Defisiensi Vitamin B12: Gejala Tersembunyi yang Sering Tertukar dengan Penyakit Lain
Gizi & Nutrisi
Defisiensi Vitamin B12: Gejala Tersembunyi yang Sering Tertukar dengan Penyakit Lain
Vitamin B12 hanya dari makanan hewani — vegetarian + vegan + lansia + pengguna PPI lama berisiko tinggi defisiensi. Gejala neurologis sering muncul sebelum anemia, dan kerusakan saraf bisa permanen kalau telat treatment.
Tim Redaksi Sehatku
Direview dr. Andi Pratama, Sp.PD, M.Kes7 menit baca24 Mei 2026Diperbarui 24 Mei 2026
Vitamin B12 (kobalamin) adalah salah satu vitamin paling sering defisiensi di Indonesia — diestimasi 15-25% populasi memiliki kadar suboptimal (kurang dari ideal walaupun tidak full deficient). Yang berbahaya: gejala awal sering disalah-diagnosis sebagai depresi, kelelahan kronis, demensia, atau bahkan multiple sclerosis. Kerusakan saraf akibat defisiensi B12 berkepanjangan bisa permanen kalau telat treatment.
Kenapa B12 penting?
Fungsi vital
Pembentukan sel darah merah (mencegah anemia megaloblastik)
❌ Hanya naik daging tanpa cek lab (tidak tahu kalau ada gangguan absorpsi)
❌ Suntik B12 estetik tanpa indikasi medis (tidak ada manfaat untuk yang tidak defisiensi)
💡 Bottom line: B12 defisiensi murah cara cek (~Rp 300rb) tapi mahal kalau diabaikan (kerusakan saraf permanen). Kalau ada gejala tidak jelas yang persisten — lelah berkepanjangan, kesemutan, brain fog — minta dokter cek serum B12. Khususnya vegetarian, vegan, dan pengguna PPI/metformin lama.
Disclaimer medis: Artikel ini bersifat edukatif dan tidak dapat menggantikan konsultasi langsung dengan dokter. Selalu konsultasikan kondisi kesehatan Anda dengan tenaga medis berlisensi sebelum mengambil keputusan terkait perawatan.