Mpox di Indonesia 2026: Status Terkini, Gejala, dan Apakah Perlu Vaksinasi?
Berita Kesehatan
Mpox di Indonesia 2026: Status Terkini, Gejala, dan Apakah Perlu Vaksinasi?
Mpox masih menjadi perhatian WHO di 2026. Clade baru menyebar lebih cepat. Ketahui status Indonesia, gejala khas, siapa yang perlu vaksin, dan mitos vs fakta.
Tim Redaksi Sehatku
Direview dr. Andi Pratama, Sp.PD, M.Kes6 menit baca27 Mei 2026Diperbarui 27 Mei 2026
Pada Agustus 2024, WHO kembali menetapkan mpox sebagai PHEIC (Public Health Emergency of International Concern) menyusul penyebaran Clade Ib di Afrika tengah yang lebih cepat menular dari strain sebelumnya. Memasuki 2026, situasi telah berevolusi — Indonesia pun perlu memahami status terkini dan langkah perlindungan yang relevan.
Apa Itu Mpox dan Bedanya dari Cacar Air?
Mpox (sebelumnya disebut monkeypox) adalah penyakit yang disebabkan virus Orthopoxvirus — famili yang sama dengan virus smallpox (cacar), namun jauh lebih ringan dari smallpox yang telah dieradikasi. Ini yang sering membingungkan masyarakat:
Fitur
Mpox
Cacar Air (Varicella)
Smallpox
Penyebab
Monkeypox virus
Varicella-zoster virus
Variola virus
Limfadenopati (kelenjar bengkak)
Ya, khas sekali
Jarang
Tidak
Ruam di telapak tangan/kaki
Ya
Jarang
Ya
Gatal ruam
Sedang
Sangat gatal
Tidak
Fatalitas (non-immunocompromised)
<1–4% (tgt clade)
<0,01%
30%
Status global
Aktif, terkontrol
Endemis
Dieradikasi 1980
Dua Clade Utama
Clade I (Afrika Tengah, terutama DRC): lebih virulen, fatalitas ~4–10%, Clade Ib menyebar lebih efisien antar manusia
Clade II (Afrika Barat, wabah global 2022): fatalitas lebih rendah <1%, dominan di kasus non-Afrika
Status Mpox di Indonesia 2026
Indonesia melaporkan kasus mpox pertama pada September 2023. Hingga Mei 2026, total kasus terkonfirmasi di Indonesia: sekitar 180 kasus, dengan konsentrasi di:
DKI Jakarta (~55%)
Jawa Barat (~20%)
Bali (~10%)
Sisanya tersebar di 8 provinsi lain
Semua kasus yang teridentifikasi di Indonesia adalah Clade IIb — strain yang bersirkulasi sejak wabah global 2022, bukan Clade Ib yang lebih ganas dari Afrika Tengah.
Status WHO Terkini (2026)
WHO mencabut status PHEIC untuk mpox pada Mei 2023, namun kemudian memperbarui status darurat pada Agustus 2024 karena Clade Ib. Per 2026, WHO masih memantau ketat namun PHEIC telah dicabut kembali setelah penurunan kasus global secara berkelanjutan. Mpox kini masuk kategori "disease under surveillance" — perlu dipantau, bukan panik.
Gejala Khas Mpox
Perjalanan penyakit mpox berlangsung 2–4 minggu dengan fase:
Fase Prodromal (3–5 hari pertama)
Demam mendadak 38–40°C
Sakit kepala
Limfadenopati (pembesaran kelenjar getah bening) di leher, ketiak, atau selangkangan — ini tanda paling khas, membedakan dari cacar air
Nyeri punggung dan otot (myalgia)
Kelelahan ekstrem
Fase Ruam (mulai hari 1–4 pasca demam)
Ruam mpox berkembang dalam urutan khas dan berurutan:
Makula (bercak datar merah)
Papula (bintil keras terangkat)
Vesikel (berisi cairan jernih)
Pustula (berisi nanah, sering berlekuk di tengah — umbilicated)
Krusta/eskar
Skar (bekas luka setelah sembuh)
Lokasi ruam: dimulai di wajah, lalu menyebar ke tubuh, termasuk telapak tangan dan kaki (berbeda dari cacar air yang jarang di telapak). Pada wabah 2022–2026, banyak kasus memiliki lesi genital/anorektal sebagai lokasi primer atau dominan.
Ruam biasanya nyeri (bukan gatal dominan seperti cacar air), dan bisa berupa lesi tunggal atau sangat sedikit (berbeda dari gambaran buku teks klasik dengan lesi menyebar banyak).
Siapa yang Berisiko Tinggi?
