Lewati ke konten
AntidiabetesResep dokter

Gliclazide

Gliclazide adalah obat **antidiabetes oral** golongan **sulfonilurea generasi kedua** yang dipakai untuk menurunkan dan mengendalikan kadar gula darah pada penderita **diabetes melitus tipe 2** dewasa. Zat aktifnya tunggal, yaitu **gliclazide (glikazid)**, bukan kombinasi, dan bekerja dengan cara **merangsang sel beta pankreas melepaskan insulin**. Gliclazide di sini adalah nama generik yang dipakai langsung sebagai nama produk (Obat Generik Berlogo), sehingga diproduksi oleh beberapa pabrik farmasi yang berbeda. Obat ini termasuk **obat keras** (logo lingkaran merah dengan huruf K) sehingga hanya boleh dibeli dan digunakan dengan **resep dokter**, tidak boleh dipakai untuk pengobatan sendiri, serta tidak ditujukan untuk diabetes tipe 1 maupun ketoasidosis diabetik.

Nama generik
Gliclazide (glikazid)
Nama dagang
Gliclazide
Disusun Tim Redaksi SehatkuDiperbarui 9 Agustus 2026

Indikasi (Untuk apa)

  • Mengendalikan kadar gula darah pada diabetes melitus tipe 2 (NIDDM) pada pasien dewasa, terutama bila kadar glukosa darah belum terkontrol hanya dengan pengaturan diet, olahraga, dan penurunan berat badan
  • Digunakan umumnya sebagai terapi lini kedua setelah metformin, atau dikombinasikan dengan antidiabetes lain bila dokter menilai kontrol gula darah masih belum tercapai
  • Menjadi salah satu pilihan pada sebagian pasien lanjut usia di atas 60 tahun dengan diabetes tipe 2, dengan catatan pemantauan ketat terhadap risiko hipoglikemia
  • Gliclazide bukan obat untuk diabetes melitus tipe 1 dan bukan untuk ketoasidosis diabetik, karena pada kondisi tersebut tubuh membutuhkan insulin, bukan perangsang sekresi insulin

Dosis

Dewasa
Dosis gliclazide hanya boleh ditentukan oleh dokter dan disesuaikan dengan kadar gula darah, pola makan, berat badan, usia, serta fungsi ginjal dan hati setiap pasien, sehingga tidak ada satu dosis yang cocok untuk semua orang. Sediaan generik yang umum beredar di Indonesia adalah tablet 80 mg (lepas cepat), sedangkan sebagian produk tersedia dalam bentuk tablet lepas lambat (modified-release/MR) 60 mg. Kedua bentuk ini tidak sama dan aturan pakainya berbeda, sehingga tidak boleh saling ditukar tanpa arahan dokter; tablet MR umumnya tidak boleh digerus atau dibelah. Dokter biasanya memulai dari dosis terendah lalu menyesuaikannya bertahap sesuai respons gula darah. Obat ini umumnya diminum bersama atau tepat sebelum makan, sering kali sebelum sarapan, pada jam yang sama setiap hari, dan jangan sampai melewatkan makan setelah meminumnya. Selalu ikuti dosis serta aturan pakai yang tertulis pada resep dokter dan kemasan produk Anda, jangan menambah, mengurangi, atau menghentikan obat sendiri.
Anak
Tidak dianjurkan. Gliclazide ditujukan untuk diabetes melitus tipe 2 pada dewasa; keamanan dan dosisnya pada anak belum ditetapkan. Diabetes pada anak dan remaja harus ditangani langsung oleh dokter spesialis anak, bukan dengan obat dewasa tanpa pengawasan.
Lansia
Gliclazide cukup sering dipilih untuk pasien berusia di atas 60 tahun, tetapi kelompok ini justru paling rentan mengalami hipoglikemia. Dokter biasanya memulai dari dosis terendah dan menaikkannya perlahan sambil memantau gula darah, jadwal makan yang teratur, serta fungsi ginjal dan hati. Jangan menyesuaikan dosis sendiri berdasarkan hasil cek gula darah di rumah tanpa arahan dokter.

Efek Samping

  • Hipoglikemia (gula darah turun terlalu rendah) - gemetar, keringat dingin, jantung berdebar, lapar berlebihan, lemas, pusing, sulit berkonsentrasi, bingung, sampai penurunan kesadaran; ini efek samping paling penting dan paling sering pada gliclazide
  • Mual, muntah, nyeri ulu hati, atau rasa tidak nyaman di perut, terutama bila diminum tanpa makanan
  • Diare atau sebaliknya sembelit
  • Kenaikan berat badan ringan
  • Ruam kulit, gatal, biduran, atau reaksi hipersensitivitas lain
  • Peningkatan enzim hati yang biasanya sementara; pada kasus jarang dapat terjadi gangguan fungsi hati atau kulit dan mata menguning (ikterus)
  • Gangguan sel darah yang jarang, seperti penurunan trombosit, penurunan sel darah putih, atau anemia
  • Gangguan penglihatan sementara (pandangan kabur) pada awal terapi akibat perubahan kadar gula darah

