Tramadol
Analgesik opioid lemah-sedang untuk nyeri sedang-berat yang tidak respons paracetamol/NSAID. Bekerja ganda: agonis reseptor μ-opioid (lemah) + hambat reuptake serotonin & norepinefrin. Termasuk obat keras golongan G (psikotropik) di Indonesia — WAJIB resep dokter, risiko ketergantungan dan disalahgunakan.
- Nama generik
- Tramadol HCl
- Nama dagang
- Tramal, Dolana, Tradosik, Bellatram, Zaldiar (kombinasi paracetamol)
Indikasi (Untuk apa)
- Nyeri sedang sampai berat yang tidak respons paracetamol atau NSAID
- Nyeri pasca operasi (post-operative pain)
- Nyeri akibat kanker (cancer pain) — dosis disesuaikan tahap WHO analgesic ladder
- Nyeri kronis muskuloskeletal: osteoartritis berat, low back pain kronis
- Nyeri neuropatik (diabetik neuropathy, postherpetik neuralgia) — alternatif jika obat lini pertama tidak efektif
- Nyeri akibat trauma atau fraktur
- Nyeri pasca persalinan (caesarean section)
- Nyeri kolik renal atau bilier (sebagai adjuvant)
Dosis
Efek Samping
- Sangat sering: mual, muntah, pusing, mengantuk (drowsiness), sakit kepala (10-30%)
- Konstipasi (efek opioid klasik)
- Mulut kering, anoreksia
- Keringat berlebih (diaphoresis), kemerahan wajah
- Insomnia atau gangguan tidur
- Hipotensi postural — pusing saat berdiri
- Tremor, kebingungan, halusinasi (terutama lansia)
- Reaksi alergi: ruam kulit, gatal, urtikaria
- Sindrom serotonin (jarang tapi serius): agitasi, takikardia, hipertermia, kejang — jika kombinasi dengan SSRI/SNRI/MAOI
- Depresi napas (terutama dosis tinggi, metabolizer ultra-rapid CYP2D6, kombinasi opioid lain)
- Kejang (terutama dosis >400 mg/hari atau pasien epilepsi)
- Ketergantungan fisik dan psikologis pada pemakaian jangka panjang
- Gejala putus obat (withdrawal syndrome): kecemasan, berkeringat, agitasi, nyeri otot, insomnia
- Hiponatremia (SIADH) jarang tetapi dilaporkan
- Hipoglikemia pada pasien diabetes (jarang)
Kontraindikasi (Tidak boleh untuk)
- Hipersensitivitas terhadap tramadol atau opioid
- Intoksikasi akut alkohol, obat tidur, analgesik opioid, atau psikotropik lain
- Penggunaan bersamaan dengan MAOI atau dalam 14 hari setelah berhenti MAOI
- Epilepsi yang tidak terkontrol
- Depresi napas berat
- Hipertensi intrakranial atau cedera kepala berat
- Anak <12 tahun (kontraindikasi FDA)
- Anak <18 tahun pasca tonsilektomi atau adenoidektomi
- Ibu menyusui (masuk ASI, risiko depresi napas bayi)
- Gagal hati berat (Child-Pugh C)
- Gagal ginjal berat (eGFR <30 mL/menit) — kurangi dosis dan perpanjang interval
Interaksi dengan Obat Lain
- SSRI (sertraline, fluoxetine, paroxetine, escitalopram) — RISIKO SINDROM SEROTONIN (hindari atau monitor ketat)
- SNRI (venlafaxine, duloxetine) — risiko sindrom serotonin
- MAOI (selegiline, moclobemide) — kontraindikasi mutlak (risiko hipertensi krisis + sindrom serotonin)
- Trisiklik antidepresan (amitriptilin, imipramin) — risiko sindrom serotonin + kejang
- Antipsikotik (haloperidol, risperidon) — turunkan ambang kejang
- Bupropion — turunkan ambang kejang signifikan
- Karbamazepin — menurunkan kadar tramadol (induksi CYP3A4), kurangi efek analgesik
