Lewati ke konten
Diagnostik & Imaging

EEG (Elektroensefalografi)

Pemeriksaan non-invasif untuk merekam aktivitas listrik otak menggunakan elektroda yang ditempel di kulit kepala. Standar emas untuk diagnosis epilepsi, evaluasi gangguan tidur, koma, dan kematian batang otak. Aman, tanpa radiasi, dapat berulang.

Durasi
EEG RUTIN: 60-90 menit total (20-45 menit rekaman, sisanya persiapan dan pelepasan). EEG SLEEP-DEPRIVED: 60-90 menit. EEG TIDUR: 60-90 menit dengan periode tidur. AMBULATORY EEG: 24-72 jam (pasien pulang dengan alat portable). VIDEO EEG MONITORING (VEM) RAWAT INAP: 3-7 hari. CONTINUOUS EEG MONITORING ICU: berhari-hari.
Pemulihan
Tidak ada downtime. Pasien bisa langsung pulang dan kembali aktivitas normal segera. Mungkin perlu keramas untuk membersihkan sisa pasta konduktif dari rambut. EEG sleep-deprived: istirahat di rumah untuk tidur normal kembali — jangan menyetir pulang.
BPJS
Ditanggung
Disusun Tim Redaksi SehatkuDiperbarui 27 Mei 2026

Kapan tindakan ini dilakukan?

  • Diagnosis dan klasifikasi EPILEPSI — termasuk lokasi fokus kejang
  • Evaluasi kejang demam berulang pada anak
  • Pemantauan terapi obat antiepilepsi (AEDs)
  • Diagnosis status epileptikus (kejang berkepanjangan/berulang)
  • Evaluasi penurunan kesadaran tidak jelas (coma cause workup)
  • Konfirmasi MATI BATANG OTAK / brain death (sebagai bagian protokol)
  • Skrining encephalopathy (hepatik, uremic, septic, hipoksik)
  • Evaluasi gangguan tidur: parasomnias, sleep apnea (kombinasi polisomnografi)
  • Investigasi pingsan tidak jelas (sinkop vs kejang)
  • Skrining ensefalitis (terutama herpes simplex encephalitis dengan PLED)
  • Diagnosis Creutzfeldt-Jakob disease (periodic sharp wave complexes)
  • Evaluasi dementia (Alzheimer, Lewy body)
  • Monitoring intraoperatif (carotid endarterectomy, cardiac surgery)
  • ICU monitoring untuk non-convulsive status epilepticus
  • Evaluasi gangguan perkembangan anak (autism spectrum, ADHD — atypical patterns)
  • Pre-surgical evaluation pada epilepsi refrakter (lokalisasi fokus)
  • Skrining ADHD (kontroversial)

Persiapan sebelum prosedur

  1. 1TIDUR cukup atau kurang tidur tergantung instruksi:
  2. 2 - EEG STANDAR: tidur normal, dapat dilakukan kapan saja
  3. 3 - EEG SLEEP-DEPRIVED: kurangi tidur 50% atau total (1 malam tanpa tidur) — meningkatkan sensitivitas deteksi epilepsi
  4. 4 - EEG TIDUR (sleep EEG): justru harus mengantuk
  5. 5Mandi keramas malam sebelumnya dengan SHAMPO BIASA. JANGAN gunakan kondisioner, leave-in, hair spray, gel, minyak rambut, atau styling product hari pemeriksaan
  6. 6Rambut KERING dan BERSIH saat datang
  7. 7Hindari kafein, alkohol, dan rokok 8-12 jam sebelum
  8. 8Makan secukupnya sebelum pemeriksaan — hipoglikemia bisa mempengaruhi hasil
  9. 9Lanjutkan obat rutin SESUAI INSTRUKSI dokter: AEDs biasanya dilanjutkan kecuali ada permintaan khusus untuk withdraw EEG
  10. 10Sedasi: anak <5 tahun atau pasien tidak kooperatif kadang butuh sedasi (chloral hydrate, melatonin)
  11. 11Untuk EEG video monitoring rawat inap: bawa baju ganti, perlengkapan mandi, hiburan (buku, gadget)
  12. 12Wanita: tidak berias rambut (catok, blower) hari pemeriksaan
  13. 13Bawa daftar obat yang sedang diminum
  14. 14Untuk anak: bawa orangtua, makanan/minuman favorit, mainan untuk membuat anak tenang
  15. 15Beri tahu teknisi jika ada implant (pacemaker, deep brain stimulator, cochlear implant — bisa mempengaruhi rekaman)

