Lewati ke konten
Penyakit

Retinopati Diabetik: Komplikasi Mata Diabetes yang Sering Tak Terasa

Gula darah tinggi menahun bisa merusak retina tanpa keluhan sama sekali. Pahami mengapa skrining mata rutin wajib bagi setiap penderita diabetes.

Tim Redaksi Sehatku
Disusun Tim Redaksi Sehatku8 menit baca6 Juni 2026Diperbarui 6 Juni 2026
Ilustrasi pemeriksaan retina
Sehatku.id

Banyak penderita diabetes merasa matanya baik-baik saja, lalu kaget saat dokter menemukan kerusakan retina yang sudah lanjut. Inilah sisi paling licik dari retinopati diabetik: ia bisa merusak penglihatan diam-diam, jauh sebelum Anda merasakan apa pun.

## Apa Itu Retinopati Diabetik? {#apa-itu}

Retinopati diabetik adalah kerusakan pada pembuluh darah halus di retina, lapisan saraf di belakang bola mata yang menangkap cahaya dan mengirim gambar ke otak. Penyebabnya adalah kadar gula darah tinggi yang menahun. Gula darah yang terus tinggi melemahkan dan merusak dinding pembuluh darah kecil di retina, sehingga pembuluh bisa bocor, menyumbat, atau memicu tumbuhnya pembuluh darah baru yang rapuh dan mudah pecah.

Semakin lama seseorang menyandang diabetes dan semakin tidak terkontrol gula darahnya, semakin besar risiko mengalami retinopati. Kondisi ini bisa terjadi baik pada diabetes tipe 1 maupun tipe 2.

## Bahaya Utama: Sering Tanpa Gejala {#tanpa-gejala}

Inilah pesan terpenting dari artikel ini. Pada tahap awal, retinopati diabetik biasanya TIDAK menimbulkan gejala apa pun. Penglihatan terasa normal, tidak nyeri, tidak kabur, sehingga banyak orang merasa tidak perlu memeriksakan mata.

Padahal kerusakan tetap berjalan dalam diam. Saat gejala akhirnya muncul, kerusakan retina sering kali sudah parah dan sebagian bisa bersifat permanen. Karena itulah retinopati diabetik menjadi salah satu penyebab utama kebutaan pada usia produktif di banyak negara.

Penglihatan yang terasa baik-baik saja bukan jaminan retina Anda sehat. Pada diabetes, mata yang "normal" tetap perlu diperiksa.

## Gejala Tahap Lanjut {#gejala}

Ketika retinopati sudah berkembang, beberapa tanda yang mungkin muncul antara lain:

  • Penglihatan kabur atau berfluktuasi (kadang jelas, kadang buram)
  • Floaters, yaitu bintik atau benang gelap yang seperti melayang di lapang pandang
  • Bercak gelap atau area kosong pada penglihatan
  • Kesulitan melihat warna atau melihat saat malam
  • Pada kasus berat, kehilangan penglihatan mendadak akibat perdarahan di dalam mata

Jika Anda penderita diabetes dan mengalami salah satu tanda ini, jangan menunda. Segera periksa ke dokter mata.

## Kunci Pencegahan {#pencegahan}

Kabar baiknya: sebagian besar kebutaan akibat retinopati diabetik dapat dicegah bila ditemukan dan ditangani lebih dini. Ada tiga kunci utama:

  1. Kontrol gula darah secara konsisten sesuai anjuran dokter.
  2. Kontrol tekanan darah (dan kolesterol), karena tekanan tinggi mempercepat kerusakan pembuluh retina.
  3. Skrining mata rutin untuk mendeteksi masalah sejak dini, sebelum gejala muncul.

### Skrining Mata Rutin {#skrining}

Pemeriksaan kunci adalah funduskopi, yaitu pemeriksaan bagian dalam mata (retina) menggunakan alat khusus, sering kali setelah pupil dilebarkan dengan tetes mata. Pemeriksaan ini memungkinkan dokter melihat langsung kondisi pembuluh darah retina.

Setelah pupil dilebarkan, penglihatan biasanya menjadi silau terhadap cahaya dan buram untuk melihat dekat selama beberapa jam. Karena itu, sebaiknya bawa kacamata hitam dan jangan menyetir sendiri pulang dari pemeriksaan; mintalah orang lain mengantar atau gunakan transportasi lain sampai penglihatan kembali normal.

Setiap penderita diabetes dianjurkan menjalani skrining mata secara berkala, umumnya minimal satu kali setahun, walaupun penglihatan terasa sama sekali normal. Dokter dapat menyesuaikan jadwal sesuai kondisi masing-masing, dan ibu hamil dengan diabetes biasanya perlu pemantauan lebih ketat.

AspekTahap AwalTahap Lanjut
GejalaSering tidak adaKabur, floaters, bercak gelap
Cara deteksiSkrining funduskopiSudah terasa, kadang terlambat
Peluang ditanganiBesarLebih terbatas

## Penanganan Tahap Lanjut {#penanganan}

Bila retinopati sudah berkembang, dokter mata memiliki beberapa pilihan penanganan, antara lain:

  • Laser retina (fotokoagulasi) untuk menutup kebocoran atau menghambat pertumbuhan pembuluh darah abnormal.
  • Suntikan anti-VEGF ke dalam mata untuk mengurangi pembengkakan dan menghambat pembuluh darah baru yang rapuh.
  • Vitrektomi, tindakan bedah untuk mengangkat darah atau jaringan parut di dalam bola mata pada kasus berat.

Penanganan ini bertujuan mempertahankan penglihatan yang tersisa, bukan selalu mengembalikan yang sudah hilang. Itulah mengapa deteksi dini jauh lebih berharga daripada mengobati saat sudah terlambat.

Khusus untuk suntikan anti-VEGF, walau jarang, ada risiko infeksi serius di dalam bola mata (endoftalmitis). Segera kembali ke dokter mata jika dalam beberapa hari setelah suntikan Anda mengalami nyeri mata yang makin hebat, mata makin merah, penglihatan makin memburuk, atau keluar kotoran/nanah dari mata.

Pesan kuat yang perlu diingat: jika Anda menyandang diabetes, periksakan mata secara berkala walaupun penglihatan terasa normal. Langkah sederhana ini bisa menyelamatkan penglihatan Anda untuk bertahun-tahun ke depan.

Proteksi Kesehatan

Lindungi Keluarga dari Biaya Rumah Sakit yang Tinggi

Asuransi kesehatan Allianz dengan sistem cashless di rumah sakit rekanan Allianz. Konsultasikan kebutuhan keluarga Anda dengan agen tersertifikasi, gratis, tanpa kewajiban beli.

✓ Cashless di RS rekanan✓ Klaim cepat✓ Konsultasi gratis
Konsultasi Gratis

Asuransi kesehatan keluarga dari Allianz

Cashless di RS rekanan · Klaim 24 jam · Konsultasi gratis

Lihat Detail

Tools kesehatan terkait

Coba kalkulator gratis yang relevan dengan topik ini.

Referensi Medis

  1. 1. Kemenkes RI
  2. 2. PERDAMI
  3. 3. WHO - Diabetes

Disclaimer medis: Artikel ini bersifat edukatif dan tidak dapat menggantikan konsultasi langsung dengan dokter. Selalu konsultasikan kondisi kesehatan Anda dengan tenaga medis berlisensi sebelum mengambil keputusan terkait perawatan.

Bagikan artikel ini

Penulis

Tinjauan Editorial

Tim Redaksi Medis Sehatku

Konten disusun mengacu pada sumber medis resmi

Diperbarui: 5 Juni 2026