Lewati ke konten
Penyakit Umum

Tonsilitis (Radang Amandel)

Juga dikenal sebagai: radang amandel, tonsillitis, amandel bengkak, sakit tenggorokan radang amandel

Peradangan pada tonsil palatina (amandel) yang sering disebabkan infeksi virus atau bakteri. Sangat umum pada anak usia 5-15 tahun. Mayoritas viral dan sembuh sendiri dalam 7-10 hari, tapi tonsilitis Streptokokus grup A membutuhkan antibiotik untuk cegah komplikasi serius (demam reumatik, glomerulonefritis pasca-strepto).

Disusun Tim Redaksi SehatkuDiperbarui 27 Mei 2026
Pemeriksaan tenggorokan untuk diagnosis tonsilitis

Ringkasan

Tonsilitis adalah peradangan pada tonsil palatina — jaringan limfoid berbentuk oval di kanan-kiri tenggorokan yang berfungsi sebagai bagian sistem imun, terutama pada anak. Klasifikasi: (1) AKUT: gejala mendadak, durasi <2 minggu. Sebagian besar viral (Adenovirus, EBV, Coxsackie, rhinovirus); 15-30% bakterial dengan Streptococcus pyogenes (Strep grup A) sebagai patogen utama. (2) REKUREN: ≥7 episode dalam 1 tahun, atau ≥5 episode/tahun dalam 2 tahun berturut-turut, atau ≥3 episode/tahun dalam 3 tahun. (3) KRONIS: gejala persisten >3 bulan dengan kripta tonsil yang berisi debris. Sebagian besar tonsilitis viral SEMBUH SENDIRI dengan suportif. Tonsilitis Strep grup A WAJIB antibiotik (penisilin atau amoksisilin lini pertama) untuk: (1) mempercepat resolusi gejala, (2) mengurangi penularan, (3) mencegah komplikasi suppuratif (abses peritonsil/quinsy, otitis media, sinusitis) dan non-suppuratif (demam reumatik akut → karditis, glomerulonefritis pasca strepto, PANDAS). Tonsilektomi (pengangkatan amandel) dipertimbangkan untuk tonsilitis berulang yang memenuhi kriteria Paradise, abses peritonsil berulang, sleep apnea akibat hipertrofi tonsil, atau kecurigaan keganasan.

Gejala

  • Sakit tenggorokan, terutama saat menelan (odinofagia)
  • Demam, sering >38.5°C pada infeksi bakteri
  • Tonsil tampak merah dan bengkak; sering ada eksudat putih atau kekuningan
  • Pembengkakan kelenjar getah bening leher (limfadenopati servikal anterior), nyeri tekan
  • Bau mulut (halitosis) — terutama bila ada kripta tonsil berisi debris
  • Sulit menelan makanan padat — anak menolak makan
  • Nyeri telinga refleksif (otalgia) — saraf yang sama mempersarafi tonsil dan telinga
  • Suara serak atau berubah seperti "kentang panas di mulut" (muffled voice)
  • Sakit kepala, badan pegal, lemas (gejala sistemik)
  • Mual atau muntah (lebih sering pada anak dengan strep)
  • Ruam scarlatiniform (kemerahan kasar seperti amplas) pada scarlet fever akibat Strep A
  • Tidak ada batuk atau hidung berair → lebih curiga strep (Centor criteria)
  • Mendengkur atau apnea tidur jika tonsil sangat membesar
  • Berat: tidak bisa membuka mulut (trismus), pembengkakan asimetris satu sisi → curiga abses peritonsil

Penyebab

  • VIRAL (70-85% kasus): Adenovirus, Rhinovirus, Influenza, Parainfluenza, Coronavirus, Coxsackievirus (herpangina), Epstein-Barr Virus (mononukleosis), HSV
  • BAKTERI (15-30%): Streptococcus pyogenes (Strep grup A) — paling penting karena risiko komplikasi
  • Bakteri lain (jarang): Streptococcus grup C/G, Arcanobacterium haemolyticum, Mycoplasma pneumoniae, Chlamydia pneumoniae, Fusobacterium necrophorum (Lemierre syndrome), Neisseria gonorrhoeae (orofaringeal), Corynebacterium diphtheriae
  • JAMUR (jarang, terkait imunokompromis): Candida albicans (tonsilitis kandidal)
  • IRITAN NON-INFEKSI: refluks asam, rokok, polutan udara, alergi
  • GABV (Group A Beta-Hemolytic Streptococcus): patogen yang harus dikenali karena indikasi antibiotik mutlak

Faktor Risiko

  • Usia 5-15 tahun — puncak kejadian
  • Paparan ke anak-anak (sekolah, daycare, saudara) — penularan droplet
  • Daya tahan tubuh menurun: kurang tidur, stres, nutrisi buruk
  • Riwayat tonsilitis berulang sebelumnya
  • Imunokompromis: HIV, transplantasi, kemoterapi
  • Diabetes tidak terkontrol
  • Perokok atau perokok pasif
  • Polusi udara (PM2.5 tinggi)
  • Refluks asam (GERD) kronis — iritasi tenggorokan berulang
  • Alergi kronik (rinitis alergi)
  • Cuaca dingin atau pancaroba (musim peningkatan ISPA)

Kapan Harus ke Dokter?