- Warfarin — meningkatkan INR (risiko perdarahan), monitor ketat
- Digoksin — meningkatkan kadar digoksin (jarang dilaporkan)
- Benzodiazepin (diazepam, alprazolam) — efek sedasi aditif, risiko depresi napas
- Alkohol — efek sedasi aditif, JANGAN kombinasi
- Opioid lain (morfin, kodein, oxycodone) — risiko depresi napas berat
- Quinidine — meningkatkan kadar tramadol (inhibisi CYP2D6) tapi kurangi metabolit aktif
- Linezolid — risiko sindrom serotonin
Peringatan Penting
- OBAT KERAS golongan G (psikotropik) — WAJIB resep dokter; tidak dijual bebas di Indonesia
- Risiko KETERGANTUNGAN fisik dan psikologis pada pemakaian >2-4 minggu — gunakan durasi sependek mungkin
- JANGAN hentikan mendadak setelah pemakaian >7 hari — taper dosis bertahap untuk hindari withdrawal
- Risiko KEJANG meningkat pada: dosis >400 mg/hari, epilepsi, riwayat kejang, kombinasi obat penurun ambang kejang
- JANGAN minum bersama alkohol, benzodiazepin, atau opioid lain — risiko depresi napas berat / kematian
- Metabolizer ultra-rapid CYP2D6 (~5% populasi) menghasilkan terlalu banyak morfin aktif — risiko depresi napas
- Sindrom serotonin: waspada kombinasi dengan antidepresan; gejala agitasi, demam, tremor, takikardia
- JANGAN nyetir atau operasikan mesin berat — efek mengantuk + reaksi lambat
- Lansia: tingkatkan risiko jatuh + fraktur akibat pusing / hipotensi postural
- Kehamilan: kategori C — gunakan hanya jika manfaat > risiko; trimester 3 hindari (depresi napas + withdrawal pada bayi baru lahir)
- Menyusui: KONTRAINDIKASI — masuk ASI dalam jumlah signifikan
- Riwayat penyalahgunaan zat: gunakan dengan hati-hati ekstrim
- Simpan jauh dari anak-anak dan tempat yang aman (risiko intoksikasi atau penyalahgunaan)
- Buang sisa obat yang tidak terpakai ke apotek (drug take-back program)
Kategori Ibu Hamil (FDA)
Estimasi Harga
Generik 50 mg: Rp 5.000-12.000/tablet. Tramal 50 mg: Rp 15.000-25.000/tablet. Dolana 50 mg: Rp 8.000-18.000/tablet. Bentuk lepas lambat (SR 100 mg): Rp 25.000-45.000/tablet. Bentuk injeksi (Tramal injection 50 mg): Rp 25.000-50.000/ampul. Zaldiar (tramadol 37.5 mg + paracetamol 325 mg): Rp 8.000-18.000/tablet. BPJS umumnya cover tramadol generik di RS dengan indikasi medis.
Pertanyaan Umum
Apakah tramadol membuat ketagihan?
YA, tramadol memiliki risiko ketergantungan fisik dan psikologis, walaupun lebih rendah dari opioid kuat (morfin, oxycodone). BPOM Indonesia mengklasifikasinya sebagai psikotropika golongan IV (G) sejak 2017. Risiko meningkat pada: (1) pemakaian >2-4 minggu berturut-turut, (2) dosis tinggi >400 mg/hari, (3) riwayat penyalahgunaan zat, (4) penyakit jiwa tidak terkontrol. Gejala ketergantungan: kebutuhan dosis lebih tinggi untuk efek sama (toleransi), gejala putus obat saat tidak minum (withdrawal: cemas, gemetar, berkeringat, nyeri tubuh). PENTING: gunakan durasi sependek mungkin, jangan beli dari sumber ilegal/online tanpa resep, dan jangan hentikan mendadak setelah pemakaian >1 minggu — taper bertahap di bawah pengawasan dokter.
Bedanya tramadol vs paracetamol dan ibuprofen untuk nyeri?