Mpox dapat menginfeksi siapa pun dengan kontak dekat yang cukup. Namun risiko lebih tinggi pada:
Risiko Paparan Tinggi
Multiple sexual partners atau MSM (Men who have Sex with Men): transmisi seksual adalah jalur dominan dalam wabah 2022–2026
Petugas kesehatan yang menangani pasien mpox tanpa APD adekuat
Kontak rumah tangga dekat dengan kasus konfirmasi (berbagi tempat tidur, pakaian, handuk)
Pelancong dari/ke wilayah dengan transmisi aktif tinggi (terutama Afrika Tengah)
Risiko Komplikasi Berat
Immunocompromised: ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) terutama dengan CD4 rendah, pasien kemoterapi, pengguna kortikosteroid dosis tinggi jangka panjang
Anak-anak <8 tahun
Ibu hamil (risiko transmisi janin)
Riwayat eksim atau kondisi kulit kronik
Vaksinasi Mpox di Indonesia
Vaksin yang Tersedia
MVA-BN (Modified Vaccinia Ankara — Bavarian Nordic), dijual dengan nama Imvamune atau Jynneos, adalah vaksin mpox generasi ketiga yang digunakan:
2 dosis, subkutan atau intradermal, interval 4 minggu
Efektivitas: ~85% terhadap mpox secara keseluruhan, lebih tinggi untuk mencegah penyakit berat
Tidak mengandung virus hidup — aman untuk immunocompromised
Ketersediaan di Indonesia
Vaksin mpox belum masuk program imunisasi nasional di Indonesia per Mei 2026. Tersedia terbatas di:
RS pemerintah rujukan nasional (RSPI Prof. Sulianti Saroso, RSCM, RS Adam Malik Medan)
Beberapa klinik swasta dan travel clinic di kota besar
Prioritas diberikan kepada kelompok berisiko tinggi
Siapa yang Direkomendasikan Vaksinasi?
Kemenkes merekomendasikan vaksinasi mpox untuk:
Kontak erat kasus konfirmasi (post-exposure prophylaxis, idealnya <4 hari pasca paparan)
Petugas laboratorium yang menangani spesimen mpox
Petugas kesehatan di unit penyakit infeksi dengan risiko paparan tinggi
Individu dengan multiple sexual partners yang ingin perlindungan ekstra (atas pertimbangan dokter)
Untuk masyarakat umum tanpa faktor risiko di atas: vaksinasi rutin tidak direkomendasikan saat ini. Fokus pada pencegahan berbasis perilaku.
Cara Pencegahan dan Mitos vs Fakta
Pencegahan Efektif
Hindari kontak kulit-ke-kulit dengan orang yang memiliki ruam/lesi yang tidak terdiagnosis
Praktik seks aman: gunakan kondom (mengurangi tapi tidak 100% mencegah — transmisi bisa lewat kulit yang tidak tertutup kondom)
Cuci tangan rutin dengan sabun, terutama setelah kontak dengan orang sakit
Jangan berbagi handuk, pakaian, peralatan makan, atau tempat tidur dengan orang yang dicurigai terinfeksi
Isolasi mandiri jika muncul ruam tak terjelaskan + demam — segera konsultasi dokter dan beritahu kontak dekat
Mitos vs Fakta
Mitos
Fakta
"Mpox hanya menyerang gay/MSM"
Mpox dapat menginfeksi siapa pun melalui kontak fisik dekat yang cukup
"Mpox sama dengan cacar air, ringan saja"
Berbeda virus, gejala lebih berat (limfadenopati, lesi di telapak), fatalitas lebih tinggi pada immunocompromised
"Sudah pernah cacar air, kebal mpox"
TIDAK — virus berbeda, imunitas tidak saling melindungi
"Vaksin cacar (smallpox) zaman dulu melindungi"
YA, sebagian — vaksin smallpox ~85% efektif terhadap mpox, tapi generasi lahir setelah 1980 kemungkinan tidak divaksinasi smallpox
"Mpox tidak bisa sembuh sendiri"
Mayoritas kasus ringan-sedang sembuh sendiri dalam 2–4 minggu dengan perawatan suportif
Kapan ke Dokter?
Segera konsultasi jika muncul:
Ruam + demam yang tidak bisa dijelaskan, terutama setelah kontak berisiko
Lesi di area genital/anorektal yang tidak biasa
Pembesaran kelenjar getah bening yang nyeri
Gejala di atas pada orang immunocompromised — risiko penyakit berat lebih tinggi
Mpox bukan penyakit untuk dipanik, tetapi perlu diwaspadai — terutama bagi kelompok berisiko. Deteksi dan isolasi dini adalah kunci memutus rantai transmisi.
Disclaimer medis: Artikel ini bersifat edukatif dan tidak dapat menggantikan konsultasi langsung dengan dokter. Selalu konsultasikan kondisi kesehatan Anda dengan tenaga medis berlisensi sebelum mengambil keputusan terkait perawatan.