Lewati ke konten
Penyakit

Kejang Demam pada Anak: Pertolongan Pertama dan Kapan Harus ke Dokter

Melihat anak kejang karena demam sangat menakutkan. Kenali langkah pertolongan pertama yang benar, mitos yang harus dihindari, dan tanda yang perlu segera ke dokter.

Tim Redaksi Sehatku
Disusun Tim Redaksi Sehatku8 menit baca6 Juni 2026Diperbarui 6 Juni 2026
Penyakit

Kejang Demam pada Anak: Pertolongan Pertama dan Kapan Harus ke Dokter

Sehatku.id

Melihat anak tiba-tiba kejang saat demam adalah salah satu momen paling menakutkan bagi orang tua. Tubuh menegang, mata mendelik, kadang tangan dan kaki menyentak. Wajar bila Anda panik. Namun kabar baiknya: sebagian besar kejang demam tidak berbahaya dan tidak merusak otak. Yang paling menentukan justru bagaimana Anda bersikap dalam beberapa menit pertama.

Apa itu kejang demam?

Kejang demam (febrile seizure) adalah kejang yang dipicu oleh demam tinggi, umumnya pada anak usia 6 bulan sampai 5 tahun. Pemicunya bukan kelainan otak, melainkan kenaikan suhu tubuh yang cepat, biasanya karena infeksi virus biasa seperti batuk-pilek, radang tenggorokan, atau infeksi telinga.

Penting dipahami: kejang demam bukan epilepsi. Epilepsi adalah kejang berulang tanpa pemicu demam, sedangkan kejang demam selalu menyertai demam. Pada anak yang sehat sebelumnya, kejang demam yang singkat umumnya tidak merusak otak dan tidak menyebabkan keterlambatan tumbuh kembang. Inilah yang perlu Anda pegang agar bisa tetap tenang.

Pertolongan pertama langkah demi langkah

Saat anak kejang, yang Anda lakukan jauh lebih penting daripada panik. Ikuti langkah ini:

  1. Tetap tenang. Sebagian besar kejang berhenti sendiri dalam 1-2 menit. Tarik napas dan dampingi anak.
  2. Baringkan anak di tempat aman dan datar, jauh dari benda keras, tepi tempat tidur, atau air.
  3. Miringkan tubuh atau kepala anak ke satu sisi. Posisi ini membantu air liur atau muntahan keluar sehingga tidak tersedak.
  4. Longgarkan pakaian di sekitar leher agar anak bernapas lebih lega.
  5. JANGAN masukkan apa pun ke dalam mulut anak — tidak sendok, jari, kain, atau obat. Ini berbahaya.
  6. Jangan menahan atau menjepit gerakan tubuh anak. Biarkan kejang berlangsung, cukup jaga agar tidak terbentur.
  7. Catat durasi kejang. Lihat jam saat kejang mulai. Durasi sangat menentukan apakah perlu ke IGD.
  8. Perhatikan bentuk kejang: seluruh tubuh atau satu sisi, berapa lama, dan apakah anak sadar setelahnya. Bila bisa, rekam dengan ponsel untuk ditunjukkan ke dokter.

Setelah kejang berhenti, anak biasanya tampak mengantuk atau bingung sesaat. Itu normal. Tetap dampingi sampai ia sadar penuh.

Proteksi Kesehatan

Lindungi Keluarga dari Biaya Rumah Sakit yang Tinggi

Asuransi kesehatan Allianz dengan sistem cashless di rumah sakit rekanan Allianz. Konsultasikan kebutuhan keluarga Anda dengan agen tersertifikasi, gratis, tanpa kewajiban beli.

✓ Cashless di RS rekanan✓ Klaim cepat✓ Konsultasi gratis
Konsultasi Gratis

Mitos berbahaya yang harus dihindari

Banyak kebiasaan turun-temurun justru membahayakan anak saat kejang. Hindari semuanya:

MitosMengapa berbahaya
Memasukkan sendok ke mulutBisa melukai gusi/gigi, patah, dan menyumbat jalan napas
Menjejalkan jari ke mulutJari Anda bisa tergigit keras, anak bisa tersedak
Memberi kopi, air, atau obat lewat mulutCairan masuk ke paru — risiko tersedak dan radang paru
Menahan/mengikat tubuh agar berhenti kejangBisa menyebabkan cedera otot dan sendi

Mulut anak tidak perlu diganjal. Anggapan bahwa lidah akan tertelan saat kejang tidaklah benar. Yang benar adalah memiringkan tubuh agar jalan napas tetap aman.

