Lewati ke konten
Kesehatan Wanita

Kanker Serviks: Skrining Pap Smear, IVA, dan Vaksin HPV

Hampir semua kanker serviks disebabkan HPV - virus yang bisa dicegah dengan vaksin. Skrining rutin pap smear menemukan lesi pre-kanker yang masih bisa diobati.

Tim Redaksi Sehatku
Direview dr. Maya Wijaya, Sp.B(K)Onk7 menit baca20 Mei 2026Diperbarui 20 Mei 2026
Pemeriksaan ginekologi untuk skrining kanker serviks

Kanker serviks = kanker leher rahim, penyebab kematian akibat kanker #2 pada wanita Indonesia setelah kanker payudara. Tapi yang ironis: hampir 100% bisa dicegah dengan skrining + vaksin HPV.

Apa itu kanker serviks?

Penyebab

  • 99% kasus disebabkan oleh HPV (Human Papillomavirus)
  • Strain HPV onkogenik: tipe 16 & 18 (70% kasus), 31, 33, 45, 52, 58
  • Tertular lewat hubungan seksual (sebagian besar tanpa gejala)
  • Banyak orang membawa HPV sementara - tubuh bersihkan sendiri dalam 2 tahun
  • Tapi 10% jadi persistent → lesi pre-kanker → kanker invasif (10-20 tahun)

Data Indonesia

  • Kasus baru: ~36.000/tahun
  • Kematian: ~21.000/tahun
  • Mayoritas terdiagnosis stadium lanjut (terlambat)
  • Survival rate stadium I: 92%, stadium IV: 17%

Faktor risiko

  • Hubungan seks usia muda (<18)
  • Multiple sexual partners
  • Pasangan dengan multiple partners
  • Merokok (2x lipat risiko)
  • Imunokompromis (HIV+)
  • Kontrasepsi hormonal jangka panjang (>10 tahun)
  • Multipara (banyak anak)
  • IMS lain (gonore, klamidia)

Gejala (sering tidak ada awalnya)

Stadium awal-tengah

  • Pendarahan setelah hubungan seksual (postcoital)
  • Pendarahan antar haid (spotting)
  • Pendarahan pasca menopause
  • Keputihan abnormal: berbau, berdarah, banyak
  • Nyeri saat hubungan seksual (dispareunia)
  • Nyeri panggul

Stadium lanjut

  • Pendarahan banyak
  • Nyeri panggul/perut bawah hebat
  • Nyeri saat BAK
  • BAB tidak normal, kadang berdarah
  • Bengkak kaki sebelah
  • BB turun, lemas
  • Susah bernapas (metastasis paru)
Proteksi Kesehatan

Lindungi Keluarga dari Biaya Rumah Sakit yang Tinggi

Asuransi kesehatan Allianz cashless di 1500+ rumah sakit Indonesia. Konsultasikan kebutuhan keluarga Anda dengan agen tersertifikasi, gratis, tanpa kewajiban beli.

✓ Cashless 1500+ RS✓ Klaim cepat✓ Konsultasi gratis
Konsultasi Gratis

Skrining: Pap smear vs IVA

Pap smear (Papanicolaou test)

Cara: Sampel sel dari serviks diambil dengan cytobrush, dikirim ke lab untuk analisis sitologi.

Akurasi: Sensitivitas 50-75%, spesifisitas 95%

Frekuensi:

  • Mulai usia 21 tahun atau 3 tahun setelah aktif seksual
  • 21-29 tahun: pap smear tiap 3 tahun
  • 30-65 tahun: pap smear + HPV test tiap 5 tahun
  • >65 tahun: stop jika 3x normal berturut

Hasil:

  • Negatif/normal: lanjut skrining
  • ASCUS: tidak pasti, ulang 6 bulan
  • LSIL: lesi rendah, follow up dengan colposcopy
  • HSIL: lesi tinggi, butuh treatment
  • AGC: atypical glandular cells, butuh evaluasi
  • Carcinoma: ditemukan kanker

IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat)

Cara: Serviks diolesi asam asetat 3-5%, dilihat dengan mata telanjang (lesi pre-kanker putih).