Kontraindikasi (Tidak boleh untuk)

  • Riwayat alergi atau hipersensitivitas terhadap gliclazide, sulfonilurea lain, atau obat golongan sulfonamida (sulfa)
  • Diabetes melitus tipe 1 (diabetes yang bergantung insulin)
  • Ketoasidosis diabetik, prekoma, atau koma diabetik - kondisi ini adalah kegawatdaruratan yang membutuhkan insulin dan penanganan rumah sakit
  • Gangguan fungsi ginjal berat atau gangguan fungsi hati berat
  • Penggunaan bersama mikonazol sistemik (termasuk gel oral) karena risiko hipoglikemia berat
  • Kehamilan dan menyusui, kecuali ada pertimbangan khusus dari dokter; pada kehamilan pengendalian gula darah umumnya dialihkan ke insulin

Interaksi dengan Obat Lain

  • Mikonazol (termasuk gel oral untuk sariawan jamur) - memperkuat efek gliclazide dan dapat memicu hipoglikemia berat, kombinasi ini dihindari
  • Antijamur azol lain seperti flukonazol, serta antibiotik golongan sulfonamid dan kloramfenikol - dapat memperkuat efek penurun gula darah
  • Insulin dan antidiabetes lain (metformin, acarbose, penghambat DPP-4, dan sebagainya) - risiko hipoglikemia meningkat bila dikombinasikan tanpa penyesuaian dosis oleh dokter
  • Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) dosis tinggi seperti fenilbutazon, serta salisilat dosis besar - menambah efek hipoglikemik
  • Penghambat ACE (kaptopril, enalapril) dan penghambat MAO - dapat memperkuat penurunan kadar gula darah
  • Beta-blocker (propranolol, bisoprolol, dan lainnya) - dapat menutupi gejala peringatan hipoglikemia seperti jantung berdebar dan gemetar, sehingga hipoglikemia terlambat disadari
  • Kortikosteroid, diuretik tiazid, danazol, dan agonis beta-2 (misalnya salbutamol suntik) - dapat menaikkan kadar gula darah sehingga kontrol diabetes memburuk
  • Warfarin dan antikoagulan lain - efeknya dapat berubah sehingga perlu pemantauan lebih ketat
  • Alkohol - meningkatkan risiko hipoglikemia dan reaksi tidak nyaman; sebaiknya dihindari selama terapi
  • Beri tahu dokter atau apoteker tentang semua obat, suplemen, dan jamu yang sedang Anda konsumsi sebelum memulai gliclazide

Peringatan Penting

  • Risiko utama gliclazide adalah HIPOGLIKEMIA. Risiko ini meningkat pada lansia, pasien dengan gangguan ginjal atau hati, pasien dengan asupan makan yang kurang, serta bila jadwal makan terlambat atau dilewatkan setelah minum obat. Jangan pernah minum gliclazide lalu melewatkan makan.
  • Selalu sediakan sumber gula cepat (permen, gula, atau jus manis) untuk mengatasi gejala hipoglikemia ringan seperti gemetar, keringat dingin, atau lemas.
  • Segera ke IGD atau cari pertolongan medis darurat bila muncul tanda hipoglikemia berat seperti bingung berat, bicara kacau, kejang, atau tidak sadarkan diri; reaksi alergi berat (ruam luas, bengkak pada wajah, bibir, atau lidah, sesak napas); kulit dan mata menguning (ikterus) atau urine berwarna sangat gelap; serta demam disertai sakit tenggorokan, memar, atau perdarahan yang tidak biasa.
  • Aktivitas fisik yang jauh lebih berat dari biasanya, puasa, diare atau muntah, dan konsumsi alkohol dapat memicu hipoglikemia. Diskusikan penyesuaian jadwal minum obat dengan dokter, termasuk bila Anda berencana berpuasa.
  • Pada kondisi stres berat seperti infeksi berat, trauma, atau operasi, kontrol gula darah dapat memburuk dan dokter mungkin perlu mengganti sementara ke insulin.
  • Beri tahu dokter dan apoteker bila Anda pernah mengalami alergi terhadap gliclazide, sulfonilurea lain, atau obat golongan sulfonamida (sulfa), serta bila Anda memiliki gangguan ginjal, gangguan hati, sedang hamil, merencanakan kehamilan, atau menyusui.
  • Pasien dengan defisiensi enzim G6PD berisiko mengalami anemia hemolitik dengan obat golongan sulfonilurea; informasikan kondisi ini kepada dokter.
  • Gliclazide tidak menggantikan pengaturan pola makan, aktivitas fisik, dan pengendalian berat badan - ketiganya tetap menjadi dasar terapi diabetes tipe 2.
  • Lakukan pemantauan gula darah dan HbA1c secara berkala sesuai anjuran dokter, dan periksakan fungsi ginjal serta hati bila diminta.
  • Hati-hati saat mengemudi atau mengoperasikan mesin, terutama pada awal terapi atau setelah perubahan dosis, karena hipoglikemia dapat menurunkan konsentrasi.
  • Gliclazide adalah obat keras (logo lingkaran merah dengan huruf K) yang wajib dibeli dan digunakan dengan resep dokter. Obat ini tidak boleh dipakai untuk pengobatan sendiri (swamedikasi). Jangan membeli dari penjual yang tidak jelas, jangan memakai sisa resep orang lain, dan jangan berbagi obat dengan orang lain meskipun gejalanya terasa mirip.
  • Karena Gliclazide adalah nama generik yang dipakai beberapa produsen, nomor izin edar BPOM dan nama produsen berbeda-beda antar kemasan. Selalu cek nomor izin edar yang tertera pada kemasan Anda di cekbpom.pom.go.id untuk memastikan produk terdaftar resmi.
  • Simpan pada suhu ruang, terlindung dari cahaya dan lembap, serta jauh dari jangkauan anak-anak.
  • Informasi ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter atau apoteker.