Langkah prosedur

  1. 1Pasien duduk atau berbaring nyaman di tempat tidur/kursi recliner
  2. 2Teknisi EEG mengukur kepala pasien menggunakan sistem 10-20 INTERNASIONAL untuk menentukan posisi elektroda
  3. 3Kulit kepala dibersihkan dengan abrasive gel atau alcohol untuk mengurangi resistensi listrik
  4. 419-21 ELEKTRODA dipasang menggunakan:
  5. 5 - Pasta konduktif (untuk EEG rutin)
  6. 6 - Cap elektroda (untuk EEG monitoring panjang atau VEM)
  7. 7 - Lem collodion (untuk monitoring rawat inap berhari-hari)
  8. 8Tambahan: elektroda referensi di telinga, elektroda ground, elektroda EOG (mata) untuk filter gerakan mata, elektroda EKG (1-channel untuk artefak jantung)
  9. 9Kabel elektroda terhubung ke amplifier dan komputer EEG
  10. 10Rekaman dimulai — pasien diminta:
  11. 11 - Tetap diam, mata tertutup untuk baseline awal (3-5 menit)
  12. 12 - Buka-tutup mata berkali-kali untuk evaluasi reaktivitas alpha (alpha blocking)
  13. 13 - HYPERVENTILASI: napas dalam dan cepat 3 menit (untuk picu absence seizure atau lainnya) — kontraindikasi pada stroke baru, penyakit jantung berat, kehamilan
  14. 14 - FOTOSTIMULASI: lampu kilat dengan frekuensi 1-30 Hz (picu photic-induced seizures, terutama JME)
  15. 15 - Tidur (untuk EEG tidur) — biasanya pasien diberi waktu untuk tidur
  16. 16Total durasi rekaman: 20-45 menit untuk EEG rutin
  17. 17Setelah selesai, elektroda dilepas, pasta dibersihkan dengan air dan acetone
  18. 18Pasien bisa langsung pulang dan kembali aktivitas normal
  19. 19Untuk MONITORING JANGKA PANJANG (24-72 jam atau lebih): pasien rawat inap dengan kamera video sinkron untuk menangkap kejang
  20. 20Hasil dibaca oleh Sp.S (neurolog) atau Sp.S neurofisiologi klinik dalam 1-7 hari

Pemulihan

Tidak ada downtime. Pasien bisa langsung pulang dan kembali aktivitas normal segera. Mungkin perlu keramas untuk membersihkan sisa pasta konduktif dari rambut. EEG sleep-deprived: istirahat di rumah untuk tidur normal kembali — jangan menyetir pulang.

Risiko & Komplikasi

  • Hampir tidak ada risiko — EEG adalah pemeriksaan AMAN, NON-INVASIF, TANPA RADIASI
  • Iritasi kulit ringan di tempat elektroda (sementara, ruam minor)
  • Reaksi alergi pasta konduktif (sangat jarang)
  • KEJANG DIPICU oleh hyperventilation atau photic stimulation pada pasien epilepsi (TUJUAN diagnostik — siap ditangani tim)
  • Ketidaknyamanan akibat duduk lama, harus diam, atau berbaring dalam posisi tertentu
  • Sakit kepala ringan pasca hyperventilation
  • Untuk anak: kadang gelisah dengan elektroda di kepala — orangtua boleh damping
  • Untuk EEG sleep-deprived: kelelahan dan mengantuk pasca — jangan menyetir
  • Risiko TIDAK SENSITIF: EEG rutin punya sensitivitas 25-50% untuk epilepsi pada rekaman tunggal (perlu prosedur ulang atau sleep-deprived atau ambulatory untuk meningkatkan)
  • Risiko BERLEBIHAN INTERPRETASI: pola normal varian kadang salah disalahartikan sebagai epileptiform — penting dibaca oleh ahli neurofisiologi
  • Tidak ada nyeri
  • Tidak ada efek samping jangka panjang
  • Wanita hamil: AMAN, tidak ada efek terhadap janin

Estimasi Biaya

BPJS Kesehatan menanggung

BPJS: cover dengan rujukan Sp.S/Sp.A dan indikasi medis (epilepsi, kejang, gangguan kesadaran). RS swasta self-pay: EEG RUTIN: Rp 500rb-1.5 juta (termasuk konsultasi neurolog untuk interpretasi). EEG SLEEP-DEPRIVED atau EEG TIDUR: Rp 700rb-2 juta. EEG dengan sedasi anak: Rp 1.5-3 juta. AMBULATORY EEG 24 JAM: Rp 2-5 juta. VIDEO EEG MONITORING (VEM) RAWAT INAP 1-7 HARI: Rp 5-30 juta (tergantung durasi, sering termasuk paket rawat inap). EEG INTRAOPERATIF: termasuk dalam paket operasi. EEG ICU continuous: termasuk dalam biaya ICU. Interpretasi ulang oleh neurolog spesialis: Rp 200-500rb. Klinik spesialis epilepsi (RSCM, RS PIK, dll): tarif lebih tinggi tapi expertise lebih baik untuk kasus kompleks.

BPJS cover dengan rujukan dari Sp.S, Sp.A, atau dokter umum dengan indikasi: kejang, suspek epilepsi, evaluasi penurunan kesadaran, gangguan tidur, evaluasi koma, dll. Center EEG terbaik di Indonesia: RSCM (Comprehensive Epilepsy Program), RS Cipto Mangunkusumo, RS Premier Bintaro, RS Pondok Indah. Untuk evaluasi pre-bedah epilepsi refrakter: butuh paket Video EEG Monitoring + MRI 3T + neuropsikologi + Wada test (sub-spesialis), tersedia di center khusus.

💡 Belum siap secara finansial untuk biaya tindakan ini? Pelajari opsi cicilan medis + dana kesehatan di panduankeuangan.id

Proteksi Kesehatan

Lindungi Keluarga dari Biaya Rumah Sakit yang Tinggi

Asuransi kesehatan Allianz cashless di 1500+ rumah sakit Indonesia. Konsultasikan kebutuhan keluarga Anda dengan agen tersertifikasi, gratis, tanpa kewajiban beli.

✓ Cashless 1500+ RS✓ Klaim cepat✓ Konsultasi gratis
Konsultasi Gratis

Referensi Medis

  1. 1. PERDOSSI - Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia
  2. 2. ILAE - International League Against Epilepsy
  3. 3. ACNS - American Clinical Neurophysiology Society
  4. 4. IFCN - International Federation of Clinical Neurophysiology

Disclaimer medis: Informasi tindakan medis ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter. Keputusan untuk menjalani tindakan harus berdasarkan diskusi mendalam dengan dokter spesialis yang menangani Anda.