  • Demam >38.5°C disertai sakit tenggorokan berat → evaluasi untuk strep test
  • Sakit tenggorokan >48 jam tanpa membaik
  • Tidak bisa menelan air liur sendiri (drooling) — emergency, kemungkinan abses peritonsil atau epiglotitis
  • Sulit membuka mulut (trismus) — curiga abses peritonsil → IGD
  • Pembengkakan asimetris pada salah satu sisi tonsil → abses peritonsil (quinsy)
  • Pembesaran kelenjar getah bening leher progresif
  • Suara teredam atau perubahan suara seperti tertahan
  • Sesak napas, stridor, atau retraksi → emergency saluran napas
  • Ruam merah kasar di tubuh + demam → scarlet fever
  • 🚨 Anak rewel berat, tidak mau minum, dehidrasi (mata cekung, tidak buang air kecil 8 jam) → IGD
  • Tonsilitis berulang (>4-5 episode dalam setahun) — diskusikan tonsilektomi
  • Gejala mononukleosis: lelah berat, hepatosplenomegali, demam berkepanjangan → cek EBV
  • Riwayat demam reumatik dalam keluarga → rendah ambang antibiotik

Pengobatan

  • TONSILITIS VIRAL — manajemen suportif (mayoritas kasus):
  • - Istirahat cukup
  • - Hidrasi adekuat: air hangat, sup, jus tanpa asam
  • - Paracetamol 10-15 mg/kg/dosis tiap 4-6 jam ATAU ibuprofen 5-10 mg/kg/dosis tiap 6-8 jam untuk demam dan nyeri
  • - Berkumur air garam hangat (anak >6 tahun)
  • - Permen pelega tenggorokan, lozenges (anak >6 tahun karena risiko tersedak)
  • - Madu 1 sendok teh untuk anak >1 tahun (BUKAN di bawah 1 tahun — risiko botulisme)
  • - Hindari makanan asam, pedas, gorengan, makanan keras
  • - Es krim atau makanan dingin untuk anestesi lokal
  • TONSILITIS STREPTOKOKUS GRUP A — antibiotik wajib:
  • - LINI PERTAMA: Penisilin V oral 500 mg 2-3x/hari selama 10 hari, atau Amoksisilin 50 mg/kg/hari (max 1g) 1x/hari atau dibagi 2x/hari selama 10 hari
  • - Penisilin G benzatin IM dosis tunggal (jika kepatuhan oral diragukan)
  • - Alergi penisilin: Eritromisin, Azitromisin 12 mg/kg/hari 5 hari, atau Klindamisin
  • - Cefadroxil 30 mg/kg/hari 1x atau dibagi 2x sehari
  • - PENTING: tuntaskan 10 hari penuh meski sudah merasa enak untuk cegah komplikasi
  • TONSILITIS BAKTERIAL DENGAN ALERGI PENISILIN: Sefalosporin generasi 1-2 (cefadroxil, cefuroxim), Klindamisin, atau makrolida
  • MONONUKLEOSIS (EBV): suportif saja, JANGAN beri amoksisilin/ampisilin karena akan timbulkan ruam
  • ABSES PERITONSIL: drainase (incision and drainage) + antibiotik IV (ampicillin-sulbactam, klindamisin) + steroid IV
  • STEROID untuk gejala berat: deksametason 0.6 mg/kg dosis tunggal IV/oral dapat kurangi durasi gejala
  • TONSILEKTOMI (operasi pengangkatan amandel) — INDIKASI:
  • - Kriteria Paradise: tonsilitis ≥7 dalam 1 tahun, ≥5 per tahun dalam 2 tahun berturut, atau ≥3 per tahun dalam 3 tahun
  • - Abses peritonsil berulang (≥2 episode)
  • - Sleep apnea obstruktif (OSA) akibat hipertrofi tonsil-adenoid
  • - PANDAS (Pediatric Autoimmune Neuropsychiatric Disorders Associated with Strep)
  • - Curiga keganasan (pembesaran asimetris, ulkus)
  • - Halitosis berat akibat tonsilitis kronis
  • Tonsilektomi tidak menghilangkan semua sakit tenggorokan — peradangan faring tetap mungkin
  • Pasca tonsilektomi: nyeri 7-14 hari, risiko perdarahan 1-5% (lapor dokter jika muntah darah)