Kategori Ibu Hamil (FDA)

Kategori C - hati-hati

Pertanyaan Umum

Gliclazide obat apa?

Gliclazide adalah obat antidiabetes oral golongan sulfonilurea generasi kedua dengan zat aktif tunggal gliclazide (glikazid). Obat ini digunakan untuk mengendalikan kadar gula darah pada penderita diabetes melitus tipe 2 dewasa, terutama bila gula darah belum terkontrol hanya dengan diet, olahraga, dan penurunan berat badan. Cara kerjanya adalah merangsang sel beta pankreas agar melepaskan lebih banyak insulin. Sediaan generik yang umum di Indonesia berupa tablet 80 mg, sementara sebagian produk tersedia dalam bentuk lepas lambat (MR) 60 mg. Gliclazide termasuk obat keras sehingga wajib dengan resep dokter dan tidak boleh dipakai untuk pengobatan sendiri; nomor izin edarnya bisa dicek di cekbpom.pom.go.id.

Apakah Gliclazide bisa dipakai untuk semua jenis diabetes?

Tidak. Gliclazide hanya untuk diabetes melitus tipe 2 (NIDDM) pada orang dewasa. Obat ini tidak boleh digunakan pada diabetes melitus tipe 1 maupun pada ketoasidosis diabetik, prekoma, atau koma diabetik, karena kondisi tersebut membutuhkan insulin dan penanganan medis darurat, bukan obat yang merangsang pankreas. Pada praktik klinis, gliclazide umumnya diberikan sebagai pilihan lini kedua setelah metformin, dan keputusan pemilihan obat sepenuhnya ada pada dokter yang menilai kondisi Anda.

Apa efek samping Gliclazide yang paling perlu diwaspadai?

Yang paling penting adalah hipoglikemia, yaitu kadar gula darah turun terlalu rendah. Gejalanya berupa gemetar, keringat dingin, jantung berdebar, lapar berlebihan, lemas, pusing, bingung, hingga penurunan kesadaran. Risikonya meningkat pada lansia, pasien dengan gangguan ginjal atau hati, serta bila makan terlambat atau dilewatkan setelah minum obat. Karena itu jangan pernah melewatkan makan setelah minum gliclazide dan sediakan sumber gula cepat. Efek samping lain yang mungkin muncul antara lain mual, nyeri ulu hati, diare atau sembelit, kenaikan berat badan ringan, dan ruam kulit. Segera cari pertolongan medis darurat bila terjadi kejang, penurunan kesadaran, atau tanda reaksi alergi berat seperti bengkak pada wajah dan sesak napas.

Obat Terkait (Antidiabetes)

Lihat daftar lengkap di indeks obat.

Kondisi yang Umumnya Ditangani

Daftar ini menunjukkan kondisi yang umumnya ditangani dengan obat golongan Antidiabetes — bukan anjuran pengobatan. Diagnosis dan pilihan obat harus ditentukan dokter.

Tools kesehatan terkait

Coba kalkulator gratis yang relevan dengan topik ini.

Referensi Medis

  1. 1. OGB Dexa - Gliclazide Tablet 80 mg (komposisi, indikasi, dan kemasan dari situs resmi produsen)
  2. 2. Cek BPOM - verifikasi nomor izin edar produk gliclazide yang beredar di Indonesia
  3. 3. PIONAS BPOM - Informasi Obat Nasional Indonesia, bab antidiabetik oral golongan sulfonilurea

Disclaimer medis: Informasi obat ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi dokter atau apoteker. Selalu baca aturan pakai di kemasan dan ikuti anjuran tenaga medis berlisensi. Jangan menghentikan obat resep tanpa konsultasi.