Vitamin D3 vs D2: Mana Lebih Baik? Dosis + Sumber Indonesia
Gizi & Nutrisi
Vitamin D3 vs D2: Mana Lebih Baik? Dosis + Sumber Indonesia
80% orang Indonesia defisien vitamin D meski tinggal di negara tropis. D3 lebih efektif dari D2. Dosis harian, sumber alami, dan kapan benar-benar butuh suplemen.
Tim Redaksi Sehatku
Direview dr. Andi Pratama, Sp.PD, M.Kes6 menit baca24 Mei 2026Diperbarui 24 Mei 2026
Vitamin D bukan vitamin biasa — ini sebenarnya prohormone yang fungsinya jauh lebih luas dari sekedar tulang. Mengatur 1.000+ gen, mempengaruhi sistem imun, hormonal, otot, dan bahkan mood.
Survey Kemenkes 2024: 80% orang Indonesia defisien atau insufisien vitamin D — meski matahari berlimpah. Defisiensi terkait risiko diabetes, depresi, infeksi berulang, osteoporosis, dan beberapa kanker.
Tapi soal suplemen, banyak yang bingung: D2 atau D3?
Beda D2 vs D3
Sumber
D2 (ergocalciferol) — dari sumber tumbuhan + jamur (jamur yang diberi UV light, alga). Sering ada di supplement vegan.
D3 (cholecalciferol) — dari sumber hewani + sintesis kulit kita sendiri. Sumber: minyak ikan, hati, telur, atau lanolin (wool sheep) yang diolah.
Efektivitas
Studi meta-analysis 2017 (BMC Public Health): pada dosis yang sama, D3 menaikkan kadar darah 25(OH)D 87% lebih banyak dari D2.
Stabilitas
D3 lebih stabil di darah (half-life ~24 jam vs D2 ~14 jam)
D3 lebih efektif diubah jadi bentuk aktif 1,25(OH)D di ginjal
Bottom line
D3 lebih baik untuk hampir semua kasus. Pilih D2 hanya kalau ketat vegan + tidak ada pilihan D3 lichen-derived.
Kenapa Indonesia tropis tapi defisien?
Paradoks ini sering muncul. Penyebab:
1. Kurang paparan langsung kulit
Berbaju panjang (kultur + iklim panas tidak ingin terbakar)
Beraktivitas di dalam (kantor, mall, rumah)
Pakai sunscreen SPF 15+ memblok 99% sintesis vitamin D di kulit
2. Jam paparan tidak optimal
UV-B (yang membuat vitamin D) puncaknya jam 10:00-15:00 — justru jam orang menghindari panas
Pagi/sore: UV-A dominant, tidak buat vitamin D (tapi tetap bisa bakar kulit dan picu pigmentasi)
3. Polusi udara
Jakarta + kota besar = PM2.5 tinggi memblok UV-B 30-60%
Kabut + asap kebakaran lahan musiman makin parah
4. Pigmentasi kulit
Kulit lebih gelap = melanin lebih banyak = butuh paparan 3-5x lebih lama untuk sintesis vitamin D yang sama vs kulit putih
Orang Indonesia rata-rata kulit type IV-V Fitzpatrick → butuh paparan 25-45 menit/hari (lengan + kaki terbuka)
5. Diet rendah vitamin D
Sumber utama: ikan berlemak (salmon, sarden, makarel), kuning telur, susu fortifikasi
Konsumsi ikan berlemak Indonesia: relatif rendah (~10 kg/orang/tahun vs Jepang 50 kg)
Susu fortifikasi vitamin D belum standar mandatory di Indonesia
Dosis harian rekomendasi
Rekomendasi Indonesia (PERKENI + IOI 2024)
Kelompok
Dosis maintenance
Dosis terapi defisiensi
Bayi 0-12 bulan
400 IU/hari
1.000-2.000 IU/hari (resep dokter)
Anak 1-18 tahun
600-1.000 IU/hari
2.000-4.000 IU/hari
Dewasa 19-70 tahun
1.000-2.000 IU/hari
4.000-6.000 IU/hari
Lansia >70 tahun
1.500-2.000 IU/hari
4.000-6.000 IU/hari
Bumil + menyusui
1.500-2.000 IU/hari
4.000-6.000 IU/hari
Cek dulu dengan tes 25(OH)D
Normal: 30-100 ng/mL
Insufisien: 20-30 ng/mL
Defisien: <20 ng/mL
Toxic: >150 ng/mL (sangat jarang dengan dosis biasa)
Biaya tes: Rp 200-400rb (Prodia, Kimia Farma, lab RS). BPJS cover dengan indikasi (osteoporosis, frailty, infeksi berulang, dll).
Sumber alami Indonesia
Sumber
Vitamin D per 100g
Minyak hati ikan kod
10.000 IU (sangat tinggi!)
Salmon liar
600-1.000 IU
Sarden kalengan
270 IU
Telur (1 butir)
40 IU
Tuna kalengan
200 IU
Jamur shitake (UV-treated)
1.000 IU
Susu fortifikasi (1 gelas)
100 IU
Sinar matahari (gratis tapi underutilized)
Jam 10:00-14:00 = optimal UV-B
15-30 menit untuk kulit type III; 30-45 menit type IV-V
Lengan + kaki terbuka (tidak butuh muka)
Tanpa sunscreen
3-4x seminggu cukup untuk maintain kadar
Tip Indonesia praktis: jalan kaki ke tempat makan jam 12:30, parkir agak jauh, pakai lengan pendek = paparan cukup tanpa effort khusus.
Bahaya overdose
Vitamin D adalah fat-soluble — bisa toxic kalau berlebihan (beda dari B atau C yang water-soluble).
Toxic >150 ng/mL
Hiperkalsemia (kalsium darah tinggi) → mual, muntah, dehidrasi, batu ginjal, aritmia
Toksisitas biasanya butuh >50.000 IU/hari selama >2-3 bulan
Dosis biasa 1.000-4.000 IU/hari = sangat aman jangka panjang
Dosis loading (resep dokter)
50.000 IU 1x/minggu × 8 minggu untuk defisiensi berat
Lalu maintenance 1.000-2.000 IU/hari
Re-test 3 bulan kemudian
Hindari
❌ Mega-dosis self-medication 50.000+ IU/hari
❌ Suplemen tanpa cek kadar darah dulu (kalau Anda sudah cukup, lebih banyak = sia-sia + risk)
❌ Kombinasi dengan kalsium dosis tinggi (>1.500 mg/hari) tanpa supervisi
Disclaimer medis: Artikel ini bersifat edukatif dan tidak dapat menggantikan konsultasi langsung dengan dokter. Selalu konsultasikan kondisi kesehatan Anda dengan tenaga medis berlisensi sebelum mengambil keputusan terkait perawatan.