Lewati ke konten
Berita Kesehatan

Vaksin RSV Disetujui BPOM Mei 2026: Untuk Lansia 60+ dan Bayi Berisiko

RSV (Respiratory Syncytial Virus) sering disepelekan, padahal #1 penyebab rawat inap bayi < 6 bulan + 14.000 kematian lansia/tahun di Indonesia. BPOM setujui 2 vaksin breakthrough.

Tim Redaksi Sehatku
Direview dr. Andi Pratama, Sp.PD, M.Kes5 menit baca24 Mei 2026Diperbarui 24 Mei 2026
Vial vaksin RSV untuk imunisasi lansia dan bayi mencegah Respiratory Syncytial Virus

Badan POM resmi setujui 2 vaksin RSV (Respiratory Syncytial Virus) untuk pasar Indonesia per 20 Mei 2026:

  1. Arexvy (GSK) — untuk dewasa ≥60 tahun
  2. Abrysvo (Pfizer) — untuk ibu hamil 32-36 minggu (proteksi pasif bayi)

Indonesia jadi negara ke-31 di dunia yang setujui RSV vaccine. Belum masuk program nasional gratis (BIAS), tapi tersedia di RS swasta sebagai self-pay.

Apa itu RSV?

RSV adalah virus pernapasan yang menginfeksi hampir 100% anak sebelum usia 2 tahun. Pada kebanyakan, gejala mirip flu biasa. Tapi pada kelompok rentan, RSV bisa fatal:

Risiko tinggi

  • Bayi < 6 bulan (sistem imun belum matur) — bronkiolitis akut → ICU
  • Bayi prematur
  • Lansia > 65 tahun — pneumonia, gagal napas
  • Imunokompromi (HIV, kemoterapi, transplant)
  • Penyakit paru kronis (COPD, asma berat)
  • Penyakit jantung kongenital

Statistik Indonesia 2024-2025 (Kemenkes)

  • ~280.000 anak rawat inap karena RSV per tahun
  • ~14.000 kematian lansia karena RSV pneumonia per tahun
  • RSV = 3-5x lebih banyak rawat inap bayi dibanding influenza
Proteksi Kesehatan

Lindungi Keluarga dari Biaya Rumah Sakit yang Tinggi

Asuransi kesehatan Allianz cashless di 1500+ rumah sakit Indonesia. Konsultasikan kebutuhan keluarga Anda dengan agen tersertifikasi, gratis, tanpa kewajiban beli.

✓ Cashless 1500+ RS✓ Klaim cepat✓ Konsultasi gratis
Konsultasi Gratis

Siapa yang perlu vaksin?

Arexvy (GSK) — untuk 60+

  • Semua dewasa ≥60 tahun, terutama yang punya:
  • Penyakit jantung / paru kronis
  • Diabetes
  • Imunokompromi
  • Tinggal di panti jompo / care facility
  • Dosis: 1x dosis (booster setiap 2-3 tahun direkomendasikan, masih dalam riset)
  • Efektivitas: 83% turunkan severe RSV; 71% turunkan rawat inap (studi AReSVi-006)
  • Side effect: nyeri lengan (60%), lelah (34%), sakit kepala (27%), demam ringan (17%) — biasanya 1-2 hari

Abrysvo (Pfizer) — untuk ibu hamil

  • Bumil 32-36 minggu kehamilan
  • Antibodi ibu menyeberang plasenta → proteksi bayi 0-6 bulan
  • 82% turunkan severe RSV pada bayi di 90 hari pertama lahir
  • 69% turunkan di 6 bulan pertama
  • Dosis: 1x suntik trimester 3
  • Pertimbangan: kalau lupa, bayi bisa dapat monoclonal antibody nirsevimab (Beyfortus) post-lahir sebagai alternatif

Biaya + cakupan BPJS

Self-pay (saat ini)

  • Arexvy: Rp 1.8-2.5 juta/dosis
  • Abrysvo: Rp 1.5-2 juta/dosis
  • Tersedia di: RS Mayapada, Pondok Indah, EMC, Mitra Keluarga, beberapa klinik vaksinasi

BPJS

  • BELUM cover RSV vaccine (per Mei 2026)
  • Kemenkes evaluasi inklusi ke program 2027

Apakah worth it?

  • Lansia + penyakit kronis: ROI tinggi. Biaya rawat inap RSV pneumonia di ICU bisa Rp 50-200 juta. Vaksin Rp 2 juta = preventif murah.
  • Bumil: kalau ada budget, sangat dianjurkan. Bayi rawat inap RSV biaya rata-rata Rp 30-80 juta + emotional toll.
  • Lansia sehat tanpa komorbid: opsional, tetap baik tapi prioritas lebih ke vaksin pneumokokus + flu dulu.

💡 Diskusi dengan dokter keluarga atau Sp.PD/Sp.A sebelum vaksin. Untuk lansia, vaksin RSV sering dikombinasi dengan vaksin flu tahunan + pneumokokus (PCV13/PPSV23).

Proteksi Kesehatan

Lindungi Keluarga dari Biaya Rumah Sakit yang Tinggi

Asuransi kesehatan Allianz cashless di 1500+ rumah sakit Indonesia. Konsultasikan kebutuhan keluarga Anda dengan agen tersertifikasi, gratis, tanpa kewajiban beli.

✓ Cashless 1500+ RS✓ Klaim cepat✓ Konsultasi gratis
Konsultasi Gratis

Referensi Medis

  1. 1. BPOM - Persetujuan Vaksin RSV
  2. 2. CDC - RSV Vaccination Recommendations
  3. 3. PAPDI - Pedoman Imunisasi Dewasa 2026

Disclaimer medis: Artikel ini bersifat edukatif dan tidak dapat menggantikan konsultasi langsung dengan dokter. Selalu konsultasikan kondisi kesehatan Anda dengan tenaga medis berlisensi sebelum mengambil keputusan terkait perawatan.

Bagikan artikel ini

Penulis

Direview oleh

AP
dr. Andi Pratama, Sp.PD, M.Kes

Spesialis Penyakit Dalam

Direview: 23 Mei 2026