Lewati ke konten
AntipsikotikResep dokter

Haloperidol

**Haloperidol** adalah **antipsikotik** generasi pertama (golongan butirofenon) yang bekerja menghambat reseptor **dopamin D2** di otak. Obat ini digunakan untuk menangani **skizofrenia** dan gangguan psikotik lain seperti delusi, halusinasi, serta agitasi. Haloperidol adalah nama zat aktif sekaligus nama generik obatnya, dan termasuk **obat keras** yang hanya boleh digunakan dengan resep dokter.

Nama generik
Haloperidol
Nama dagang
Haloperidol
Disusun Tim Redaksi SehatkuDiperbarui 11 Juli 2026

Indikasi (Untuk apa)

  • Terapi skizofrenia dan gangguan psikotik lain untuk mengendalikan delusi, halusinasi, dan agitasi
  • Gangguan tik berat dan sindrom Tourette
  • Terapi tambahan pada agitasi serta gangguan tingkah laku yang berat
  • Mual dan muntah refrakter yang tidak membaik dengan obat lain (perawatan paliatif)
  • Cegukan (hiccup) persisten yang sulit diatasi

Dosis

Dewasa
Dosis ditentukan oleh dokter sesuai jenis dan tingkat keparahan kondisi, umumnya dimulai dari dosis rendah lalu disesuaikan secara bertahap. Ikuti petunjuk pada kemasan atau resep dokter. Tersedia dalam bentuk tablet, tetes oral, serta injeksi (termasuk sediaan depot kerja panjang).
Anak
Hanya diberikan atas pertimbangan dan pengawasan dokter; dosis disesuaikan dengan berat badan dan usia anak. Jangan memberikan tanpa resep dokter.
Lansia
Biasanya dimulai dengan dosis lebih rendah karena lansia lebih sensitif terhadap efek samping. Gunakan sesuai arahan dokter dan lakukan pemantauan lebih ketat.

Efek Samping

  • Gejala ekstrapiramidal seperti kekakuan otot, tremor, gerakan tak terkendali, dan rasa gelisah (akatisia)
  • Mengantuk, pusing, dan lemas
  • Mulut kering, pandangan kabur, atau sembelit
  • Peningkatan hormon prolaktin (mis. gangguan menstruasi atau produksi ASI abnormal)
  • Diskinesia tardif (gerakan berulang tak terkendali) pada pemakaian jangka panjang
  • Jarang tetapi serius: sindrom neuroleptik maligna dan gangguan irama jantung (perpanjangan interval QT)

Kontraindikasi (Tidak boleh untuk)

  • Alergi (hipersensitivitas) terhadap haloperidol
  • Penurunan kesadaran atau depresi susunan saraf pusat yang berat (mis. akibat alkohol atau obat penenang)
  • Penyakit Parkinson dan demensia Lewy body
  • Kelainan irama jantung tertentu, termasuk perpanjangan interval QT yang bermakna

Interaksi dengan Obat Lain

  • Obat penekan saraf pusat lain (alkohol, obat tidur, opioid) dapat meningkatkan efek sedasi
  • Obat yang memperpanjang interval QT (mis. antiaritmia tertentu) meningkatkan risiko gangguan irama jantung
  • Levodopa dan obat Parkinson lain, karena efeknya bisa saling melemahkan
  • Obat yang memengaruhi enzim hati (mis. karbamazepin, rifampisin) dapat mengubah kadar haloperidol dalam darah

Peringatan Penting

  • Termasuk obat keras (K) yang hanya boleh digunakan dengan resep dan pengawasan dokter
  • Jangan menghentikan pengobatan secara mendadak tanpa arahan dokter
  • Hati-hati pada lansia dengan demensia karena antipsikotik dapat meningkatkan risiko kematian pada kelompok ini
  • Dapat menyebabkan kantuk; hindari mengemudi atau mengoperasikan mesin sampai efeknya diketahui
  • Batasi konsumsi alkohol selama pengobatan
  • Beri tahu dokter jika memiliki penyakit jantung, gangguan hati, epilepsi, atau sedang hamil dan menyusui
  • Pastikan produk sudah terdaftar BPOM dengan mengeceknya di cekbpom.pom.go.id

Kategori Ibu Hamil (FDA)

Kategori C - hati-hati

Pertanyaan Umum

Haloperidol obat apa?

Haloperidol adalah obat antipsikotik generasi pertama golongan butirofenon yang bekerja menghambat reseptor dopamin D2 di otak. Obat ini terutama dipakai untuk mengatasi skizofrenia dan gejala psikosis seperti halusinasi, delusi, dan agitasi, serta beberapa kondisi lain seperti sindrom Tourette. Haloperidol termasuk obat keras sehingga hanya boleh digunakan dengan resep dokter.

Apakah Haloperidol bisa dibeli tanpa resep?

Tidak. Haloperidol termasuk obat keras (K) yang hanya boleh diperoleh dan digunakan dengan resep dokter. Pastikan juga produk yang Anda gunakan sudah terdaftar BPOM dengan mengeceknya di cekbpom.pom.go.id.

Apa efek samping Haloperidol yang perlu diwaspadai?

Efek samping yang sering muncul adalah gejala ekstrapiramidal seperti kekakuan otot, tremor, dan rasa gelisah, disertai kantuk dan pusing. Pada pemakaian jangka panjang dapat timbul diskinesia tardif. Segera hubungi dokter bila muncul demam tinggi disertai otot kaku, jantung berdebar, atau gerakan tak terkendali.

Referensi Medis

  1. 1. PIONAS BPOM - Haloperidol
  2. 2. Halodoc - Haloperidol
  3. 3. Cek BPOM - Registrasi Obat

Disclaimer medis: Informasi obat ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi dokter atau apoteker. Selalu baca aturan pakai di kemasan dan ikuti anjuran tenaga medis berlisensi. Jangan menghentikan obat resep tanpa konsultasi.