Pencegahan

  • Cuci tangan rutin dengan sabun terutama setelah dari sekolah/keramaian
  • Hindari berbagi alat makan/minum dengan orang yang sedang sakit
  • Tutup mulut saat batuk/bersin (etika batuk)
  • Pakai masker saat ada gejala atau di musim ISPA tinggi
  • Pertahankan daya tahan tubuh: tidur cukup, gizi seimbang, olahraga
  • Hindari rokok dan paparan asap rokok (perokok pasif)
  • Kelola alergi dan refluks asam dengan baik
  • Vaksinasi rutin lengkap sesuai jadwal IDAI termasuk influenza tahunan
  • Hindari kontak erat dengan penderita strep aktif dalam 24 jam awal antibiotik
  • Untuk keluarga dengan riwayat demam reumatik: rendah ambang konsultasi dokter saat anak sakit tenggorokan
  • Edukasi anak untuk tidak berbagi botol minum atau alat makan di sekolah
  • Pertahankan kelembaban udara di kamar (humidifier saat udara kering)

Estimasi Biaya

Konsultasi dokter umum / puskesmas: gratis (BPJS) atau Rp 50-200rb (swasta). Konsultasi Sp.A / Sp.THT: Rp 150-500rb. Rapid Strep Test (RADT): Rp 100-300rb (jarang tersedia di Indonesia, lebih sering clinical assessment). Kultur tenggorokan: Rp 100-300rb. Amoksisilin generik untuk 10 hari: Rp 20-50rb. Penisilin V atau cefadroxil: Rp 50-150rb. Konsultasi + obat ringan: Rp 100-500rb. Rawat inap untuk komplikasi (abses peritonsil): Rp 5-30 juta. Drainase abses peritonsil: Rp 3-10 juta. Tonsilektomi: Rp 10-30 juta (swasta), gratis dengan BPJS dan indikasi medis. Pemeriksaan EKG/ASTO untuk skrining demam reumatik pasca strep: Rp 200-500rb. BPJS cover: konsultasi, antibiotik generik, rawat inap dengan komplikasi, tonsilektomi dengan indikasi medis (kriteria Paradise).

💡 Strategi finansial untuk biaya pengobatan jangka panjang? Cek panduan dana darurat kesehatan di panduankeuangan.id

Pertanyaan Umum

Bagaimana membedakan tonsilitis viral dan bakteri (strep)? Kapan butuh antibiotik?

Tidak ada cara 100% akurat tanpa tes laboratorium, tapi ada PETUNJUK KLINIS (CENTOR/McISAAC CRITERIA) — semakin banyak kriteria, semakin curiga strep grup A: (1) Demam >38°C, (2) Tidak ada batuk, (3) Pembengkakan kelenjar getah bening leher anterior nyeri tekan, (4) Eksudat (bercak putih) pada tonsil, (5) Usia 3-14 tahun (+1), 15-44 tahun (0), >45 tahun (−1). Skor 0-1: kemungkinan strep <10%, tidak perlu tes maupun antibiotik. Skor 2-3: 15-35% kemungkinan strep, lakukan Rapid Antigen Detection Test (RADT) jika tersedia. Skor 4-5: 50%+ kemungkinan strep, antibiotik empirik dipertimbangkan. PETUNJUK VIRAL: batuk, hidung berair, mata merah, suara serak, diare, lesi mulut (Coxsackie). Diagnosis pasti: RAPID STREP TEST (sensitivitas 70-90%, spesifisitas 95%+) atau KULTUR TENGGOROKAN (gold standard, hasil 24-48 jam). Di Indonesia, RADT belum widely available — dokter sering andalkan clinical judgment. ANTIBIOTIK WAJIB jika: strep terbukti atau kuat dicurigai (skor McIsaac 4-5), tujuannya BUKAN sekedar mempercepat resolusi (hanya 1 hari lebih cepat) — TAPI MENCEGAH KOMPLIKASI: demam reumatik (insiden masih ada di Indonesia), glomerulonefritis pasca-strepto, abses peritonsil. JANGAN beri antibiotik untuk SETIAP sakit tenggorokan — resistensi antibiotik adalah masalah global. Antibiotik lini pertama: Amoksisilin 50 mg/kg/hari atau Penisilin V 10 hari (TUNTAS — meski sudah enak hari ke-3).

