Lewati ke konten
Penyakit

Wasir (Ambeien): Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasi Tanpa Perlu Malu

Wasir sangat umum dan bukan hal memalukan. Kenali gejalanya, cara mengatasinya, dan kapan harus periksa ke dokter.

Tim Redaksi Sehatku
Disusun Tim Redaksi Sehatku7 menit baca6 Juni 2026Diperbarui 6 Juni 2026
Ilustrasi makanan berserat
Sehatku.id

Banyak orang menahan keluhan wasir karena malu, padahal kondisi ini sangat umum dan bisa dialami siapa saja. Semakin cepat dipahami dan ditangani, semakin nyaman pula penanganannya. Tidak ada yang perlu ditutup-tutupi.

## Apa itu wasir? {#apa-itu}

Wasir (disebut juga ambeien atau hemoroid) adalah pembengkakan pembuluh darah vena di sekitar anus dan bagian bawah rektum. Pembuluh ini sebenarnya normal ada pada setiap orang, tetapi bisa membengkak dan menimbulkan keluhan saat tekanan di area tersebut meningkat.

Wasir dibagi menjadi dua jenis berdasarkan letaknya:

  • Wasir internal terletak di dalam rektum, di atas garis yang memisahkan rektum dan anus. Jenis ini sering tidak terasa nyeri karena area tersebut kurang memiliki saraf nyeri, sehingga gejala yang paling sering muncul justru perdarahan tanpa rasa sakit.
  • Wasir eksternal terletak di bawah kulit di sekitar anus. Karena area ini kaya saraf, wasir eksternal cenderung lebih terasa: gatal, nyeri, dan bisa membentuk benjolan yang teraba.

## Gejala wasir {#gejala}

Gejala wasir bisa berbeda tergantung jenisnya, tetapi yang paling sering dikeluhkan meliputi:

  • BAB berdarah merah segar yang menetes atau menempel di tisu, biasanya tanpa rasa nyeri (khas wasir internal).
  • Benjolan di sekitar anus yang teraba, kadang bisa keluar saat mengejan lalu masuk kembali, atau menetap di luar.
  • Gatal dan rasa lembap atau iritasi di sekitar anus.
  • Nyeri atau rasa tidak nyaman, terutama pada wasir eksternal atau bila terjadi pembekuan darah (trombosis) yang membuat benjolan keras dan nyeri.
  • Rasa tidak tuntas setelah buang air besar.

Warna darah penting diperhatikan: pada wasir, darah umumnya merah segar. Darah yang berwarna gelap, kehitaman, atau bercampur dengan tinja justru perlu kewaspadaan lebih dan harus diperiksakan ke dokter, karena bisa berasal dari saluran cerna bagian atas atau penyebab lain.

## Penyebab dan faktor risiko {#penyebab}

Wasir muncul ketika tekanan pada pembuluh darah di area anus meningkat dalam waktu lama. Beberapa pemicu dan faktor risiko yang paling umum:

  • Mengejan terlalu kuat saat buang air besar.
  • Sembelit atau diare yang berkepanjangan.
  • Duduk terlalu lama, termasuk duduk lama di toilet sambil bermain ponsel.
  • Kehamilan, karena rahim yang membesar menekan pembuluh darah dan perubahan hormon.
  • Kurang serat dan kurang minum air, yang membuat tinja keras dan sulit dikeluarkan.
  • Kurang aktivitas fisik serta kebiasaan mengangkat beban berat.
  • Faktor usia, karena jaringan penyangga di sekitar anus melemah seiring waktu.

