Lewati ke konten
Obat BatukBebas (tanpa resep)

Dextral

Dextral adalah **obat batuk dan pilek kombinasi** yang berisi empat zat aktif sekaligus, yaitu **dextromethorphan HBr** (menekan refleks batuk), **guaifenesin atau glyceryl guaiacolate** (mengencerkan dahak), **phenylpropanolamine HCl** (melegakan hidung tersumbat), dan **chlorpheniramine maleate (CTM)** (meredakan bersin, hidung meler, dan gejala alergi). Produk keluaran **Molex Ayus Pharmaceutical** ini digolongkan sebagai **obat bebas terbatas** (lingkaran biru bergaris tepi hitam dengan tanda peringatan), sehingga bisa dibeli tanpa resep dokter tetapi tetap harus dipakai sesuai aturan pada kemasan. Karena Dextral adalah **produk kombinasi, bukan obat batuk zat tunggal**, semua peringatan untuk keempat zat aktifnya berlaku sekaligus. Obat ini **meredakan gejala**, bukan menyembuhkan infeksi penyebab flu, dan **bukan antibiotik**.

Nama generik
Dextromethorphan HBr + Guaifenesin (Glyceryl Guaiacolate) + Phenylpropanolamine HCl + Chlorpheniramine maleate (CTM)
Nama dagang
Dextral
Disusun Tim Redaksi SehatkuDiperbarui 9 Agustus 2026

Indikasi (Untuk apa)

  • Meringankan gejala batuk dan pilek atau flu yang muncul bersamaan, baik batuk kering (tidak berdahak) maupun batuk berdahak
  • Meredakan hidung tersumbat akibat pembengkakan selaput lendir hidung, lewat kerja dekongestan phenylpropanolamine HCl
  • Mengurangi bersin-bersin, hidung meler (rinorea), dan gatal di tenggorokan akibat influenza maupun reaksi alergi, lewat kerja antihistamin chlorpheniramine maleate
  • Menekan refleks batuk yang mengganggu melalui kerja sentral dextromethorphan HBr di pusat batuk otak
  • Membantu mengencerkan dahak sehingga lebih mudah dikeluarkan, lewat kerja ekspektoran guaifenesin (glyceryl guaiacolate)

Dosis

Dewasa
Dextral beredar dalam beberapa bentuk sediaan, yaitu kaplet/tablet, sirup, serta Dextral Forte yang komposisinya berbeda dari Dextral reguler. Karena itu, aturan pakai wajib mengikuti petunjuk yang tercetak pada kemasan atau anjuran dokter/apoteker, dan tidak boleh disamaratakan antar bentuk sediaan. Jangan melebihi dosis maksimal yang tertera pada kemasan, dan hindari meminum Dextral bersamaan dengan obat flu atau obat batuk lain karena berisiko dosis ganda zat aktif yang sama. Untuk sirup, gunakan sendok takar bawaan kemasan, bukan sendok makan biasa. Hentikan pemakaian dan periksakan diri bila keluhan tidak membaik dalam beberapa hari.
Anak
Obat flu dan batuk kombinasi seperti Dextral tidak dianjurkan untuk anak di bawah 6 tahun tanpa petunjuk dokter, karena mengandung dekongestan phenylpropanolamine dan antihistamin penyebab kantuk. Untuk anak yang lebih besar, pemberian harus sesuai petunjuk pada kemasan sediaan yang dipakai dan sebaiknya dikonsultasikan lebih dulu ke dokter atau apoteker. Jangan pernah membelah kaplet dewasa atau menakar sendiri dari dosis dewasa, dan jangan memberikan lebih dari satu obat flu sekaligus kepada anak.
Lansia
Pasien lanjut usia lebih rentan terhadap efek kantuk berat, kebingungan, risiko jatuh, mulut kering, retensi urin, dan kenaikan tekanan darah akibat kandungan CTM dan phenylpropanolamine. Sebaiknya konsultasikan ke dokter terlebih dahulu, terutama bila ada riwayat hipertensi, penyakit jantung, glaukoma, gangguan ginjal, atau pembesaran prostat, dan gunakan dosis paling rendah yang tertera pada kemasan.

Efek Samping

  • Mengantuk berat dan penurunan kewaspadaan (efek khas chlorpheniramine maleate/CTM)
  • Mulut, hidung, dan tenggorokan terasa kering
  • Pusing, sakit kepala, atau rasa melayang
  • Jantung berdebar (palpitasi), gelisah, gugup, atau sulit tidur akibat efek stimulan phenylpropanolamine
  • Peningkatan tekanan darah, terutama pada pengguna yang sudah punya hipertensi
  • Mual, nyeri ulu hati, atau gangguan pencernaan ringan
  • Penglihatan kabur dan kesulitan buang air kecil (retensi urin) akibat efek antikolinergik antihistamin
  • Sembelit atau nafsu makan menurun
  • Reaksi alergi seperti ruam dan gatal (jarang, hentikan pemakaian bila muncul)

Kontraindikasi (Tidak boleh untuk)

