Lewati ke konten
Penyakit

ITP (Trombosit Rendah): Gejala, Penyebab, dan Penanganannya

ITP membuat trombosit turun sehingga mudah memar dan berdarah. Kenali gejalanya, bedanya dengan DBD, dan kapan harus segera ke IGD.

Tim Redaksi Sehatku
Disusun Tim Redaksi Sehatku8 menit baca18 Juni 2026Diperbarui 18 Juni 2026
Ilustrasi bintik merah petekie pada kulit
Sehatku.id

Melihat memar muncul tiba-tiba tanpa terbentur, atau bintik-bintik merah kecil di kulit, wajar membuat cemas. Salah satu penyebabnya adalah ITP, kondisi ketika trombosit (keping darah) turun sehingga tubuh lebih mudah berdarah dan memar. Kabar baiknya, ITP bisa dipahami, dipantau, dan pada banyak kasus ditangani dengan baik. Mari kita bahas pelan-pelan.

Apa itu ITP?

ITP adalah singkatan dari Immune Thrombocytopenic Purpura atau trombositopenia imun. Pada kondisi ini, sistem kekebalan tubuh keliru mengenali trombosit sebagai benda asing lalu menghancurkannya. Akibatnya jumlah trombosit dalam darah menurun.

Trombosit adalah keping darah kecil yang bertugas membantu pembekuan darah dan menutup luka. Ketika jumlahnya rendah (trombosit rendah / trombositopenia), darah lebih sulit membeku sehingga tubuh mudah memar dan berdarah, bahkan dari benturan ringan.

Perlu ditegaskan: ITP bukan penyakit menular, bukan kanker darah, dan bukan karena kurang darah biasa. Ini gangguan pada sistem imun. Penyebab pastinya sering tidak diketahui, tetapi kadang muncul setelah infeksi virus, terkait penyakit autoimun lain, atau efek obat tertentu.

Gejala trombosit rendah

Gejala ITP berkaitan dengan mudahnya perdarahan. Yang sering muncul antara lain:

  • Memar (lebam) tanpa sebab jelas, kadang cukup besar, padahal tidak ingat terbentur keras.
  • Petekie, yaitu bintik-bintik merah atau keunguan sebesar ujung jarum di kulit, sering di tungkai bawah. Bintik ini tidak hilang saat ditekan.
  • Gusi berdarah saat menyikat gigi atau mimisan yang sulit berhenti.
  • Haid yang sangat banyak atau lama pada perempuan.
  • Luka kecil yang berdarah lebih lama dari biasanya.

Jika penurunan trombosit ringan, sebagian orang justru tidak merasakan gejala apa pun dan baru diketahui saat pemeriksaan darah. Diagnosis ITP ditegakkan dokter melalui pemeriksaan darah dan menyingkirkan penyebab lain, jadi bintik merah tidak selalu berarti ITP.

ITP pada anak vs dewasa

Perjalanan ITP berbeda antara anak dan dewasa, dan ini penting untuk menenangkan hati.

Pada anak, ITP sering muncul beberapa minggu setelah infeksi virus (misalnya batuk-pilek atau setelah sakit ringan). Bentuknya biasanya akut dan pada sebagian besar anak membaik sendiri dalam hitungan minggu hingga beberapa bulan, sering tanpa pengobatan khusus, cukup dipantau dokter.

Pada dewasa, ITP cenderung lebih menahun (kronis) dan bisa berlangsung lama atau hilang-timbul. Ini bukan berarti berbahaya seumur hidup, tetapi umumnya perlu pemantauan dan penanganan yang lebih terencana bersama dokter.

Proteksi Kesehatan

Lindungi Keluarga dari Biaya Rumah Sakit yang Tinggi

Asuransi kesehatan Allianz dengan sistem cashless di rumah sakit rekanan Allianz. Konsultasikan kebutuhan keluarga Anda dengan agen tersertifikasi, gratis, tanpa kewajiban beli.

✓ Cashless di RS rekanan✓ Klaim cepat✓ Konsultasi gratis
Konsultasi Gratis

ITP atau DBD? Jangan disamakan

Di Indonesia, "trombosit rendah" sering langsung dikaitkan dengan DBD (demam berdarah dengue). Keduanya memang sama-sama menurunkan trombosit, tetapi penyebab dan penanganannya berbeda, sehingga tidak boleh disamakan sendiri di rumah.

HalITPDBD
PenyebabSistem imun menyerang trombositInfeksi virus dengue lewat nyamuk
DemamBiasanya tidak adaDemam tinggi mendadak, khas
PerjalananBisa akut (anak) atau menahun (dewasa)Akut, ada fase kritis beberapa hari
Gejala lainMemar, petekie, gusi berdarahNyeri otot/sendi, nyeri belakang mata, mual
PenangananPantau, kortikosteroid, IVIG, dllCairan yang cukup, pemantauan ketat

Karena penanganannya berbeda, jangan menebak sendiri. Bila muncul trombosit rendah, apalagi disertai demam, periksakan ke dokter agar penyebabnya dipastikan lewat pemeriksaan yang tepat.

