan obat resep tanpa konsultasi.