## Cara mengatasi wasir {#mengatasi}

Kabar baiknya, sebagian besar wasir ringan hingga sedang bisa membaik dengan perubahan gaya hidup dan perawatan sederhana di rumah:

  • Perbanyak serat dan air. Konsumsi sayur, buah, dan biji-bijian utuh, serta minum cukup air agar tinja lebih lunak dan mudah keluar. Ini langkah paling mendasar dan paling penting.
  • Jangan mengejan dan jangan duduk lama di toilet. Tuntaskan buang air besar tanpa memaksa, dan hindari kebiasaan berlama-lama di kloset.
  • Sitz bath, yaitu merendam area bokong dalam air hangat selama 10-15 menit beberapa kali sehari, dapat meredakan nyeri dan gatal.
  • Krim atau supositoria untuk wasir yang dijual di apotek dapat membantu meredakan gejala. Pastikan produk terdaftar BPOM dan gunakan sesuai aturan pakai; jika ragu, tanyakan ke apoteker atau dokter.
  • Aktif bergerak dan tidak menahan keinginan buang air besar juga membantu mencegah wasir memburuk.

Untuk wasir yang lebih berat, tidak membaik, atau sering berdarah, dokter dapat menawarkan tindakan medis. Ligasi (pengikatan dengan karet) umumnya digunakan untuk wasir internal, sedangkan pada kasus tertentu dokter dapat menyarankan operasi (hemoroidektomi). Keputusan tindakan selalu disesuaikan dengan jenis wasir dan kondisi masing-masing pasien.

## Penting: BAB berdarah jangan langsung dikira wasir {#bab-berdarah}

Ini bagian yang paling perlu digarisbawahi. BAB berdarah memang sering disebabkan wasir, tetapi tidak selalu. Perdarahan dari anus juga bisa menjadi gejala kondisi lain yang lebih serius, seperti polip, radang usus, wasir disertai infeksi, hingga kanker usus besar.

Mendiagnosis sendiri dan menganggap semua perdarahan sebagai "wasir biasa" berisiko menunda penanganan penyakit lain. Karena itu, jika Anda mengalami BAB berdarah, jangan langsung menyimpulkan sendiri. Periksakan ke dokter untuk memastikan penyebabnya, apalagi bila perdarahan berulang, banyak, atau disertai gejala lain.

## Kapan harus ke dokter? {#dokter}

Segera periksakan diri bila Anda mengalami salah satu dari tanda berikut:

  • Perdarahan dari anus yang berulang, banyak, atau tidak kunjung berhenti.
  • Darah berwarna gelap atau kehitaman, atau tinja bercampur darah.
  • Perubahan pola buang air besar yang menetap, seperti diare atau sembelit berkepanjangan.
  • Penurunan berat badan tanpa sebab, lemas, atau tampak pucat (kemungkinan anemia).
  • Benjolan yang sangat nyeri, keras, atau tidak bisa masuk kembali.
  • Riwayat keluarga kanker usus besar atau usia di atas 50 tahun dengan keluhan baru.

Wasir adalah keluhan umum yang dapat ditangani dengan baik. Yang terpenting, jangan menahan rasa malu sampai menunda pemeriksaan, terutama bila ada perdarahan. Memastikan penyebabnya ke tenaga medis adalah langkah paling aman.

Proteksi Kesehatan

Lindungi Keluarga dari Biaya Rumah Sakit yang Tinggi

Asuransi kesehatan Allianz dengan sistem cashless di rumah sakit rekanan Allianz. Konsultasikan kebutuhan keluarga Anda dengan agen tersertifikasi, gratis, tanpa kewajiban beli.

✓ Cashless di RS rekanan✓ Klaim cepat✓ Konsultasi gratis
Konsultasi Gratis

Asuransi kesehatan keluarga dari Allianz

Cashless di RS rekanan · Klaim 24 jam · Konsultasi gratis

Lihat Detail

Referensi Medis

  1. 1. Kemenkes RI
  2. 2. PAPDI
  3. 3. Cek BPOM

Disclaimer medis: Artikel ini bersifat edukatif dan tidak dapat menggantikan konsultasi langsung dengan dokter. Selalu konsultasikan kondisi kesehatan Anda dengan tenaga medis berlisensi sebelum mengambil keputusan terkait perawatan.

Bagikan artikel ini

Penulis

Tinjauan Editorial

Tim Redaksi Medis Sehatku

Konten disusun mengacu pada sumber medis resmi

Diperbarui: 5 Juni 2026