Lewati ke konten
Penyakit Umum

Bell's Palsy (Kelumpuhan Wajah Sesisi)

Juga dikenal sebagai: bell palsy, bells palsy, kelumpuhan wajah, wajah mencong, lumpuh wajah sebelah

Kelemahan **mendadak otot wajah satu sisi** akibat gangguan **saraf wajah (saraf ke-7)**. Wajib dibedakan dari **stroke**.

Disusun Tim Redaksi SehatkuDiperbarui 5 Juni 2026
Ilustrasi pemeriksaan wajah
Sehatku.id

Ringkasan

Bell's palsy adalah kelemahan atau kelumpuhan yang mendadak pada otot wajah satu sisi akibat gangguan pada saraf wajah (nervus fasialis / saraf ke-7), yang sering diduga terkait peradangan akibat infeksi virus. Wajah pada sisi yang terkena bisa tampak turun atau mencong, mata sulit menutup, dan senyum menjadi tidak simetris. Yang paling penting, kondisi ini harus dibedakan dari stroke: pada Bell's palsy dahi pada sisi yang terkena ikut lumpuh, sedangkan pada stroke dahi umumnya masih bisa bergerak. Kabar baiknya, sebagian besar pasien membaik dalam beberapa minggu hingga bulan, terlebih bila penanganan dimulai dini.

Gejala

  • Separuh wajah turun atau mencong secara mendadak pada satu sisi
  • Sulit menutup satu mata atau mata terasa kering
  • Sulit tersenyum, mengangkat alis, atau mengerutkan dahi pada sisi yang terkena
  • Makanan atau air liur menetes dari sudut mulut
  • Kadang nyeri di belakang telinga atau perubahan pengecapan
  • Suara terdengar lebih keras di satu telinga (hipersensitif terhadap suara)

Penyebab

  • Diduga terkait peradangan saraf wajah akibat infeksi virus (misalnya virus herpes)
  • Pembengkakan saraf di dalam saluran tulang sempit yang menekan dan mengganggu fungsi saraf
  • Pada banyak kasus penyebab pastinya tidak selalu dapat dipastikan (idiopatik)

Faktor Risiko

  • Sedang hamil, terutama trimester akhir
  • Menderita diabetes atau hipertensi
  • Infeksi saluran napas atas yang baru terjadi (batuk-pilek, flu)
  • Riwayat keluarga pernah mengalami Bell's palsy

Kapan Harus ke Dokter?

  • SEGERA ke IGD bila ragu antara Bell's palsy dan stroke — perlakukan sebagai kemungkinan stroke dahulu
  • Disertai kelemahan lengan/tungkai, bicara pelo, atau dahi masih bisa bergerak (tanda yang mengarah ke stroke)
  • Wajah mencong muncul mendadak — sebaiknya diperiksa dalam 72 jam pertama agar penanganan optimal
  • Mata tidak bisa menutup sehingga terasa perih, merah, atau kabur

Pengobatan

  • Kortikosteroid yang diberikan dini (idealnya dalam 72 jam pertama) untuk mempercepat pemulihan, sesuai resep dokter
  • Lindungi mata yang tidak bisa menutup: tetes/gel air mata buatan di siang hari dan penutup mata saat tidur agar permukaan mata tidak rusak
  • Kadang ditambahkan antivirus pada kasus tertentu atas pertimbangan dokter
  • Fisioterapi wajah dan latihan otot wajah untuk membantu pemulihan fungsi
  • Pemeriksaan oleh dokter untuk menyingkirkan stroke dan penyebab lain

Pencegahan

  • Tidak ada pencegahan pasti karena penyebabnya sering tak diketahui
  • Mengelola diabetes dan tekanan darah dengan baik
  • Menjaga daya tahan tubuh dan istirahat cukup
  • Mengenali gejala sejak dini agar bisa segera mendapat penanganan

Estimasi Biaya

Obat kortikosteroid relatif terjangkau; biaya utama biasanya konsultasi dokter, fisioterapi, dan pemeriksaan untuk menyingkirkan stroke bila diperlukan.

💡 Strategi finansial untuk biaya pengobatan jangka panjang? Cek panduan dana darurat kesehatan di panduankeuangan.id

Pertanyaan Umum

Bagaimana membedakan Bell's palsy dari stroke?

Pada Bell's palsy dahi pada sisi yang terkena ikut lumpuh sehingga tidak bisa mengerutkan dahi. Pada stroke dahi umumnya masih bisa bergerak dan sering ada gejala lain seperti kelemahan lengan/tungkai atau bicara pelo. Bila ragu, anggap sebagai kemungkinan stroke dan segera ke IGD.

Apakah Bell's palsy bisa sembuh?

Ya, sebagian besar pasien membaik dalam beberapa minggu hingga bulan, apalagi bila kortikosteroid diberikan dini. Fisioterapi wajah dapat membantu pemulihan.

Mengapa mata yang tidak bisa menutup perlu dilindungi?

Karena mata yang terbuka terus berisiko kering dan rusak. Gunakan tetes/gel air mata buatan dan penutup mata saat tidur untuk melindunginya.

Referensi Medis

  1. 1. Kemenkes RI
  2. 2. PERDOSSI (Neurologi Indonesia)
  3. 3. CDC

Disclaimer medis: Informasi di halaman ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter. Selalu konsultasikan kondisi kesehatan Anda dengan tenaga medis berlisensi.