Lewati ke konten
DekongestanBebas (tanpa resep)

Molexflu

Molexflu adalah **obat flu kombinasi** produksi Molex Ayus yang mengandung tiga zat aktif: **paracetamol** (analgesik-antipiretik untuk demam dan sakit kepala), **phenylpropanolamine HCl** (dekongestan yang melegakan hidung tersumbat), dan **chlorpheniramine maleate/CTM** (antihistamin yang menekan bersin dan hidung berair). Molexflu tergolong **obat bebas terbatas** (lingkaran biru dengan tanda peringatan pada kemasan), sehingga bisa dibeli tanpa resep di apotek atau toko obat berizin, tetapi tetap harus dipakai sesuai aturan pakai karena kandungan dekongestannya tidak cocok untuk semua orang.

Nama generik
Paracetamol + Phenylpropanolamine HCl + Chlorpheniramine Maleate
Nama dagang
Molexflu
Disusun Tim Redaksi SehatkuDiperbarui 9 Agustus 2026

Indikasi (Untuk apa)

  • Meredakan gejala flu dan pilek secara bersamaan: demam, sakit kepala, hidung tersumbat, bersin-bersin, dan hidung berair
  • Menurunkan demam dan meredakan nyeri ringan sampai sedang seperti sakit kepala dan pegal saat flu, melalui kandungan paracetamol
  • Melegakan hidung tersumbat akibat pembengkakan mukosa hidung, melalui kerja phenylpropanolamine HCl yang menyempitkan pembuluh darah di selaput lendir hidung
  • Meredakan gejala rinitis (pilek) seperti bersin berulang dan hidung meler, melalui kandungan chlorpheniramine maleate

Dosis

Dewasa
Dosis lazim dewasa yang dicantumkan produsen adalah 3 kali sehari 1 kaplet. Diminum sesudah makan untuk mengurangi rasa tidak nyaman di lambung, dan sebaiknya dipakai hanya selama gejala flu masih ada (umumnya tidak lebih dari beberapa hari). Selalu ikuti aturan pakai pada kemasan atau anjuran dokter/apoteker, karena tiap sediaan (kaplet atau sirup) punya takaran berbeda.
Anak
Untuk anak usia 6-12 tahun, aturan pakai yang tercantum adalah 3 kali sehari 1/2 kaplet, atau untuk sediaan sirup 3 kali sehari 2 sendok takar (10 mL). Tidak boleh diberikan pada anak di bawah 6 tahun karena kandungan phenylpropanolamine. Gunakan sendok takar bawaan kemasan, bukan sendok makan rumah tangga, dan konsultasikan ke dokter bila anak demam lebih dari 2 hari.
Lansia
Belum ada penyesuaian dosis khusus yang dipublikasikan produsen, namun lansia perlu lebih berhati-hati. Kandungan dekongestan dapat menaikkan tekanan darah dan memicu kesulitan berkemih pada pembesaran prostat, sedangkan CTM dapat menyebabkan kantuk berat, bingung, dan meningkatkan risiko jatuh. Sebaiknya konsultasikan lebih dulu ke dokter atau apoteker sebelum digunakan rutin.

Efek Samping

  • Kantuk atau mengantuk berat dan penurunan kewaspadaan akibat chlorpheniramine maleate (antihistamin generasi pertama)
  • Mulut, hidung, dan tenggorokan terasa kering
  • Pusing, sakit kepala, atau pandangan sedikit kabur
  • Jantung berdebar (palpitasi), gelisah, gugup, atau sulit tidur akibat efek stimulan phenylpropanolamine
  • Peningkatan tekanan darah, terutama pada orang yang sudah punya hipertensi
  • Mual, nyeri ulu hati, atau gangguan pencernaan ringan
  • Sulit atau tidak lancar buang air kecil (retensi urin), terutama pada pria dengan pembesaran prostat
  • Jarang namun serius: reaksi alergi (ruam, gatal, bengkak pada wajah atau bibir, sesak napas) dan gangguan fungsi hati bila paracetamol dikonsumsi melebihi dosis

Kontraindikasi (Tidak boleh untuk)

