Lewati ke konten
Penyakit Kronis

Sleep Apnea Obstruktif (OSA)

Juga dikenal sebagai: mendengkur berat, apnea tidur, henti napas saat tidur

Henti napas berulang saat tidur akibat penyempitan jalan napas. 25% pria + 10% wanita Indonesia ada, kebanyakan tidak terdiagnosis. Risk hipertensi + jantung + stroke + diabetes.

Direview dr. Andi Pratama, Sp.PD, M.KesDiperbarui 23 Mei 2026
Pasien tidur dengan masker CPAP untuk treatment sleep apnea obstruktif OSA

Ringkasan

OSA (Obstructive Sleep Apnea) terjadi saat otot tenggorokan rileks berlebihan saat tidur → jalan napas menyempit atau tertutup → henti napas (apnea) 10-60 detik → SpO₂ turun → otak bangunkan otot → ulang puluhan-ratusan kali/malam. Pasien jarang sadar — pasangan tidur yang biasanya menyadari karena mendengkur keras + henti napas. Dampak: tidur tidak nyenyak, ngantuk siang, hipertensi resisten, jantung, stroke, diabetes, kecelakaan kerja/lalu lintas.

Gejala

  • Mendengkur **keras dan tidak teratur** (henti-henti)
  • Henti napas saat tidur (saksikan oleh pasangan)
  • Terbangun mendadak dengan sesak/tersedak
  • Mulut kering + sakit tenggorokan saat bangun
  • Sakit kepala pagi hari
  • Mengantuk berlebihan di siang hari (EDS)
  • Sulit konsentrasi, irritability, depresi
  • Sering kencing malam (nokturia)
  • Penurunan libido + disfungsi ereksi
  • BB sulit turun walau diet/olahraga

Penyebab

  • Obesitas — leher gemuk → jalan napas sempit (penyebab #1)
  • Anatomi: tonsil/adenoid besar, lidah besar, rahang kecil
  • Usia: otot tenggorokan kendor seiring usia
  • Pria 2-3x lebih sering dari wanita
  • Hormon: pasca-menopause naik tajam
  • Alkohol + obat sedatif: otot tenggorokan extra rileks
  • Posisi tidur: telentang memperburuk
  • Hipotiroid (jarang)
  • Deviasi septum nasal

Faktor Risiko

  • BMI ≥30 (lingkar leher pria >43 cm, wanita >38 cm)
  • Usia >40 tahun
  • Pria
  • Pasca-menopause wanita
  • Riwayat keluarga OSA
  • Hipertensi resisten (3+ obat antihipertensi)
  • Diabetes Tipe 2
  • Atrial fibrilasi
  • Stroke sebelumnya
  • Sindrom Down, akromegali (high-risk khusus)

Kapan Harus ke Dokter?

  • Pasangan laporkan dengkuran keras + henti napas
  • Ngantuk siang yang mengganggu (mengemudi, bekerja)
  • Skor STOP-BANG ≥3
  • Skor Epworth ≥10 (ngantuk berlebihan)
  • Hipertensi resisten (3+ obat)
  • Aritmia jantung (atrial fibrilasi)
  • BMI ≥30 + ada gejala
  • Stroke / serangan jantung dengan profile risk OSA

Pengobatan

  • CPAP (Continuous Positive Airway Pressure) — gold standard untuk moderate-severe
  • BiPAP — untuk yang tidak toleran CPAP atau central apnea
  • Mandibular Advancement Device (MAD) — alternatif untuk mild-moderate
  • Penurunan berat badan: 10% BB turun = 26% turun severity
  • Hindari alkohol + sedatif malam
  • Tidur miring (positional therapy) — kalau OSA hanya saat telentang
  • Tonsilektomi (anak dominan, dewasa selektif)
  • UPPP (uvulopalatopharyngoplasty) — operasi untuk severe
  • Hypoglossal nerve stimulation (Inspire) — alternatif baru untuk CPAP-intolerant
  • Bariatric surgery untuk OSA + obesitas berat

Pencegahan

  • Maintain BMI <25 (paling efektif)
  • Olahraga rutin
  • Hindari alkohol + obat sedatif malam
  • Tidur miring
  • Cek + treat OSA pada anak dengan adenotonsillar hipertrofi
  • Skrining lansia + obesitas + hipertensi rutin

Estimasi Biaya

Konsultasi dokter tidur (Sp.P/Sp.S): Rp 300-700rb. Polisomnografi (PSG) overnight di klinik: Rp 5-15 juta. Home Sleep Test (HSAT): Rp 2-5 juta. CPAP machine: Rp 8-25 juta (one-time + masker ganti 6 bulan Rp 1-3 juta). MAD custom: Rp 5-15 juta. UPPP operasi: Rp 25-60 juta. BPJS cover PSG + CPAP dengan indikasi medis melalui rujukan Sp.P/Sp.S.

💡 Strategi finansial untuk biaya pengobatan jangka panjang? Cek panduan dana darurat kesehatan di panduankeuangan.id

Proteksi Kesehatan

Lindungi Keluarga dari Biaya Rumah Sakit yang Tinggi

Asuransi kesehatan Allianz cashless di 1500+ rumah sakit Indonesia. Konsultasikan kebutuhan keluarga Anda dengan agen tersertifikasi, gratis, tanpa kewajiban beli.

✓ Cashless 1500+ RS✓ Klaim cepat✓ Konsultasi gratis
Konsultasi Gratis

Pertanyaan Umum

CPAP harus dipakai seumur hidup?

IYA untuk kebanyakan kasus, KECUALI kalau penyebabnya bisa di-correct (turun BB signifikan, operasi anatomi sukses, dll). Kalau berhenti CPAP tanpa correction, OSA langsung kembali. Banyak yang lihat CPAP seperti "kacamata" — alat assistif jangka panjang, bukan penyakit yang sembuh.

Apple Watch / Fitbit bisa diagnose sleep apnea?

Untuk SCREENING — iya bantu. Apple Watch Series 10+ punya "Sleep Apnea Notifications" feature (akurat ~80%). Tapi untuk DIAGNOSIS pasti, butuh PSG atau Home Sleep Test medis. Wearable bagus untuk awareness + prompting ke dokter.

Anak saya mendengkur — perlu dicek OSA?

IYA kalau: mendengkur keras + tampak henti napas + tidur tidak nyenyak + ngantuk siang + prestasi sekolah turun + ADHD-like behavior + BB rendah/tinggi tidak normal. Penyebab #1 OSA anak: tonsil/adenoid besar. Tonsilektomi sering KURATIF. Konsultasi Sp.A atau Sp.THT.

Referensi Medis

  1. 1. AASM - Clinical Practice Guideline for OSA
  2. 2. PDPI - Pedoman Sleep Medicine Indonesia

Disclaimer medis: Informasi di halaman ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter. Selalu konsultasikan kondisi kesehatan Anda dengan tenaga medis berlisensi.