Tes Alergi (Skin Prick Test)
Pemeriksaan untuk mengetahui zat pemicu alergi (alergen) dengan menempelkan sedikit ekstrak alergen ke kulit lalu menilai reaksinya.
Kapan tindakan ini dilakukan?
- Mencari pemicu biduran (urtikaria) atau alergi kulit berulang
- Mengevaluasi rinitis alergi (bersin, hidung meler) dan asma alergi
- Curiga alergi makanan tertentu
- Menentukan alergen untuk menghindari pencetus
- Pertimbangan terapi imun (imunoterapi) pada kasus tertentu
Persiapan sebelum prosedur
- 1Hentikan obat antihistamin beberapa hari sebelum tes (sesuai arahan dokter) agar hasil tidak palsu
- 2Beritahu dokter semua obat yang dikonsumsi
- 3Hindari mengoleskan pelembap di lengan pada hari tes
- 4Tes tidak dilakukan saat kulit sedang flare berat atau setelah reaksi alergi berat
Langkah prosedur
- 1Beberapa tetes ekstrak alergen diteteskan di kulit lengan atau punggung
- 2Kulit ditusuk sangat dangkal (tidak sakit/berdarah) agar alergen masuk
- 3Ditunggu sekitar 15-20 menit untuk melihat reaksi
- 4Reaksi positif tampak sebagai bentol kemerahan dan gatal kecil
- 5Dokter mengukur dan mencatat alergen yang bereaksi
Pemulihan
Risiko & Komplikasi
- Gatal dan bentol kecil sementara di area tes
- Reaksi alergi berat (anafilaksis) sangat jarang, sehingga tes dilakukan di fasilitas yang siap menangani
Estimasi Biaya
BPJS: dapat ditanggung dengan rujukan dan indikasi. Swasta: Rp 300.000-1.500.000 tergantung jumlah alergen yang diuji.
Selain skin prick test, ada juga tes darah (IgE spesifik) yang berguna bila pasien tidak bisa menghentikan antihistamin atau kulitnya sedang bermasalah.
💡 Belum siap secara finansial untuk biaya tindakan ini? Pelajari opsi cicilan medis + dana kesehatan di panduankeuangan.id
Lindungi Keluarga dari Biaya Rumah Sakit yang Tinggi
Asuransi kesehatan Allianz cashless di 1500+ rumah sakit Indonesia. Konsultasikan kebutuhan keluarga Anda dengan agen tersertifikasi, gratis, tanpa kewajiban beli.
Referensi Medis
Disclaimer medis: Informasi tindakan medis ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter. Keputusan untuk menjalani tindakan harus berdasarkan diskusi mendalam dengan dokter spesialis yang menangani Anda.