Kapan amandel anak harus diangkat? Bisakah anak hidup normal tanpa amandel?

INDIKASI TONSILEKTOMI berdasarkan kriteria Paradise yang dimodifikasi oleh AAO-HNS (American Academy of Otolaryngology): (1) FREKUENSI tonsilitis: ≥7 episode dalam 1 tahun, ATAU ≥5 episode per tahun dalam 2 tahun berturut, ATAU ≥3 episode per tahun dalam 3 tahun berturut, (2) Tiap episode harus DIDOKUMENTASI dokter dengan minimal salah satu: suhu >38.3°C, eksudat tonsil, kelenjar getah bening leher anterior bengkak, atau kultur strep positif, (3) INDIKASI LAIN: abses peritonsil berulang (≥2 episode), sleep apnea obstruktif anak akibat hipertrofi tonsil (paling sering dengan adenoidektomi: adenotonsilektomi), curiga keganasan (asimetri tonsil progresif, ulkus), PANDAS, halitosis berat dengan tonsillolith, kesulitan menelan kronis. PRO TONSILEKTOMI: kurangi tonsilitis berulang signifikan dalam 1-3 tahun pasca operasi, perbaikan kualitas hidup, hilangnya bau mulut. KONTRA: anestesi umum (risiko 1:10.000 untuk anak sehat), nyeri pasca-op 7-14 hari, risiko perdarahan 1-5% (kebanyakan hari ke-7-10 saat kerak lepas), risiko nyeri/dehidrasi yang butuh rehidrasi IV. APAKAH AMANDEL PENTING? Amandel berfungsi sebagai jaringan limfoid penting di anak-anak, tapi setelah usia 5-10 tahun fungsinya MENURUN — sistem imun lain (BALT, NALT, kelenjar limfe, limpa) kompensasi. Anak tanpa amandel dapat hidup NORMAL — banyak studi tidak temukan peningkatan signifikan infeksi atau penyakit imun pasca tonsilektomi. KEPUTUSAN tonsilektomi: harus dipertimbangkan benefit vs risiko per kasus oleh Sp.THT bersama orangtua.

Apakah madu, vitamin C, atau herbal bisa mengobati tonsilitis?

PEMBEDAAN PENTING: bisakah ini MENGOBATI atau hanya MEMBANTU SUPORTIF? Tonsilitis VIRAL: tidak ada obat antiviral spesifik — pengobatan adalah SUPORTIF. Bahan-bahan berikut TERBUKTI atau MUNGKIN membantu meredakan gejala: (1) MADU — bukti meta-analisis Cochrane: lebih efektif dari plasebo untuk batuk dan sakit tenggorokan anak, mekanisme: antimikrobial mild, soothing, antitussive. Dosis: 1-2 sendok teh pada anak >1 tahun (JANGAN <1 tahun: risiko botulisme infantil), (2) AIR HANGAT DENGAN GARAM (gargle) — kurangi inflamasi, bersihkan eksudat, anak >6 tahun, (3) TEH HANGAT (chamomile, jahe, lemon-honey) — soothing, hidrasi, (4) MAKANAN/MINUMAN DINGIN: es krim, jeli, smoothies — anestesi lokal sederhana, (5) HIDRASI: air, kaldu, jus tanpa asam — kurangi dehidrasi karena nyeri menelan. SAGE LOZENGE: penelitian terbatas tapi mungkin membantu. ECHINACEA, vitamin C, ZINC: bukti efektivitas TIDAK KONSISTEN untuk mengobati tonsilitis (mungkin sedikit kurangi durasi flu, tapi tidak signifikan untuk tonsilitis). VITAMIN C dosis tinggi: TIDAK MENCEGAH tonsilitis dan tidak signifikan mempersingkat durasi. PROBIOTIC: penelitian awal menjanjikan untuk mengurangi tonsilitis berulang anak, tapi bukti masih lemah. UNTUK STREP GRUP A: TIDAK ADA herbal yang bisa GANTIKAN ANTIBIOTIK. Tetap WAJIB antibiotik 10 hari untuk cegah demam reumatik dan glomerulonefritis. JANGAN tunda antibiotik dengan herbal. KOMBINASI YANG MASUK AKAL: madu + hidrasi + paracetamol/ibuprofen untuk gejala + antibiotik (jika strep) — bukan satu menggantikan yang lain. Konsultasi dokter untuk diagnosis tepat.

Anak saya sering tonsilitis — apa yang bisa dilakukan untuk mencegah kambuh?

