Lewati ke konten
Kesehatan Anak

Imunisasi Dasar Lengkap Anak: Jadwal IDAI 2026 Lengkap

Panduan lengkap jadwal imunisasi anak 2026 sesuai IDAI: imunisasi wajib dan opsional, KIPI, catch-up, biaya, BPJS, serta klarifikasi mitos yang sering ditemui orang tua.

Tim Redaksi Sehatku
Direview dr. Sari Putri, Sp.A9 menit baca27 Mei 2026Diperbarui 27 Mei 2026
Vial vaksin dan jarum suntik untuk imunisasi anak

Imunisasi adalah salah satu intervensi kesehatan masyarakat paling sukses dalam sejarah. WHO memperkirakan vaksinasi mencegah 3,5–5 juta kematian per tahun secara global. Di Indonesia, jadwal imunisasi anak ditetapkan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan diperbarui berkala — versi 2026 mencakup imunisasi dasar wajib serta tambahan yang direkomendasikan.

Mengapa imunisasi penting

Manfaat individual:

  • Melindungi anak dari penyakit infeksi yang dapat fatal atau menyebabkan kecacatan permanen (polio, difteri, campak, meningitis, hepatitis B kronik, kanker serviks)
  • Mencegah komplikasi jangka panjang — campak misalnya bisa menyebabkan ensefalitis, pneumonia, dan SSPE
  • Lebih hemat — vaksin jauh lebih murah dibandingkan perawatan penyakit serius

Manfaat komunitas (herd immunity):

  • Cakupan vaksinasi ≥95% pada populasi melindungi mereka yang tidak bisa divaksinasi (bayi <6 minggu, immunocompromised, alergi berat vaksin)
  • Indonesia bebas polio sejak 2014 berkat cakupan imunisasi polio nasional — pencapaian besar yang harus dipertahankan
  • Cacar (smallpox) tereradikasi global pada 1980 — satu-satunya penyakit infeksi manusia yang dieradikasi total

Konsekuensi penurunan cakupan: kasus campak Indonesia naik signifikan pada 2022–2023 setelah penurunan cakupan akibat pandemi COVID-19, dengan ribuan kasus dan beberapa kematian anak.

Jadwal imunisasi wajib IDAI 2026

Imunisasi yang masuk Program Imunisasi Nasional (gratis di puskesmas):

UsiaImunisasi
0 bulan (saat lahir)Hepatitis B-0 (HB-0) dalam 24 jam pertama
1 bulanBCG, Polio-1 (OPV)
2 bulanDPT-HepB-Hib 1, Polio-2 (OPV), PCV-1, Rotavirus-1
3 bulanDPT-HepB-Hib 2, Polio-3 (OPV), PCV-2
4 bulanDPT-HepB-Hib 3, Polio-4 (OPV/IPV), PCV-3, Rotavirus-2 (atau 3 tergantung jenis)
9 bulanCampak-Rubella (MR) 1, IPV-2 (bila diperlukan)
12 bulanPCV booster, JE (Japanese Encephalitis) di daerah endemis
18 bulanDPT-HepB-Hib booster, MR-2, Polio booster
24 bulanHepatitis A 1 (di puskesmas terpilih)
5–7 tahun (SD kelas 1)DT (Difteri-Tetanus), MR
7–8 tahun (SD kelas 2)Td (Tetanus-difteri)
10–11 tahun (SD kelas 5)HPV (untuk anak perempuan, kini banyak daerah mencakup anak laki-laki juga) — 2 dosis

Vaksin baru dalam program nasional 2026: PCV13 (sudah masuk nasional sejak 2024), rotavirus oral (masuk nasional 2024–2025), HPV (sejak 2023 anak perempuan kelas 5–6 SD).

Imunisasi opsional yang direkomendasikan

Diluar program nasional, IDAI merekomendasikan imunisasi berikut (di RS/klinik swasta):

VaksinUsiaCatatan
PCV13/PCV15jika di puskesmas hanya tersedia PCV10Cakupan strain lebih luas
Rotavirus (Rotarix 2 dosis / RotaTeq 3 dosis)2–6 bulanCegah diare berat rotavirus
Varisela (cacar air)12–18 bulan, ulang 4–6 tahunCegah cacar air & shingles dewasa
Hepatitis A12 bulan, ulang 6 bulan kemudianCegah hepatitis A
MMR (Measles-Mumps-Rubella)15 bulan, ulang 5 tahunTambah gondongan dibanding MR program nasional
Influenzasejak 6 bulan, tahunanKhususnya saat puncak musim hujan
Tifoid2 tahun, ulang setiap 3 tahunTifoid endemis di Indonesia
Dengue (Qdenga)6–45 tahun (sesuai status seropositif)Cegah demam berdarah; konsultasikan ke dokter
HPV9–14 tahun (2 dosis) atau 15+ (3 dosis)Cegah kanker serviks, anal, orofaring

Vaksin influenza tahunan sangat direkomendasikan untuk anak <5 tahun, anak dengan asma/penyakit kronik, dan anggota keluarga lansia.

Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI)

KIPI adalah reaksi yang terjadi setelah imunisasi — sebagian besar ringan dan menunjukkan vaksin bekerja.