Tanda darurat yang perlu diwaspadai

Sebagian besar perdarahan pada ITP bersifat ringan di kulit. Namun ada tanda perdarahan dalam yang berbahaya dan perlu penanganan segera. Segera ke IGD atau hubungi 119 bila muncul:

  • Sakit kepala hebat, muntah, pandangan kabur, kejang, atau penurunan kesadaran (bisa tanda perdarahan di otak).
  • Muntah darah, atau BAB berwarna hitam pekat seperti aspal maupun berdarah.
  • Kencing berwarna merah atau kemerahan (darah pada urine).
  • Mimisan atau gusi berdarah yang tidak berhenti, atau perdarahan setelah cedera yang sulit dihentikan.

Jangan menunda untuk kondisi di atas. Lebih baik diperiksa dan ternyata aman daripada terlambat.

Penanganan ITP

Tujuan penanganan ITP bukan sekadar menaikkan angka trombosit, melainkan mencegah perdarahan berbahaya. Karena itu, tidak semua kasus perlu obat. Pilihan penanganan disesuaikan dokter dengan usia, jumlah trombosit, dan ada tidaknya perdarahan:

  • Pemantauan (observasi) bila trombosit tidak terlalu rendah dan tidak ada perdarahan, terutama pada anak.
  • Kortikosteroid (misalnya prednison) sebagai pengobatan awal yang umum untuk menurunkan serangan imun terhadap trombosit.
  • IVIG (imunoglobulin intravena) untuk menaikkan trombosit lebih cepat, misalnya saat perdarahan atau butuh persiapan tindakan.
  • Obat penambah trombosit golongan agonis reseptor trombopoietin, yang merangsang sumsum tulang memproduksi lebih banyak trombosit.
  • Rituximab atau obat penekan imun lain pada kasus tertentu.
  • Splenektomi (pengangkatan limpa) dipertimbangkan bila ITP membandel dan tidak membaik dengan pengobatan, karena limpa adalah tempat trombosit banyak dihancurkan. Bila direncanakan, biasanya diberikan vaksin (pneumokokus, meningokokus, dan Hib) terlebih dahulu, dan setelah limpa diangkat, demam harus ditangani segera ke dokter/IGD karena risiko infeksi berat meningkat seumur hidup.

Banyak kasus ITP dapat dikendalikan dengan baik. Yang terpenting, keputusan pengobatan diambil bersama dokter, bukan berdasarkan angka trombosit semata.

Yang perlu dihindari saat trombosit rendah

Selama trombosit rendah, beberapa langkah sederhana membantu mengurangi risiko perdarahan:

  • Hindari aspirin dan obat antinyeri golongan NSAID (seperti ibuprofen), karena dapat mengganggu fungsi trombosit dan menambah risiko perdarahan. Untuk nyeri atau demam, tanyakan dulu ke dokter atau apoteker mengenai pilihan yang lebih aman.
  • Hindari olahraga benturan atau berisiko cedera (sepak bola, bela diri, bersepeda kecepatan tinggi) saat trombosit sangat rendah.
  • Berhati-hati dengan cedera dan benda tajam, gunakan sikat gigi berbulu lembut, dan cukur dengan hati-hati.
  • Beri tahu setiap tenaga kesehatan (termasuk dokter gigi) bahwa Anda memiliki ITP sebelum tindakan apa pun.
  • Jangan menghentikan atau mengganti obat sendiri tanpa sepengetahuan dokter.

Hidup dengan ITP memang menuntut kewaspadaan, tetapi dengan pemantauan yang tepat dan komunikasi terbuka dengan dokter, sebagian besar orang dapat menjalani aktivitas dengan aman. Kenali gejalanya, waspadai tanda darurat, dan jangan ragu mencari bantuan medis saat dibutuhkan.

Asuransi kesehatan keluarga dari Allianz

Cashless di RS rekanan · Klaim 24 jam · Konsultasi gratis

Lihat Detail

Referensi Medis

  1. 1. Kemenkes
  2. 2. PAPDI
  3. 3. IDAI

Disclaimer medis: Artikel ini bersifat edukatif dan tidak dapat menggantikan konsultasi langsung dengan dokter. Selalu konsultasikan kondisi kesehatan Anda dengan tenaga medis berlisensi sebelum mengambil keputusan terkait perawatan.

Bagikan artikel ini

Penulis

Tinjauan Editorial

Tim Redaksi Medis Sehatku

Konten disusun mengacu pada sumber medis resmi

Diperbarui: 17 Juni 2026