Cara menurunkan demam

Setelah kejang reda dan anak tenang, fokus pada penyebabnya: demam. Tujuannya membuat anak nyaman, bukan memaksa suhu turun secepatnya.

  • Berikan parasetamol sesuai dosis berat badan anak, atau ibuprofen bila disarankan dokter. Patuhi takaran pada kemasan.
  • Kompres dengan air hangat (bukan air dingin atau es) di dahi, leher, dan ketiak.
  • Berikan cukup cairan — ASI, air, atau kuah — untuk mencegah dehidrasi.
  • Pakaikan baju tipis dan jaga ruangan tetap sejuk. Hindari menyelimuti tebal.

Menurunkan demam membuat anak lebih nyaman, tetapi perlu dipahami secara jujur: pemberian obat penurun panas tidak selalu mencegah kejang demam berikutnya, karena kejang sering dipicu oleh kecepatan naiknya suhu, bukan hanya angkanya.

Kapan harus ke IGD?

Sebagian kejang demam aman dan singkat. Namun segera bawa anak ke IGD bila salah satu hal ini terjadi:

  • Kejang berlangsung lebih dari 5 menit atau tidak kunjung berhenti.
  • Kejang berulang dalam satu episode demam yang sama, atau dalam 24 jam.
  • Anak berusia di bawah 6 bulan atau di atas 5 tahun saat pertama kali kejang.
  • Ada kaku kuduk (leher kaku), ruam, kesadaran tak pulih, atau muntah hebat — tanda yang perlu menyingkirkan infeksi otak.
  • Anak tampak sesak, kebiruan, atau sulit dibangunkan setelah kejang.

Selain itu, untuk kejang demam yang pertama kali terjadi, sangat dianjurkan memeriksakan anak ke dokter meski kejang berhenti sendiri. Dokter perlu memastikan penyebab demam dan menyingkirkan kondisi lain.

Apakah akan berulang atau jadi epilepsi?

Pertanyaan ini paling sering ditanyakan orang tua. Jawaban jujurnya:

  • Berulang? Mungkin. Sebagian anak mengalami kejang demam lebih dari sekali, terutama bila kejang pertama terjadi di usia muda atau ada riwayat keluarga. Namun banyak juga yang hanya mengalaminya sekali seumur hidup.
  • Menjadi epilepsi? Umumnya tidak. Pada anak yang sehat dengan kejang demam sederhana, risiko berkembang menjadi epilepsi hanya sedikit lebih tinggi dibanding anak pada umumnya, dan sebagian besar tidak akan mengalaminya.

Anak yang pernah kejang demam tetap bisa tumbuh dan belajar normal. Yang terpenting: kenali pemicunya, tangani demam dengan tenang, dan kuasai pertolongan pertama agar Anda siap bila terjadi lagi.

Asuransi kesehatan keluarga dari Allianz

Cashless di RS rekanan · Klaim 24 jam · Konsultasi gratis

Lihat Detail

Tools kesehatan terkait

Coba kalkulator gratis yang relevan dengan topik ini.

Referensi Medis

  1. 1. IDAI - Kejang Demam pada Anak
  2. 2. Kemenkes RI
  3. 3. WHO

Disclaimer medis: Artikel ini bersifat edukatif dan tidak dapat menggantikan konsultasi langsung dengan dokter. Selalu konsultasikan kondisi kesehatan Anda dengan tenaga medis berlisensi sebelum mengambil keputusan terkait perawatan.

Bagikan artikel ini

Penulis

Tinjauan Editorial

Tim Redaksi Medis Sehatku

Konten disusun mengacu pada sumber medis resmi

Diperbarui: 5 Juni 2026