Miozidine
Miozidine adalah **obat keras** yang mengandung **trimetazidine dihidroklorida 35 mg** dalam bentuk tablet lepas lambat (MR), digunakan sebagai **terapi tambahan (add-on)** untuk mengurangi frekuensi serangan **angina pektoris stabil** pada penyakit jantung koroner. Trimetazidine bekerja sebagai **modulator metabolik anti-iskemik**, yaitu membantu sel otot jantung memakai energi (glukosa) lebih efisien saat pasokan oksigen berkurang. Miozidine **bukan** untuk meredakan serangan angina yang sedang terjadi dan **bukan** obat tunggal.
- Nama generik
- Trimetazidine dihydrochloride (trimetazidine 2HCl)
- Nama dagang
- Miozidine
Indikasi (Untuk apa)
- Terapi tambahan (add-on) pada angina pektoris stabil yang belum terkontrol optimal dengan obat antiangina lini pertama.
- Membantu mengurangi frekuensi serangan angina pada pasien penyakit jantung koroner (PJK).
- Bukan untuk menghentikan serangan angina akut, bukan terapi tunggal, dan bukan terapi awal angina tak stabil maupun infark miokard.
Dosis
Efek Samping
- Pusing dan sakit kepala
- Mual, muntah, nyeri perut, gangguan pencernaan (dispepsia), atau diare
- Ruam kulit, gatal, atau biduran
- Lemas (asthenia)
- Gangguan gerakan seperti tremor, kekakuan otot, atau ketidakstabilan berjalan, terutama pada lansia (segera konsultasikan ke dokter)
- Jantung berdebar atau tekanan darah turun saat berdiri (hipotensi ortostatik)
Kontraindikasi (Tidak boleh untuk)
- Hipersensitif (alergi) terhadap trimetazidine atau komponen lain dalam obat.
- Penyakit Parkinson, gejala parkinsonisme, tremor, sindrom kaki gelisah (restless legs syndrome), dan gangguan gerakan terkait lainnya.
- Gangguan ginjal berat (klirens kreatinin di bawah 30 mL/menit).
Interaksi dengan Obat Lain
- Trimetazidine memiliki relatif sedikit interaksi obat yang bermakna secara klinis, namun tetap informasikan ke dokter atau apoteker semua obat, suplemen, dan herbal yang sedang Anda gunakan.
- Hati-hati bila digunakan bersama obat yang dapat memicu atau memperberat gejala gangguan gerak (parkinsonisme) atau obat yang memengaruhi sistem saraf pusat.
Peringatan Penting
- Miozidine bukan obat untuk menghentikan serangan angina akut dan tidak boleh dipakai sebagai terapi awal angina tak stabil atau infark miokard.
- Trimetazidine dapat menimbulkan atau memperburuk gejala gangguan gerakan seperti tremor, kaku otot, gerakan melambat, atau ketidakstabilan berjalan (parkinsonisme); hentikan dan konsultasikan ke dokter bila gejala ini muncul.
- Perlu kehati-hatian pada lansia dan pasien gangguan fungsi ginjal; dosis mungkin perlu disesuaikan oleh dokter.
- Obat ini dapat menyebabkan pusing atau mengantuk; berhati-hatilah saat mengemudi atau mengoperasikan mesin.
- Miozidine termasuk obat keras yang hanya boleh digunakan dengan resep dokter. Pastikan produk terdaftar resmi dengan mengecek nomor izin edar di cekbpom.pom.go.id.
Kategori Ibu Hamil (FDA)
Pertanyaan Umum
Miozidine obat apa?
Miozidine adalah obat keras berisi trimetazidine dihidroklorida 35 mg (tablet lepas lambat/MR) yang dipakai sebagai terapi tambahan untuk mengurangi frekuensi serangan angina pektoris stabil pada penyakit jantung koroner. Obat ini bekerja sebagai modulator metabolik anti-iskemik, bukan untuk menurunkan tekanan darah atau menghentikan serangan angina yang sedang berlangsung.
Apakah Miozidine bisa untuk meredakan serangan angina yang sedang terjadi?
Tidak. Miozidine adalah terapi tambahan untuk pencegahan serangan angina, bukan obat untuk menghentikan serangan angina akut dan bukan pengganti obat lini pertama. Jika mengalami nyeri dada hebat atau serangan angina, segera cari pertolongan medis dan gunakan obat sesuai arahan dokter Anda.
Apakah Miozidine harus dengan resep dokter?
Ya. Miozidine termasuk obat keras sehingga hanya boleh diperoleh dan digunakan dengan resep dokter. Sebelum membeli, pastikan keaslian dan legalitas produk dengan mengecek nomor izin edar di cekbpom.pom.go.id.
Tools kesehatan terkait
Coba kalkulator gratis yang relevan dengan topik ini.
Referensi Medis
Disclaimer medis: Informasi obat ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi dokter atau apoteker. Selalu baca aturan pakai di kemasan dan ikuti anjuran tenaga medis berlisensi. Jangan menghentikan obat resep tanpa konsultasi.