Lewati ke konten
Penyakit Umum

Pterigium (Daging Tumbuh di Mata)

Juga dikenal sebagai: pterigium, daging tumbuh di mata, selaput mata

Pertumbuhan **selaput berdaging** dari sudut mata yang menjalar ke **kornea**. **Bukan kanker**, erat kaitannya dengan **paparan sinar matahari (UV)**.

Disusun Tim Redaksi SehatkuDiperbarui 5 Juni 2026
Ilustrasi mata yang teriritasi
Sehatku.id

Ringkasan

Pterigium adalah pertumbuhan jaringan berdaging pada selaput putih mata yang biasanya bermula dari sudut mata dekat hidung lalu perlahan menjalar ke arah kornea (bagian bening mata). Kondisi ini sangat umum di daerah tropis seperti Indonesia karena erat kaitannya dengan paparan sinar matahari (UV), debu, dan angin, sehingga sering dialami petani, nelayan, dan pekerja lapangan. Penting dipahami bahwa pterigium bukan kanker; pada tahap ringan biasanya hanya menimbulkan rasa mengganjal, namun bila tumbuh menutupi kornea dapat mengganggu penglihatan.

Gejala

  • Tampak selaput kemerahan di bagian putih mata, sering mulai dari sudut dekat hidung
  • Terasa mengganjal, kering, gatal, atau merah, terutama saat terkena debu dan angin
  • Mata mudah berair atau perih saat terpapar matahari
  • Bila menjalar menutupi kornea, penglihatan bisa kabur atau berbayang (kornea tertarik sehingga timbul astigmatisme)

Penyebab

  • Paparan sinar matahari (UV) dalam jangka panjang sebagai pemicu utama
  • Iritasi kronis akibat debu, angin, dan udara kering
  • Aktivitas yang lama di luar ruangan tanpa pelindung mata

Faktor Risiko

  • Tinggal di daerah tropis dengan sinar matahari kuat seperti Indonesia
  • Pekerjaan luar ruangan (petani, nelayan, pekerja lapangan, pedagang kaki lima)
  • Jarang memakai kacamata hitam pelindung UV atau topi
  • Sering terpapar debu dan angin

Kapan Harus ke Dokter?

  • Selaput terlihat makin meluas atau mulai mendekati bagian bening mata (kornea)
  • Penglihatan mulai terasa kabur, berbayang, atau berubah
  • Mata terus merah, mengganjal, atau perih meski sudah memakai air mata buatan
  • Untuk memastikan diagnosis dan membedakannya dari kelainan mata lain (pemeriksaan oleh dokter spesialis mata)

Pengobatan

  • Kasus ringan cukup dengan air mata buatan untuk meredakan rasa kering dan mengganjal
  • Menghindari pemicu dengan memakai kacamata hitam pelindung UV dan topi bertepi
  • Peradangan diredakan dengan tetes mata sesuai anjuran dokter (jangan memakai tetes steroid sembarangan tanpa pengawasan)
  • Bila sudah mengganggu penglihatan atau sangat mengganjal, dilakukan operasi pengangkatan pterigium
  • Pterigium bisa kambuh setelah operasi; tersedia teknik dengan cangkok jaringan (conjunctival graft) untuk menurunkan risiko kekambuhan

Pencegahan

  • Lindungi mata dari sinar matahari dengan kacamata hitam ber-proteksi UV
  • Gunakan topi bertepi lebar saat beraktivitas di luar ruangan
  • Lindungi mata dari debu dan angin, misalnya dengan kacamata pelindung saat bekerja
  • Jaga mata tetap lembap dengan air mata buatan bila sering berada di lingkungan kering dan berdebu

Estimasi Biaya

Penanganan ringan (air mata buatan dan pelindung mata) relatif murah; operasi pengangkatan dengan cangkok biayanya lebih tinggi dan bervariasi antar fasilitas.

💡 Strategi finansial untuk biaya pengobatan jangka panjang? Cek panduan dana darurat kesehatan di panduankeuangan.id

Pertanyaan Umum

Apakah pterigium berbahaya atau termasuk kanker?

Pterigium bukan kanker. Ini pertumbuhan jaringan jinak akibat iritasi menahun. Namun bila dibiarkan menjalar menutupi kornea, ia bisa mengganggu penglihatan, sehingga tetap perlu dipantau dokter mata.

Apakah pterigium bisa hilang sendiri tanpa operasi?

Pterigium tidak hilang sendiri. Pada kasus ringan, gejala bisa dikendalikan dengan air mata buatan dan menghindari paparan UV serta debu. Operasi baru dipertimbangkan bila sudah mengganggu penglihatan atau sangat mengganjal.

Setelah operasi, apakah bisa tumbuh lagi?

Bisa kambuh. Karena itu dokter sering memakai teknik dengan cangkok jaringan untuk menurunkan risiko kekambuhan, dan tetap menyarankan perlindungan dari sinar matahari setelahnya.

Referensi Medis

  1. 1. Kemenkes
  2. 2. PERDAMI
  3. 3. WHO

Disclaimer medis: Informasi di halaman ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter. Selalu konsultasikan kondisi kesehatan Anda dengan tenaga medis berlisensi.