  • Riwayat alergi/hipersensitivitas terhadap paracetamol, phenylpropanolamine, chlorpheniramine, atau komponen lain dalam produk
  • Penderita hipertensi (tekanan darah tinggi) dan hipertiroid - peringatan ini wajib tercantum pada kemasan obat flu ber-phenylpropanolamine
  • Penyakit jantung berat, aritmia, atau penyakit pembuluh darah
  • Glaukoma sudut tertutup dan pembesaran prostat/kesulitan berkemih
  • Sedang atau baru berhenti (dalam 14 hari) memakai obat golongan MAOI (penghambat monoamin oksidase)
  • Anak di bawah usia 6 tahun
  • Gangguan fungsi hati berat karena kandungan paracetamol

Interaksi dengan Obat Lain

  • Obat flu, pereda nyeri, atau obat demam lain yang juga mengandung paracetamol - risiko overdosis paracetamol dan kerusakan hati; jangan digabung
  • MAOI (mis. moclobemide, selegiline) - kombinasi dengan phenylpropanolamine dapat memicu lonjakan tekanan darah berbahaya (krisis hipertensi)
  • Obat antihipertensi (mis. beta-blocker, metildopa) - efek penurun tekanan darah bisa berkurang karena kerja dekongestan
  • Alkohol - meningkatkan efek kantuk dari CTM dan menambah risiko kerusakan hati oleh paracetamol
  • Obat penekan sistem saraf pusat seperti obat tidur, obat penenang, antidepresan, atau obat batuk yang menyebabkan kantuk - efek sedasi saling menguatkan
  • Warfarin dan antikoagulan lain - pemakaian paracetamol jangka panjang dapat memengaruhi efek pengencer darah
  • Obat lain dengan efek antikolinergik (mis. antispasmodik, beberapa antidepresan) - memperberat mulut kering, retensi urin, dan pandangan kabur

Peringatan Penting

  • Jangan menyetir, mengoperasikan mesin, atau bekerja di ketinggian setelah minum Molexflu - kandungan CTM sering menyebabkan kantuk berat.
  • Hindari alkohol selama memakai obat ini karena menambah kantuk sekaligus meningkatkan risiko gangguan hati.
  • Jangan menggabungkan dengan obat flu, sirup batuk-pilek, atau pereda nyeri lain yang juga mengandung paracetamol. Membaca komposisi setiap obat yang diminum adalah cara paling aman menghindari overdosis paracetamol.
  • Jangan melebihi aturan pakai yang tertera pada kemasan. Overdosis paracetamol dapat merusak hati dan sering belum menimbulkan gejala pada jam-jam pertama, sehingga kelebihan dosis harus segera dibawa ke IGD walaupun penderita masih tampak baik-baik saja.
  • Beri tahu dokter atau apoteker bila Anda punya riwayat alergi obat, penyakit hati atau ginjal, hipertensi, penyakit jantung, hipertiroid, glaukoma, pembesaran prostat, atau sedang memakai obat lain termasuk obat bebas dan herbal.
  • Hentikan pemakaian dan periksa ke dokter bila demam tidak membaik dalam 3 hari, nyeri tidak reda dalam 5 hari, atau muncul tanda bahaya seperti sesak napas, bengkak pada wajah dan bibir, ruam luas, jantung berdebar hebat, nyeri dada, sakit kepala hebat, kelemahan mendadak pada satu sisi tubuh, tekanan darah naik, nyeri perut kanan atas, serta kulit atau mata menguning.
  • Ibu hamil dan ibu menyusui sebaiknya tidak memakai obat ini tanpa anjuran dokter, karena produk kombinasi seperti ini mengandung dekongestan dan antihistamin yang perlu pertimbangan khusus.
  • Tentang isu phenylpropanolamine (PPA): BPOM RI menyatakan tidak pernah menarik obat flu ber-PPA yang punya izin edar dan pernah membantah kabar berantai soal penarikan tersebut. Ketentuan yang berlaku di Indonesia adalah kadar PPA di bawah 15 mg per takaran, larangan pemakaian pada anak di bawah 6 tahun, serta kewajiban mencantumkan peringatan bagi penderita hipertensi dan hipertiroid. Penarikan produk ber-PPA di Amerika Serikat pada tahun 2000 didasari kekhawatiran risiko stroke perdarahan yang terutama dikaitkan dengan pemakaian dosis tinggi sebagai obat pelangsing, indikasi yang tidak pernah disetujui di Indonesia.
  • Nama dagang obat flu sering memiliki beberapa varian dengan komposisi berbeda. Selalu baca komposisi pada kemasan asli atau tanyakan ke apoteker sebelum membeli, agar Anda tidak keliru mengira semua produk dengan nama mirip berisi zat aktif yang sama.
  • Pastikan produk yang Anda beli memiliki nomor izin edar BPOM yang masih berlaku dengan mengeceknya di cekbpom.pom.go.id. Ingat pula bahwa obat bergolongan obat keras hanya boleh dibeli dan digunakan dengan resep dokter - Molexflu sendiri tergolong obat bebas terbatas, bukan obat keras.