Mekanisme dan kekuatan berbeda. PARACETAMOL: analgesik ringan-sedang via inhibisi prostaglandin sentral, sangat aman, untuk nyeri ringan (dosis 500-1000 mg). IBUPROFEN: NSAID, analgesik + antiinflamasi via inhibisi COX, untuk nyeri ringan-sedang dengan komponen inflamasi (dosis 200-400 mg). TRAMADOL: opioid lemah-sedang, untuk nyeri sedang-berat (pasca operasi, kanker), mekanisme opioid + serotonergic. Aturan WHO analgesic ladder: STEP 1 (paracetamol ± NSAID) → STEP 2 (opioid lemah + paracetamol/NSAID, tramadol di sini) → STEP 3 (opioid kuat seperti morfin). JANGAN langsung pakai tramadol untuk nyeri ringan/sakit kepala biasa; mulai dari paracetamol. Tramadol HANYA dengan resep dokter setelah evaluasi.
Apa yang harus dilakukan jika lupa minum tramadol?
Jika ingat dalam beberapa jam dari jadwal: minum segera dosis yang terlewat, lalu lanjutkan jadwal normal. Jika sudah mendekati dosis berikutnya: SKIP dosis yang terlewat, jangan double dose. JANGAN minum 2 dosis sekaligus untuk mengganti yang terlewat — risiko overdosis, depresi napas, kejang. Untuk pasien dengan nyeri kronis yang ketat jadwal (PRN — pro re nata sesuai kebutuhan), nyeri yang muncul dapat diatasi dengan dosis biasa saat butuh. Jika sering lupa: pakai alarm/pengingat obat atau pillbox harian. Tramadol bentuk lepas lambat (SR/ER) tidak boleh dihancurkan, dikunyah, atau dibelah — telan utuh dengan air.
Apakah tramadol aman untuk ibu hamil?
Kategori C — gunakan HANYA jika manfaat > risiko, atas konsultasi dokter. Risiko pada janin: (1) menembus plasenta → bayi baru lahir dapat mengalami sindrom putus obat (Neonatal Abstinence Syndrome) jika ibu pakai jangka panjang menjelang persalinan, (2) trimester 3: risiko depresi napas bayi saat lahir, (3) data jangka panjang masih terbatas. PILIHAN AMAN untuk nyeri saat hamil: PARACETAMOL (kategori B) lini pertama. NSAID (ibuprofen) boleh trimester 1-2 dengan durasi singkat, hindari trimester 3. MENYUSUI: tramadol KONTRAINDIKASI (masuk ASI signifikan; metabolizer ultra-rapid CYP2D6 dapat menyebabkan depresi napas bayi). Konsultasikan dengan Sp.OG jika butuh analgesik kuat saat hamil/menyusui.
Apa tanda overdosis tramadol dan apa yang harus dilakukan?
Tanda overdosis: mengantuk berat sampai tidak sadar, depresi napas (napas lambat dan dangkal <12x/menit), pupil mengecil (miosis), bibir/jari kebiruan (sianosis), tekanan darah turun, denyut jantung lambat, KEJANG (tramadol unik karena dapat menyebabkan kejang tidak seperti opioid lain), hipotermia. KEJANG bisa terjadi pada dosis hanya sedikit di atas terapi (terutama jika ada faktor risiko: SSRI, antidepresan, epilepsi). PENANGANAN: (1) HUBUNGI 119 atau bawa ke IGD SEGERA, (2) bawa kemasan obat, (3) JANGAN paksa muntah, (4) jika berhenti napas: lakukan CPR. Penanganan medis: Naloxone (antidot opioid) untuk depresi napas — TAPI naloxone tidak mengatasi kejang akibat tramadol. Diazepam IV untuk kejang. Suportif intensif (intubasi, ventilator jika perlu). Pencegahan: ikuti resep dokter, jangan stok berlebih, simpan jauh dari anak.
Tools kesehatan terkait
Coba kalkulator gratis yang relevan dengan topik ini.
Referensi Medis
Disclaimer medis: Informasi obat ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi dokter atau apoteker. Selalu baca aturan pakai di kemasan dan ikuti anjuran tenaga medis berlisensi. Jangan menghentikan obat resep tanpa konsultasi.