Chikungunya vs Demam Berdarah (DBD): Beda Gejala dan Penanganannya
Penyakit
Chikungunya vs Demam Berdarah (DBD): Beda Gejala dan Penanganannya
Chikungunya dan DBD sama-sama dari nyamuk Aedes, tetapi gejala dan risikonya berbeda. Kenali bedanya agar penanganannya tidak keliru.
Tim Redaksi Sehatku
Disusun Tim Redaksi Sehatku8 menit baca6 Juni 2026Diperbarui 6 Juni 2026
Penyakit
Chikungunya vs Demam Berdarah (DBD): Beda Gejala dan Penanganannya
Sehatku.id
Saat demam tinggi muncul setelah digigit nyamuk, banyak orang bingung membedakan chikungunya dan demam berdarah dengue (DBD). Keduanya memang mirip di awal, tetapi penanganannya bisa sangat berbeda. Salah membedakan, terutama soal pilihan obat, dapat berbahaya.
Sama-sama dari nyamuk Aedes
Chikungunya dan DBD ditularkan oleh nyamuk yang sama, yaitu Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Nyamuk ini aktif menggigit pada pagi dan sore hari, serta senang berkembang biak di genangan air bersih.
Karena vektornya sama, keduanya bisa muncul di lingkungan yang sama, bahkan pada waktu yang berdekatan. Gejala awal pun mirip: demam mendadak, nyeri kepala, dan badan lemas. Namun ada perbedaan khas yang membantu membedakannya.
Tabel perbandingan gejala
Aspek
Chikungunya
Demam Berdarah (DBD)
Penyebab
Virus chikungunya
Virus dengue
Penular
Nyamuk Aedes
Nyamuk Aedes
Demam
Mendadak, tinggi
Mendadak, tinggi
Gejala paling khas
Nyeri sendi hebat (lutut, pergelangan, jari), kadang sampai sulit berjalan
Ciri pembeda yang paling membantu: pada chikungunya, keluhan yang menonjol adalah nyeri sendi hebat yang kadang membuat penderita membungkuk saat berjalan. Sementara pada DBD, yang paling perlu diwaspadai adalah tanda perdarahan dan penurunan trombosit yang dapat memicu kondisi gawat.
Proteksi Kesehatan
Lindungi Keluarga dari Biaya Rumah Sakit yang Tinggi
Asuransi kesehatan Allianz cashless di 1500+ rumah sakit Indonesia. Konsultasikan kebutuhan keluarga Anda dengan agen tersertifikasi, gratis, tanpa kewajiban beli.
Perbedaan ini bukan sekadar soal nama, melainkan menyangkut keamanan penanganan, terutama pilihan obat penurun demam dan pereda nyeri.
Pada DBD, obat golongan aspirin dan NSAID (seperti ibuprofen, asam mefenamat, natrium diklofenak) sebaiknya dihindari karena dapat meningkatkan risiko perdarahan dan mengganggu fungsi trombosit. Untuk menurunkan demam, yang umumnya dianjurkan adalah parasetamol sesuai dosis.
Masalahnya, pada hari-hari awal sangat sulit memastikan apakah seseorang menderita chikungunya atau DBD hanya dari gejala. Karena itu, prinsip amannya: selama belum yakin ini bukan DBD, hindari aspirin dan NSAID, dan utamakan parasetamol. Keputusan akhir tentang obat tetap di tangan dokter.
Tanda bahaya DBD yang wajib diwaspadai
DBD punya pola perjalanan penyakit yang khas. Setelah demam mereda di sekitar hari ke-3 sampai ke-7, justru bisa masuk fase kritis yang berbahaya, bukan tanda sembuh. Pada fase ini dapat terjadi kebocoran plasma dan syok.
Segera cari pertolongan medis bila muncul tanda bahaya berikut:
Nyeri perut hebat yang terus-menerus
Muntah berulang
Perdarahan: mimisan, gusi berdarah, bintik merah di kulit, muntah atau BAB kehitaman
Lemas berat, gelisah, atau tampak sangat mengantuk
Tangan dan kaki teraba dingin dan lembap (tanda menuju syok)
Buang air kecil berkurang drastis
Pada chikungunya, komplikasi berat lebih jarang, namun nyeri sendi bisa bertahan berminggu-minggu hingga berbulan-bulan pada sebagian orang. Tetap perlu pemantauan, terutama pada bayi, lansia, dan ibu hamil.
Kapan ke dokter dan perlu tes darah?
Periksakan ke dokter bila demam tinggi tidak membaik dalam 2-3 hari, muncul tanda bahaya DBD di atas, atau nyeri sendi sangat mengganggu. Jangan menunda hanya karena demam sempat turun, karena pada DBD penurunan demam justru bisa menandai awal fase kritis.
Dokter umumnya menyarankan tes darah untuk membantu memastikan. Pemeriksaan dapat mencakup hitung trombosit dan hematokrit untuk memantau risiko DBD, serta pemeriksaan khusus dengue atau chikungunya sesuai pertimbangan klinis. Pemantauan trombosit yang berulang sering diperlukan untuk melihat arah perjalanan penyakit.
Hasil pemeriksaan inilah yang menjadi dasar dokter menentukan apakah cukup rawat jalan atau perlu rawat inap, serta memastikan obat yang aman digunakan.
Pencegahan: 3M Plus untuk keduanya
Karena ditularkan nyamuk yang sama, langkah pencegahan chikungunya dan DBD juga sama, yaitu memberantas sarang nyamuk lewat gerakan 3M Plus:
Menguras dan menyikat tempat penampungan air secara rutin
Menutup rapat wadah penyimpanan air
Memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air
Plus langkah tambahan: memakai lotion anti-nyamuk, memasang kawat kasa, tidak menggantung pakaian menumpuk, memelihara ikan pemakan jentik, serta menaburkan larvasida pada penampungan air yang sulit dikuras.
Mencegah gigitan nyamuk berarti sekaligus melindungi diri dari dua penyakit ini. Kenali gejalanya, jangan asal minum obat, dan jangan ragu memeriksakan diri bila ada tanda bahaya.
Asuransi kesehatan keluarga dari Allianz
Cashless 1500+ RS · Klaim 24 jam · Konsultasi gratis
Disclaimer medis: Artikel ini bersifat edukatif dan tidak dapat menggantikan konsultasi langsung dengan dokter. Selalu konsultasikan kondisi kesehatan Anda dengan tenaga medis berlisensi sebelum mengambil keputusan terkait perawatan.