Lewati ke konten
Obat-obatan

Metformin: Obat Lini Pertama Diabetes Tipe 2

Metformin sudah dipakai 70 tahun dan masih jadi terapi pertama diabetes tipe 2. Mengapa? Efektif, murah, plus bonus lindungi jantung.

Tim Redaksi Sehatku
Direview dr. Andi Pratama, Sp.PD, M.Kes7 menit baca18 Mei 2026Diperbarui 18 Mei 2026
Tablet metformin untuk pengobatan diabetes tipe 2

Metformin sudah dipakai sejak 1950-an dan tetap jadi obat lini pertama untuk diabetes tipe 2 di seluruh dunia. ADA (American Diabetes Association) dan PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia) merekomendasikan dimulai bersamaan dengan diagnosa diabetes.

Apa itu metformin?

Metformin adalah obat golongan biguanide. Merek di Indonesia: Glucophage, Diabex, Glumin, Metformin generik (paling murah).

Bentuk:

  • Tablet biasa: 500, 850, 1000 mg
  • Tablet XR/extended release: 500, 750, 1000 mg (lebih lembut untuk lambung)

Cara kerja & manfaat

Tidak seperti insulin atau sulfonilurea, metformin TIDAK menyebabkan hipoglikemia (gula darah rendah). Cara kerja:

  1. Menurunkan produksi gula oleh hati (yang utama)
  2. Meningkatkan sensitivitas insulin di otot
  3. Memperlambat penyerapan gula di usus

Manfaat di luar diabetes

  • ⬇️ Risiko serangan jantung 35% (studi UKPDS)
  • ⬇️ Risiko kanker tertentu (kolon, payudara) - data observasional
  • ⬆️ Sensitivitas insulin pada PCOS
  • ⬇️ Berat badan ringan (2-3 kg) - bukan obat diet utama
  • Penelitian sedang berlangsung untuk anti-penuaan
Proteksi Kesehatan

Lindungi Keluarga dari Biaya Rumah Sakit yang Tinggi

Asuransi kesehatan Allianz cashless di 1500+ rumah sakit Indonesia. Konsultasikan kebutuhan keluarga Anda dengan agen tersertifikasi, gratis, tanpa kewajiban beli.

✓ Cashless 1500+ RS✓ Klaim cepat✓ Konsultasi gratis
Konsultasi Gratis

Dosis dan cara minum

Dosis tipikal

TahapDosisCatatan
Mulai500 mg sekali sehari, saat makan malamCegah efek samping
Minggu 2500 mg 2x sehariSetelah toleransi muncul
Minggu 4500 mg 3x sehari atau 1000 mg 2x sehariTarget dosis efektif
Maksimal2000-2550 mg/hariJarang butuh lebih

Cara minum

  • Bentuk biasa: dengan makan pagi, siang, malam
  • Bentuk XR: 1x sehari malam sebelum tidur

Hentikan jika

  • Operasi besar (24-48 jam sebelum dan sesudah)
  • Pemeriksaan radiologi dengan kontras (24-48 jam)
  • Gagal ginjal akut (eGFR turun)
  • Dehidrasi berat / muntah hebat
  • Sepsis berat

Efek samping & strategi minimalisir

Paling umum (20-30% pasien awal)

  • Diare, mual, kembung, kram perut (paling sering)
  • Rasa logam di mulut

Strategi mengurangi:

  1. Mulai dengan dosis sangat rendah (500 mg malam)
  2. Naik dosis perlahan (tiap 1-2 minggu)
  3. WAJIB minum dengan makan, jangan perut kosong
  4. Jika tetap diare: ganti ke bentuk XR/extended release
  5. Tunggu - 80% pasien adaptasi dalam 4-6 minggu

Jangka panjang

  • Defisiensi B12 (10-30% pasien >5 tahun) - cek tahunan, suplemen jika rendah
  • Kuku rapuh, rambut rontok (kadang)

Jarang tapi serius

Asidosis laktat (1-9 per 100.000 pasien) - lebih sering pada:

  • Gagal ginjal eGFR <30
  • Gagal jantung dekompensasi
  • Sepsis / dehidrasi berat

Gejala: napas cepat, lemah luar biasa, nyeri perut hebat, koma. Segera ke IGD.

Pemakaian khusus: PCOS, pradiabetes

PCOS (Polycystic Ovary Syndrome)

Metformin sering diresepkan untuk:

  • Restorasi siklus menstruasi
  • Bantu kehamilan (kombinasi dengan klomifen)
  • Turunkan testosteron (jerawat, hirsutism)
  • Kurangi risiko diabetes (PCOS = risiko tinggi)

Dosis: 500-1500 mg/hari, biasanya target lebih rendah dari diabetes.

Pradiabetes (HbA1c 5.7-6.4%)

ADA merekomendasikan metformin untuk:

  • BMI ≥35 (lebih efektif)
  • Usia <60 tahun
  • Riwayat diabetes gestasional
  • Pencegahan diabetes - menurunkan progresi 31% (studi DPP)

Tapi lifestyle change (diet + olahraga) lebih efektif (-58% risiko) - jadikan lini pertama, metformin tambahan jika belum cukup.

Asuransi kesehatan keluarga dari Allianz

Cashless 1500+ RS · Klaim 24 jam · Konsultasi gratis

Lihat Detail

Referensi Medis

  1. 1. PERKENI - Pedoman Diabetes Indonesia
  2. 2. ADA Standards of Medical Care in Diabetes

Disclaimer medis: Artikel ini bersifat edukatif dan tidak dapat menggantikan konsultasi langsung dengan dokter. Selalu konsultasikan kondisi kesehatan Anda dengan tenaga medis berlisensi sebelum mengambil keputusan terkait perawatan.

Bagikan artikel ini

Penulis

Direview oleh

AP
dr. Andi Pratama, Sp.PD, M.Kes

Spesialis Penyakit Dalam

Direview: 15 Mei 2026