Lewati ke konten
Penyakit

Hepatitis B Kronik: Pengobatan, Risiko, dan Pencegahan

Hepatitis B kronik bisa berkembang ke sirosis dan kanker hati dalam 20-30 tahun. Tapi dengan obat modern, virus bisa ditekan permanent.

Tim Redaksi Sehatku
Direview dr. Andi Pratama, Sp.PD, M.Kes6 menit baca18 Mei 2026Diperbarui 18 Mei 2026
Anatomi organ hati untuk edukasi hepatitis B kronik

Hepatitis B (HBV) menyerang hati. Indonesia: prevalensi 7-9% = 18 juta pengidap (endemik moderate-tinggi). Mayoritas tidak tahu sampai komplikasi muncul 20-30 tahun kemudian.

Apa itu hepatitis B kronik?

Infeksi HBV bisa berakhir dalam 2 cara:

  • Akut: tubuh berhasil bersihkan virus dalam 6 bulan (90% dewasa)
  • Kronik: virus menetap >6 bulan
  • 90% bayi terinfeksi → kronik
  • 30% anak (1-5 thn) → kronik
  • 5-10% dewasa → kronik

Penularan utama di Indonesia: vertikal ibu-ke-bayi saat persalinan. Juga: hubungan seksual, jarum suntik bersama, tato/tindik tidak steril, transfusi (jarang sekarang karena skrining).

Gejala (sering tidak ada)

Fase akut

  • Mual, muntah
  • Lelah berat
  • Kuning (jaundice) - kulit & mata
  • Nyeri perut kanan atas
  • Urine gelap, tinja pucat
  • Demam ringan

Fase kronik

Gejala muncul saat sirosis lanjut atau kanker:

  • Lelah persisten
  • Mual, anoreksia
  • BB turun
  • Bengkak perut (asites)
  • Pendarahan / memar mudah
  • Kuning
  • Edema kaki
Proteksi Kesehatan

Lindungi Keluarga dari Biaya Rumah Sakit yang Tinggi

Asuransi kesehatan Allianz cashless di 1500+ rumah sakit Indonesia. Konsultasikan kebutuhan keluarga Anda dengan agen tersertifikasi, gratis, tanpa kewajiban beli.

✓ Cashless 1500+ RS✓ Klaim cepat✓ Konsultasi gratis
Konsultasi Gratis

Kapan butuh obat antivirus?

Tidak semua pengidap HBV butuh obat

Klasifikasi pasien:

1. Inactive carrier - virus terkontrol tubuh

  • HBeAg negatif, HBV DNA rendah, ALT normal
  • TIDAK perlu obat, hanya monitoring

2. Imun aktif kronik HBeAg+

  • HBeAg positif, HBV DNA tinggi, ALT tinggi
  • PERLU obat

3. Imun aktif kronik HBeAg-

  • HBeAg negatif tapi HBV DNA & ALT tinggi
  • PERLU obat

4. Reaktivasi

  • Pernah tidur, kemudian aktif lagi
  • PERLU obat

Obat antivirus untuk HBV

Tenofovir (Viread, TDF/TAF)

  • Lini pertama
  • Resistensi sangat rendah
  • Efek samping: ginjal & tulang (TAF lebih aman)
  • Diminum seumur hidup atau setelah HBsAg loss

Entecavir (Baraclude)

  • Lini pertama alternatif
  • Resistensi rendah
  • Aman ginjal
  • Minum saat perut kosong

Pegylated Interferon (Peg-IFN)

  • Kursus 48 minggu (bukan seumur hidup)
  • Efek samping berat: flu-like, depresi, anemia
  • Pilihan untuk pasien muda HBeAg+ tertentu

Goal terapi

  • HBV DNA tidak terdeteksi (PCR)
  • ALT normal
  • HBeAg seroconversion (untuk yang HBeAg+)
  • HBsAg loss = "sembuh fungsional" (jarang tercapai, ~5-10%)

Monitoring rutin & cegah kanker hati

Untuk semua pengidap HBV kronik

Tiap 6 bulan:

  • ALT, AST (fungsi hati)
  • HBV DNA quantitative
  • USG hati
  • AFP (alpha-fetoprotein) - marker kanker hati

Tiap 1-2 tahun:

  • HBeAg / Anti-HBe
  • Fibroscan (cek fibrosis hati)
  • Echo, EKG (jika pakai TAF)

Skrining kanker hati (HCC)

Pasien HBV punya risiko HCC 100x lipat populasi umum.

Wajib skrining tiap 6 bulan jika:

  • Sirosis (semua etiologi)
  • Pria HBV >40 tahun
  • Wanita HBV >50 tahun
  • Riwayat keluarga HCC
  • HBV DNA persistent tinggi

Skrining: USG hati + AFP.

Lifestyle untuk pengidap HBV

  • Stop alkohol total (alkohol percepat sirosis 5-10x)
  • Vaksin hepatitis A (jika belum)
  • Hindari obat hepatotoksik: paracetamol dosis tinggi, herbal tertentu, jamu
  • Berat badan ideal - obesitas + HBV = NAFLD-overlap, percepat sirosis
  • Hindari makanan mentah dari sumber tidak jelas
  • Olahraga rutin

Pencegahan & vaksinasi

Vaksin Hepatitis B

Bayi: program imunisasi nasional

  • HB-0: dalam 24 jam setelah lahir
  • DPT-HB-Hib: 2, 3, 4 bulan
  • Booster usia 18 bulan

Dewasa berisiko (3 dosis: 0, 1, 6 bulan):

  • Tenaga medis
  • Pasien dialisis
  • HIV+
  • Pasangan/serumah pengidap HBV
  • Pengguna NAPZA suntik
  • Multiple sexual partners
  • Belum pernah vaksin saat bayi

Cek anti-HBs setelah vaksin (1-2 bulan):

  • ≥10 mIU/mL = protektif
  • <10 = booster 1 dosis, cek ulang
  • Non-responder (setelah 6 dosis tetap negatif) - skrining HBsAg

Pencegahan vertikal (ibu-ke-bayi)

Ibu hamil HBsAg+ wajib:

  1. Antivirus tenofovir trimester 3 jika HBV DNA tinggi (>200.000 IU/mL)
  2. Bayi: HBIG (immunoglobulin) + vaksin HepB dalam 12 jam lahir
  3. Lanjut vaksin sesuai jadwal
  4. Tes anti-HBs & HBsAg pada bayi usia 9-12 bulan
  5. ASI tetap aman (TIDAK menularkan jika regimen di atas dilakukan)

Pencegahan lain

  • Hubungan seks aman (kondom)
  • Jangan share: sikat gigi, cukur, jarum, alat kuku
  • Tato/tindik hanya di tempat steril dengan jarum baru
  • Donor darah: skrining wajib di PMI

Asuransi kesehatan keluarga dari Allianz

Cashless 1500+ RS · Klaim 24 jam · Konsultasi gratis

Lihat Detail

Referensi Medis

  1. 1. AASLD Hepatitis B Guidelines
  2. 2. WHO Hepatitis B Fact Sheet

Disclaimer medis: Artikel ini bersifat edukatif dan tidak dapat menggantikan konsultasi langsung dengan dokter. Selalu konsultasikan kondisi kesehatan Anda dengan tenaga medis berlisensi sebelum mengambil keputusan terkait perawatan.

Bagikan artikel ini

Penulis

Direview oleh

AP
dr. Andi Pratama, Sp.PD, M.Kes

Spesialis Penyakit Dalam

Direview: 15 Mei 2026