Kategori Ibu Hamil (FDA)

Belum diklasifikasi

Pertanyaan Umum

Molexflu obat apa?

Molexflu adalah obat flu kombinasi produksi Molex Ayus yang berisi tiga zat aktif sekaligus: paracetamol untuk menurunkan demam dan meredakan sakit kepala, phenylpropanolamine HCl sebagai dekongestan untuk melegakan hidung tersumbat, serta chlorpheniramine maleate (CTM) sebagai antihistamin untuk meredakan bersin dan hidung berair. Tersedia dalam bentuk kaplet dan sirup, dan digunakan untuk meredakan gejala flu maupun pilek.

Apakah Molexflu harus pakai resep dokter?

Tidak. Molexflu tergolong obat bebas terbatas, ditandai lingkaran biru dengan tanda peringatan pada kemasan, sehingga bisa dibeli tanpa resep di apotek atau toko obat berizin. Meski begitu, golongan ini tetap wajib memuat tanda peringatan dan harus dipakai persis sesuai aturan pakai. Obat yang bergolongan obat keras (lingkaran merah dengan huruf K) tetap hanya boleh dibeli dan digunakan dengan resep dokter, bukan untuk pengobatan sendiri. Sebelum membeli, cek keaslian dan masa berlaku nomor izin edarnya di cekbpom.pom.go.id.

Apakah Molexflu bikin ngantuk dan aman untuk penderita darah tinggi?

Ya, Molexflu umumnya menyebabkan kantuk karena kandungan chlorpheniramine maleate, jadi jangan menyetir atau mengoperasikan mesin setelah meminumnya dan hindari alkohol. Untuk penderita hipertensi, obat ini tidak dianjurkan: kandungan phenylpropanolamine dapat menaikkan tekanan darah, dan kemasan obat flu ber-PPA memang wajib mencantumkan peringatan agar tidak digunakan penderita hipertensi maupun hipertiroid. Penderita penyakit jantung, glaukoma, pembesaran prostat, pengguna obat MAOI, serta anak di bawah 6 tahun juga sebaiknya menghindarinya. Bila Anda punya kondisi tersebut, mintalah alternatif obat flu yang lebih sesuai kepada dokter atau apoteker.

Obat Terkait (Dekongestan)

Lihat daftar lengkap di indeks obat.

Kondisi yang Umumnya Ditangani

Daftar ini menunjukkan kondisi yang umumnya ditangani dengan obat golongan Dekongestan — bukan anjuran pengobatan. Diagnosis dan pilihan obat harus ditentukan dokter.

Tools kesehatan terkait

Coba kalkulator gratis yang relevan dengan topik ini.

Referensi Medis

  1. 1. Alodokter - Molexflu: komposisi kaplet dan sirup, indikasi, serta golongan obat bebas terbatas
  2. 2. Cek Produk BPOM RI - verifikasi nomor izin edar obat
  3. 3. PIONAS BPOM - Pusat Informasi Obat Nasional

Disclaimer medis: Informasi obat ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi dokter atau apoteker. Selalu baca aturan pakai di kemasan dan ikuti anjuran tenaga medis berlisensi. Jangan menghentikan obat resep tanpa konsultasi.