Lewati ke konten
Penyakit

Batuk Rejan (Pertusis): Kenapa Berbahaya bagi Bayi dan Peran Imunisasi DPT

Batuk rejan bisa mengancam nyawa bayi karena henti napas. Pahami gejalanya dan kenapa imunisasi DPT serta cocooning sangat penting.

Tim Redaksi Sehatku
Disusun Tim Redaksi Sehatku8 menit baca6 Juni 2026Diperbarui 6 Juni 2026
Penyakit

Batuk Rejan (Pertusis): Kenapa Berbahaya bagi Bayi dan Peran Imunisasi DPT

Sehatku.id

Banyak orang mengira batuk rejan sekadar batuk yang lama sembuh. Padahal pada bayi, penyakit ini bisa mengancam nyawa. Memahami gejalanya dan cara mencegahnya bisa menyelamatkan bayi di sekitar kita.

Apa itu pertusis?

Pertusis atau batuk rejan adalah infeksi saluran napas yang disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis. Berbeda dari kebanyakan batuk pilek yang dipicu virus, pertusis disebabkan bakteri, sehingga antibiotik berperan dalam pengobatan dan pemutusan rantai penularan.

Penyakit ini sangat menular dan menyebar lewat percikan napas (droplet) saat penderita batuk atau bersin. Dalam bahasa Indonesia, batuk rejan juga dikenal sebagai batuk 100 hari karena gejalanya bisa berlangsung berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.

Ciri khas batuk rejan

Pada awalnya, pertusis menyerupai pilek biasa: hidung meler, demam ringan, dan batuk ringan selama 1-2 minggu. Tahap inilah yang sering membuat orang lengah.

Setelah itu muncul ciri khasnya:

  • Batuk beruntun (paroksismal) tanpa jeda untuk menarik napas, kadang sampai wajah memerah atau membiru.
  • Bunyi tarikan napas melengking "whoop" di akhir serangan batuk, terdengar seperti rejan, terutama pada anak.
  • Muntah setelah serangan batuk (post-tussive vomiting) karena batuk yang sangat kuat.
  • Penderita tampak sangat kelelahan setelah satu episode batuk.

Penting dicatat: pada bayi muda, bunyi "whoop" sering tidak terdengar. Gejala mereka justru bisa berupa henti napas (apnea) atau tubuh membiru tanpa batuk yang khas. Inilah yang membuat pertusis pada bayi sangat berbahaya dan mudah terlewat.

Kenapa sangat berbahaya bagi bayi

Bayi, terutama yang berusia di bawah 6 bulan dan belum menyelesaikan rangkaian imunisasi, adalah kelompok yang paling berisiko mengalami komplikasi berat dan kematian akibat pertusis.

Beberapa alasan utama:

  • Apnea (henti napas). Pada bayi, serangan batuk atau bahkan tanpa batuk khas dapat memicu napas berhenti sejenak. Ini berbahaya karena otak kekurangan oksigen.
  • Pneumonia. Radang paru adalah komplikasi tersering dan penyebab utama kematian akibat pertusis pada bayi.
  • Kejang dan kerusakan otak akibat kekurangan oksigen pada serangan yang berat.
  • Bayi mudah kelelahan, sulit menyusu, dan dehidrasi karena batuk yang melelahkan.

Karena itu, bayi dengan dugaan pertusis sering memerlukan perawatan di rumah sakit untuk pemantauan pernapasan, bahkan di ruang intensif.

Proteksi Kesehatan

Lindungi Keluarga dari Biaya Rumah Sakit yang Tinggi

Asuransi kesehatan Allianz dengan sistem cashless di rumah sakit rekanan Allianz. Konsultasikan kebutuhan keluarga Anda dengan agen tersertifikasi, gratis, tanpa kewajiban beli.

✓ Cashless di RS rekanan✓ Klaim cepat✓ Konsultasi gratis
Konsultasi Gratis

Bagaimana penularannya?

Hal yang sering tidak disadari: bayi biasanya tertular dari orang dewasa atau anak yang lebih besar di rumahnya, seperti orang tua, kakak, atau kakek-nenek.