Anak dengan tonsilitis berulang berisiko: terlewat sekolah, gangguan tidur (akibat OSA hipertrofi tonsil), gangguan tumbuh kembang, komplikasi (terutama jika strep). STRATEGI PENCEGAHAN: (1) HYGIENE: cuci tangan rutin, tidak berbagi botol/alat makan di sekolah, etika batuk, (2) DAYA TAHAN TUBUH: tidur 9-12 jam (anak), gizi seimbang dengan protein, vitamin A/C/D/zinc, olahraga rutin, batasi gula olahan, (3) IDENTIFIKASI PEMICU: rinitis alergi (banyak anak tonsilitis berulang punya alergi - kontrol dengan antihistamin, hindari alergen), GERD/refluks (PPI/H2 blocker, makan tidak telat malam), polusi udara (mask saat AQI buruk, air purifier kamar), (4) VAKSINASI: influenza tahunan, MR, pneumokokus, Hib lengkap, (5) HINDARI ROKOK PASIF: anak perokok pasif 2x lebih sering tonsilitis, (6) KONSULTASI Sp.THT untuk: evaluasi adenoid hipertrofi (sering bersamaan, butuh adenoidektomi), pertimbangan tonsilektomi jika memenuhi kriteria Paradise, evaluasi alergi (skin prick test), (7) PROBIOTIK: penelitian menjanjikan dengan Streptococcus salivarius K12 (Bactoblis, dll) — kurangi tonsilitis berulang anak, diskusikan dengan dokter, (8) PROFILAKSIS ANTIBIOTIK: TIDAK DIREKOMENDASIKAN rutin (resistensi), kecuali untuk profilaksis demam reumatik pasca episode demam reumatik akut (penisilin oral atau injeksi bulanan), (9) AYO RUTIN RAJIN PEMERIKSAAN MEDIS: catat episode tonsilitis (tanggal, gejala, obat) sebagai dokumentasi untuk evaluasi tonsilektomi, (10) JIKA SUDAH MEMENUHI KRITERIA PARADISE: jangan tunda tonsilektomi — kualitas hidup anak penting. Konsultasi Sp.THT untuk keputusan bersama.

Berapa lama tonsilitis sembuh? Kapan boleh kembali sekolah?

DURASI tonsilitis bergantung pada penyebab: (1) VIRAL (mayoritas): gejala memuncak hari 2-4, mulai membaik hari 4-5, sembuh total 7-10 hari. Mononukleosis (EBV): bisa 2-4 minggu lelah berkepanjangan, (2) STREP BAKTERI dengan antibiotik tepat: gejala membaik 24-48 jam pasca antibiotik, demam turun, nyeri tenggorokan berkurang. Tetap TUNTASKAN 10 hari penuh meski sudah enak — cegah komplikasi dan strep carrier state. KEMBALI SEKOLAH: (1) UMUMNYA, ketika DEMAM HILANG (tanpa paracetamol/ibuprofen) selama 24 jam DAN anak merasa cukup baik untuk aktivitas, (2) UNTUK STREP: minimal 24 JAM PASCA antibiotik untuk mengurangi risiko menularkan ke teman sekolah, (3) MONONUKLEOSIS: hindari kontak fisik berat (olahraga kontak) selama 4 minggu karena risiko ruptur limpa. KAPAN HARUS KE DOKTER LAGI: demam tidak turun >48 jam pasca antibiotik (mungkin perlu ganti antibiotik atau evaluasi komplikasi), pembengkakan asimetris satu sisi (curiga abses), sulit menelan air liur, sesak napas. KOMPLIKASI EARLY: abses peritonsil (terutama hari 3-7), otitis media, sinusitis. KOMPLIKASI LATE (2-4 minggu pasca strep): demam reumatik (nyeri sendi berpindah, demam, kelelahan, lesi kulit erythema marginatum), glomerulonefritis pasca strep (urine berwarna gelap, bengkak wajah, hipertensi). RUJUK ke Sp.A/Sp.JP jika ada kecurigaan komplikasi sistemik. WHEN IN DOUBT: konsultasi dokter — jangan tunggu komplikasi berat.

Referensi Medis

  1. 1. IDAI - Ikatan Dokter Anak Indonesia
  2. 2. PERHATI-KL - Perhimpunan Ahli THT-KL Indonesia
  3. 3. IDSA Clinical Practice Guideline - Streptococcal Pharyngitis 2012
  4. 4. NICE Guidelines - Sore Throat (Acute) Antimicrobial Prescribing
  5. 5. AAP - Group A Streptococcal Infections Red Book

Disclaimer medis: Informasi di halaman ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter. Selalu konsultasikan kondisi kesehatan Anda dengan tenaga medis berlisensi.