Akurasi: Sensitivitas 70-80%, spesifisitas 80-90%

Cocok untuk: Daerah dengan keterbatasan lab pap smear (puskesmas, daerah terpencil)

Frekuensi: Tiap 3-5 tahun untuk wanita 30-50 tahun

Keuntungan:

  • Murah, hasil langsung
  • Tidak butuh lab
  • Tersedia di puskesmas
  • Bisa treat-and-treat (cryotherapy langsung)

HPV DNA test

Cara: Deteksi DNA virus HPV onkogenik (16, 18, dll)

Akurasi: Sensitivitas 95%, lebih tinggi dari pap

Frekuensi: Tiap 5 tahun untuk wanita 30-65

Biaya: Lebih mahal dari pap, ~Rp 500rb-1.5 juta

Rekomendasi Indonesia

  • IVA di puskesmas: GRATIS, mulai usia 30
  • Pap smear di RS: BPJS cover dengan indikasi
  • HPV test kombinasi: rekomendasi 30+ tahun

Vaksin HPV

Jenis vaksin

Cervarix (HPV bivalent): HPV 16, 18 Gardasil 4 (quadrivalent): HPV 6, 11, 16, 18 Gardasil 9 (nonavalent): HPV 6, 11, 16, 18, 31, 33, 45, 52, 58 (paling lengkap)

Kapan dapat?

  • 2 dosis selang 6 bulan
  • Imunitas terbaik di usia ini
  • 3 dosis: 0, 1-2 bulan, 6 bulan
  • Tetap bermanfaat walau sudah aktif seksual
  • Bisa, dengan konsultasi dokter
  • Manfaat kurang vs <26
  • 3 dosis

Efektivitas

  • 90%+ cegah kanker serviks (Gardasil 9)
  • 90%+ cegah kondiloma (HPV 6, 11)
  • 80%+ cegah kanker anal, oral, penis pada pria (vaksin untuk pria juga rekomendasi)

Apakah aman?

  • Studi 15+ tahun: aman
  • Efek samping ringan (nyeri suntik, demam ringan)
  • Sangat jarang reaksi alergi serius

Biaya

  • Bivalent: Rp 300-600rb/dosis (BPOM)
  • Quadrivalent: Rp 800rb-1.5 juta/dosis
  • Nonavalent: Rp 1.5-2.5 juta/dosis
  • BPJS cover terbatas: program nasional untuk anak SD/SMP perempuan di sebagian daerah
  • Belum universal cover

Pengobatan

Lesi pre-kanker (CIN 1-3)

  • CIN 1: observasi, ulang skrining
  • CIN 2-3: LEEP (electrosurgical excision) atau cone biopsy
  • Cryotherapy: untuk lesi kecil di area tertentu

Kanker invasif

Stadium IA: konisasi atau histerektomi Stadium IB-IIA: histerektomi radikal + limfonodektomi Stadium IIB-IVA: kemoradioterapi (cisplatin + radiasi) Stadium IVB: kemoterapi paliatif + imunoterapi (pembrolizumab)

Survival rate (5-tahun)

  • Stadium I: 92%
  • Stadium II: 58%
  • Stadium III: 32%
  • Stadium IV: 17%

Skrining dini = survival jauh lebih baik

BPJS coverage

  • Skrining IVA: GRATIS di puskesmas
  • Pap smear di RS: ditanggung
  • Operasi & kemoterapi: 100% ditanggung
  • Vaksin HPV: belum universal cover
Proteksi Kesehatan

Lindungi Keluarga dari Biaya Rumah Sakit yang Tinggi

Asuransi kesehatan Allianz cashless di 1500+ rumah sakit Indonesia. Konsultasikan kebutuhan keluarga Anda dengan agen tersertifikasi, gratis, tanpa kewajiban beli.

✓ Cashless 1500+ RS✓ Klaim cepat✓ Konsultasi gratis
Konsultasi Gratis

Referensi Medis

  1. 1. POGI - Pedoman Kanker Serviks Indonesia
  2. 2. WHO Cervical Cancer Elimination Strategy

Disclaimer medis: Artikel ini bersifat edukatif dan tidak dapat menggantikan konsultasi langsung dengan dokter. Selalu konsultasikan kondisi kesehatan Anda dengan tenaga medis berlisensi sebelum mengambil keputusan terkait perawatan.

Bagikan artikel ini

Penulis

Direview oleh

MW
dr. Maya Wijaya, Sp.B(K)Onk

Spesialis Bedah Onkologi

Direview: 19 Mei 2026