Pada remaja dan dewasa, kekebalan dari imunisasi masa kecil dapat menurun seiring waktu. Mereka bisa terinfeksi pertusis dengan gejala yang ringan dan menyerupai batuk biasa sehingga tidak menyadari sedang menularkan. Ketika mereka mencium atau menggendong bayi sambil batuk, bakteri dapat berpindah ke bayi yang belum terlindungi.

Inilah yang menjadi dasar mengapa pencegahan tidak cukup hanya pada bayi, tetapi juga pada orang-orang di sekelilingnya.

Pengobatan dengan antibiotik

Karena penyebabnya bakteri, dokter dapat memberikan antibiotik (golongan makrolida seperti azitromisin atau eritromisin). Antibiotik paling bermanfaat bila diberikan dini, yaitu pada fase awal sebelum batuk khas memuncak.

Manfaat antibiotik:

  • Mengurangi keparahan bila diberikan awal.
  • Memutus rantai penularan ke orang lain, karena penderita menjadi tidak menular setelah pengobatan adekuat.

Pada fase batuk yang sudah lanjut, antibiotik mungkin tidak banyak memendekkan durasi batuk, tetapi tetap diberikan untuk mencegah penyebaran. Anggota keluarga yang kontak erat kadang juga diberi antibiotik pencegahan sesuai pertimbangan dokter. Jangan memberi obat batuk bebas pada bayi tanpa anjuran dokter.

Pencegahan: imunisasi DPT dan cocooning

Cara perlindungan paling efektif adalah imunisasi.

Imunisasi DPT (difteri, pertusis, tetanus) merupakan bagian dari program imunisasi rutin pemerintah dan diberikan pada bayi secara bertahap sejak usia dini, dilanjutkan dengan dosis lanjutan (booster). Mengikuti jadwal imunisasi lengkap dan tepat waktu sangat penting agar bayi terlindungi sedini mungkin.

Untuk melindungi bayi yang belum cukup umur divaksinasi, dikenal strategi cocooning, yaitu memvaksinasi orang-orang di sekitar bayi agar tidak menjadi sumber penularan:

  • Vaksin pada ibu hamil (Tdap), yang membantu antibodi ibu diturunkan (ditransfer) ke bayi dan melindunginya di bulan-bulan pertama kehidupan.
  • Memastikan kakak, orang tua, dan pengasuh memiliki status imunisasi yang baik.
  • Membatasi kontak bayi dengan orang yang sedang batuk, serta rajin cuci tangan.

Diskusikan jadwal imunisasi bayi dan vaksinasi saat kehamilan dengan dokter atau bidan Anda.

Kapan harus ke IGD

Segera bawa bayi ke IGD bila muncul tanda berikut:

  • Bayi berhenti napas (apnea), walau sebentar.
  • Bibir, lidah, atau wajah membiru (sianosis) saat atau setelah batuk.
  • Batuk hebat hingga bayi tidak bisa menyusu, lemas, atau sulit dibangunkan.
  • Tampak sesak, napas cepat, atau tarikan dinding dada.

Pada bayi, jangan menunggu. Pertusis adalah kondisi yang bisa memburuk dengan cepat, dan penanganan dini sangat menentukan.

Asuransi kesehatan keluarga dari Allianz

Cashless di RS rekanan · Klaim 24 jam · Konsultasi gratis

Lihat Detail

Referensi Medis

  1. 1. Kemenkes - Imunisasi
  2. 2. IDAI
  3. 3. WHO - Pertussis

Disclaimer medis: Artikel ini bersifat edukatif dan tidak dapat menggantikan konsultasi langsung dengan dokter. Selalu konsultasikan kondisi kesehatan Anda dengan tenaga medis berlisensi sebelum mengambil keputusan terkait perawatan.

Bagikan artikel ini

Penulis

Tinjauan Editorial

Tim Redaksi Medis Sehatku

Konten disusun mengacu pada sumber medis resmi

Diperbarui: 5 Juni 2026