Lewati ke konten
Penyakit

Difteri: Gejala, Bahaya, dan Pentingnya Imunisasi DPT

Difteri adalah infeksi bakteri yang bisa menyumbat napas dan merusak jantung. Kenali ciri khasnya dan cegah dengan imunisasi.

Tim Redaksi Sehatku
Disusun Tim Redaksi Sehatku8 menit baca6 Juni 2026Diperbarui 6 Juni 2026
Penyakit

Difteri: Gejala, Bahaya, dan Pentingnya Imunisasi DPT

Sehatku.id

Difteri terdengar seperti penyakit lama yang sudah jarang. Sayangnya, penyakit ini masih bisa muncul, terutama bila cakupan imunisasi turun. Memahami difteri penting karena perjalanannya bisa cepat dan berakibat fatal, padahal sangat bisa dicegah.

Apa itu difteri?

Difteri adalah infeksi yang disebabkan bakteri Corynebacterium diphtheriae. Yang membuatnya berbahaya bukan hanya bakterinya, melainkan toksin (racun) yang diproduksi bakteri tersebut.

Toksin ini menyebar lewat aliran darah dan dapat merusak organ jauh dari tempat infeksi, seperti jantung dan saraf. Inilah sebabnya difteri tidak boleh dianggap sekadar radang tenggorokan biasa.

Gejala dan ciri khas

Gejala awal sering menyerupai radang tenggorokan: demam tidak terlalu tinggi, nyeri menelan, lemas, dan kadang suara serak. Yang membedakan difteri adalah dua ciri khasnya:

  • Selaput (pseudomembran) berwarna abu-abu keputihan yang menempel kuat di tenggorokan, amandel, atau langit-langit. Selaput ini mudah berdarah bila dikorek.
  • Bull neck, yaitu leher tampak membengkak menyerupai leher banteng akibat pembengkakan kelenjar dan jaringan sekitarnya.
GejalaRadang biasaDifteri
Selaput tenggorokanTidak adaAbu-abu, lengket, mudah berdarah
Pembengkakan leherRinganBull neck
DemamBervariasiUmumnya tidak terlalu tinggi

Bila Anda melihat selaput abu-abu di tenggorokan disertai leher membengkak, jangan tunda ke fasilitas kesehatan.

Kenapa difteri berbahaya?

Ada tiga alasan utama difteri bisa mematikan:

  1. Menyumbat jalan napas. Selaput dapat membesar dan menutup saluran napas sehingga penderita sulit bernapas, bahkan tercekik.
  2. Racun merusak jantung. Toksin dapat menyebabkan miokarditis (radang otot jantung) dan gangguan irama jantung.
  3. Racun merusak saraf. Toksin dapat menyebabkan kelumpuhan otot, termasuk otot menelan dan otot pernapasan.

Komplikasi ini bisa muncul beberapa hari hingga minggu setelah gejala awal, sehingga pemantauan di rumah sakit sangat diperlukan.

Proteksi Kesehatan

Lindungi Keluarga dari Biaya Rumah Sakit yang Tinggi

Asuransi kesehatan Allianz dengan sistem cashless di rumah sakit rekanan Allianz. Konsultasikan kebutuhan keluarga Anda dengan agen tersertifikasi, gratis, tanpa kewajiban beli.

✓ Cashless di RS rekanan✓ Klaim cepat✓ Konsultasi gratis
Konsultasi Gratis

Difteri sangat menular. Penularan terjadi melalui percikan napas (batuk, bersin, berbicara) dan kontak dekat dengan penderita. Karena itu, orang serumah dan kontak erat perlu diperiksa dan dipantau oleh petugas kesehatan.

Penanganan darurat di rumah sakit

Difteri adalah kegawatdaruratan medis dan harus ditangani di rumah sakit, bukan di rumah. Penanganan utamanya meliputi:

  • Anti-Diphtheria Serum (ADS), yaitu antitoksin untuk menetralkan racun. Pemberian sedini mungkin sangat menentukan, karena ADS hanya menetralkan toksin yang belum menempel ke jaringan.
  • Antibiotik untuk membunuh bakteri dan menghentikan produksi toksin.
  • Isolasi untuk mencegah penularan ke orang lain.

Penderita juga dipantau ketat untuk komplikasi jantung dan saraf. Jangan pernah mengobati dugaan difteri sendiri di rumah.

Pencegahan: imunisasi DPT lengkap

Kabar baiknya, difteri sangat bisa dicegah dengan imunisasi DPT (difteri, pertusis, tetanus) yang lengkap dan tepat waktu. Dalam program imunisasi nasional, anak mendapat rangkaian dasar dan dosis lanjutan (booster) pada usia tertentu, lalu diperkuat melalui program imunisasi anak sekolah.

Yang perlu diingat:

  • Perlindungan tidak datang dari satu suntikan, melainkan dari rangkaian lengkap.
  • Kekebalan dapat menurun seiring waktu, sehingga booster sesuai jadwal tetap penting, termasuk pada remaja dan dewasa bila dianjurkan.
  • Bila ada dosis yang terlewat, konsultasikan ke fasilitas kesehatan untuk mengejar jadwal (catch-up), bukan mengulang dari awal.

Lengkapi imunisasi sesuai jadwal resmi dan tanyakan status imunisasi keluarga Anda ke puskesmas atau dokter.

Kapan harus segera ke rumah sakit?

Segera ke IGD rumah sakit bila ada nyeri tenggorokan disertai:

  • Selaput abu-abu di tenggorokan atau amandel.
  • Leher membengkak (bull neck).
  • Sulit bernapas, mengi, atau suara napas berbunyi.
  • Demam dengan kondisi tubuh yang cepat memburuk, terutama bila imunisasi belum lengkap atau ada riwayat kontak dengan penderita difteri.

Difteri menakutkan bila terlambat, tetapi sangat bisa dicegah. Pastikan imunisasi keluarga lengkap, dan jangan ragu mencari pertolongan medis lebih awal.

Asuransi kesehatan keluarga dari Allianz

Cashless di RS rekanan · Klaim 24 jam · Konsultasi gratis

Lihat Detail

Referensi Medis

  1. 1. Kemenkes - Difteri
  2. 2. IDAI - Imunisasi
  3. 3. WHO - Diphtheria

Disclaimer medis: Artikel ini bersifat edukatif dan tidak dapat menggantikan konsultasi langsung dengan dokter. Selalu konsultasikan kondisi kesehatan Anda dengan tenaga medis berlisensi sebelum mengambil keputusan terkait perawatan.

Bagikan artikel ini

Penulis

Tinjauan Editorial

Tim Redaksi Medis Sehatku

Konten disusun mengacu pada sumber medis resmi

Diperbarui: 5 Juni 2026