KIPI umum (tidak perlu khawatir):

  • Demam ringan 38–38,5°C dalam 24–48 jam — beri paracetamol dosis berat badan
  • Bengkak, kemerahan, nyeri di lokasi suntik 1–3 hari — kompres dingin
  • Rewel, nafsu makan turun 1–2 hari
  • Untuk MR/MMR: ruam ringan 5–12 hari pasca vaksin (tidak menular)
  • Untuk rotavirus: mencret ringan beberapa hari

KIPI yang perlu segera ke dokter/IGD:

  • Demam >40°C atau >3 hari
  • Kejang demam atau kejang tanpa demam
  • Anafilaksis: bengkak wajah/bibir, sesak napas, ruam menyeluruh dalam 15 menit-2 jam pasca vaksin
  • Menangis hebat >3 jam tanpa henti
  • Penurunan kesadaran, lemas tidak biasa
  • Bengkak lokal >10 cm atau memburuk hari ke 3+

KIPI berat sangat jarang — risiko anafilaksis sekitar 1 per sejuta dosis. Petugas selalu menyiapkan epinefrin emergency. Tunggu di lokasi vaksinasi 15–30 menit setelah suntik.

Imunisasi kejar (catch-up)

Bila ada keterlambatan, vaksin tidak perlu diulang dari awal — cukup lanjutkan sesuai jadwal kejar IDAI:

  • DPT/Hib/HepB: maksimal usia 7 tahun, gunakan DPT-HepB-Hib bila usia ≤4 tahun; di atas itu pakai Td/Tdap
  • Polio: sampai usia 7 tahun, bisa OPV+IPV; >7 tahun pakai IPV saja
  • MR/MMR: bisa diberikan kapan saja, minimal 2 dosis dengan jarak ≥4 minggu
  • PCV: sampai usia 5 tahun untuk anak sehat
  • HPV: sebaiknya sebelum aktif seksual; tetap efektif sampai usia 26 tahun

Bawa buku kuning KIA atau catatan imunisasi sebelumnya ke faskes untuk evaluasi dokter.

Mitos vs fakta imunisasi

MitosFakta
"Vaksin menyebabkan autisme"TIDAK. Studi Andrew Wakefield 1998 (asal mitos ini) sudah ditarik & dia dicabut izin praktik. Meta-analisis >1,2 juta anak tidak menemukan hubungan vaksin-autisme.
"Imunitas alami lebih baik"Imunitas alami dari sakit memang kuat — tapi harganya bisa fatal: campak bisa ensefalitis/kematian, polio bisa lumpuh seumur hidup, difteri/tetanus mortalitas tinggi.
"Vaksin mengandung merkuri/aluminium berbahaya"Thimerosal (etilmerkuri) dihilangkan dari hampir semua vaksin anak sejak 2001. Aluminium dalam dosis vaksin jauh di bawah ambang aman; bayi terpapar lebih banyak aluminium dari ASI/susu formula.
"Anak sehat tidak butuh vaksin"Vaksin justru efektif diberikan ke anak SEHAT — agar sistem imun bekerja optimal mengenali antigen. Anak sakit ringan (batuk pilek tanpa demam) tetap boleh divaksin.
"Terlalu banyak vaksin membebani imun bayi"Sistem imun bayi terpapar ribuan antigen setiap hari (lingkungan, makanan). Vaksin hanya menambahkan beberapa puluh antigen — sangat kecil dibanding paparan alami.
"Vaksin dari babi/non-halal"Sebagian besar vaksin di Indonesia memiliki sertifikat halal MUI. Fatwa MUI No. 4/2016: vaksin yang belum bersertifikat halal tetap dibolehkan bila darurat dan belum ada alternatif.

Biaya & akses imunisasi

Gratis di puskesmas/posyandu:

  • Semua imunisasi dalam Program Imunisasi Nasional (HB-0, BCG, Polio, DPT-HepB-Hib, PCV, MR, IPV, JE, HPV anak perempuan)
  • Dibiayai APBN, tidak perlu BPJS aktif

Berbayar di klinik/RS swasta (perkiraan 2026):

  • DPT-Hib-HepB combo: Rp 250–500 ribu per dosis
  • PCV13/15: Rp 800 ribu – 1,5 juta per dosis
  • Rotavirus (Rotarix/RotaTeq): Rp 400–700 ribu per dosis
  • MMR: Rp 350–600 ribu per dosis
  • Varisela: Rp 500–800 ribu per dosis
  • Influenza tahunan: Rp 200–400 ribu
  • HPV (3 dosis bila >14 tahun): Rp 1–2 juta per dosis
  • Dengue Qdenga: Rp 1,2–1,8 juta per dosis (2 dosis)

BPJS Kesehatan: mencakup beberapa vaksin (terutama yang dalam Program Nasional). Vaksin "wishlist" (varisela, MMR, Dengue) umumnya tidak ditanggung — bisa di puskesmas (untuk program nasional) atau klinik kerjasama BPJS.

Penutup

Imunisasi adalah hak setiap anak — bukan pilihan. Patuhi jadwal IDAI, jangan tunda tanpa alasan medis kuat, dan diskusikan dengan dokter anak bila ada kekhawatiran. Investasi kecil hari ini di Posyandu/Puskesmas mencegah kerugian besar di masa depan: rawat inap, kecacatan, atau kehilangan anak akibat penyakit yang sebenarnya bisa dicegah.

Referensi Medis

  1. 1. IDAI — Jadwal Imunisasi Anak Rekomendasi 2024 (dipakai 2026)
  2. 2. Kemenkes RI — Permenkes No. 12/2017 tentang Penyelenggaraan Imunisasi
  3. 3. WHO — Immunization Coverage Fact Sheet
  4. 4. CDC — Vaccine Information Statements (VIS)
  5. 5. MUI Fatwa No. 4/2016 — Imunisasi

Disclaimer medis: Artikel ini bersifat edukatif dan tidak dapat menggantikan konsultasi langsung dengan dokter. Selalu konsultasikan kondisi kesehatan Anda dengan tenaga medis berlisensi sebelum mengambil keputusan terkait perawatan.

Bagikan artikel ini

Penulis

Direview oleh

SP
dr. Sari Putri, Sp.A

Spesialis Anak

Direview: 27 Mei 2026