  • Riwayat hipersensitivitas atau alergi terhadap salah satu zat aktif Dextral
  • Hipertensi (tekanan darah tinggi) dan penyakit jantung berat termasuk gangguan irama jantung, karena phenylpropanolamine dapat menaikkan tekanan darah
  • Hipertiroid (tiroid terlalu aktif)
  • Pasien yang sedang atau baru saja (dalam 14 hari terakhir) menggunakan obat golongan MAOI
  • Glaukoma sudut tertutup
  • Retensi urin atau pembesaran prostat yang menyulitkan buang air kecil
  • Bayi, balita, dan anak di bawah 6 tahun tanpa petunjuk dokter
  • Serangan asma akut, batuk kronis pada bronkitis kronis atau emfisema, dan gangguan pernapasan berat, karena penekanan refleks batuk dapat menghambat pengeluaran dahak

Interaksi dengan Obat Lain

  • Obat golongan MAOI (termasuk beberapa antidepresan dan antiparkinson): kombinasi dengan dextromethorphan maupun phenylpropanolamine sangat berbahaya dan dapat memicu krisis hipertensi serta sindrom serotonin - jangan digunakan bersamaan atau dalam 14 hari setelah MAOI dihentikan
  • Antidepresan SSRI/SNRI dan obat serotonergik lain: bersama dextromethorphan meningkatkan risiko sindrom serotonin (gelisah, demam, kaku otot, jantung berdebar)
  • Alkohol, obat tidur, obat penenang, dan obat antinyeri opioid: memperberat efek kantuk dan penekanan sistem saraf pusat dari chlorpheniramine
  • Obat flu, batuk, atau pilek lain yang dijual bebas: berisiko dosis ganda karena banyak yang mengandung dextromethorphan, CTM, atau dekongestan yang sama
  • Obat antihipertensi: phenylpropanolamine dapat mengurangi efektivitas obat penurun tekanan darah
  • Obat berefek antikolinergik lain (misalnya antispasmodik atau antidepresan trisiklik): memperberat mulut kering, sembelit, penglihatan kabur, dan retensi urin

Peringatan Penting

  • Dextral menyebabkan kantuk berat karena kandungan CTM. Jangan menyetir, mengoperasikan mesin, atau melakukan pekerjaan yang butuh kewaspadaan setelah meminumnya, dan hindari alkohol.
  • Dextral adalah produk kombinasi empat zat aktif, bukan obat batuk tunggal. Jangan meminumnya bersamaan dengan obat flu atau batuk lain tanpa saran apoteker, karena zat aktif yang sama bisa menumpuk melebihi dosis aman.
  • Kandungan phenylpropanolamine (PPA) membuat obat ini tidak cocok untuk penderita hipertensi, penyakit jantung, hipertiroid, diabetes, atau riwayat stroke tanpa saran dokter. BPOM membatasi kadar PPA dalam obat flu dan batuk (maksimal 15 mg per takaran) dan mewajibkan peringatan tersebut tercantum pada kemasan, sehingga dosis pada kemasan tidak boleh dilampaui.
  • Perlu diketahui agar tidak salah paham saat membaca sumber luar negeri: produk PPA ditarik dari peredaran di Amerika Serikat sejak tahun 2000 karena dikaitkan dengan risiko stroke perdarahan, terutama pada dosis tinggi dan pemakaian sebagai pelangsing - indikasi yang tidak pernah disetujui di Indonesia. BPOM tidak menarik obat flu dan batuk berisi PPA di Indonesia, tetapi membatasi kadar serta penggunaannya seperti di atas.
  • Soal dextromethorphan: BPOM membatalkan izin edar obat dekstrometorfan sediaan tunggal lewat SK No. HK.04.1.35.06.13.3534 tanggal 27 Juni 2013 karena rawan disalahgunakan. Pembatalan itu hanya untuk sediaan tunggal - sediaan kombinasi seperti Dextral tetap diizinkan beredar dan tidak ditarik. Meski begitu, dextromethorphan tetap punya potensi penyalahgunaan pada dosis tinggi yang dapat menimbulkan halusinasi, gangguan kesadaran, hingga keracunan, sehingga Dextral hanya boleh dipakai sesuai dosis pada kemasan dan tidak boleh dikonsumsi berlebihan atau di luar tujuan pengobatan gejala.
  • Dextral termasuk obat bebas terbatas (lingkaran biru bergaris tepi hitam disertai tanda peringatan), bukan narkotika dan bukan psikotropika, sehingga dapat dibeli tanpa resep. Namun obat golongan obat keras (lingkaran merah bertanda huruf K) tetap wajib dibeli dan digunakan dengan resep dokter serta tidak boleh dipakai untuk pengobatan sendiri - jangan pernah menggantinya sendiri.
  • Beri tahu dokter atau apoteker bila Anda punya riwayat alergi obat, terutama terhadap antihistamin, dekongestan, atau obat flu lain. Hentikan pemakaian dan cari pertolongan medis segera bila muncul ruam luas, bengkak pada wajah, bibir, atau lidah, atau sesak napas setelah minum obat.
  • Selalu cek keaslian dan status izin edar produk di cekbpom.pom.go.id sebelum membeli, dengan mencocokkan nomor registrasi pada kemasan. Nomor berawalan DTL menandakan produk Dagang, bebas Terbatas, produksi Lokal. Bila nomor pada kemasan tidak ditemukan di database BPOM, jangan digunakan.
  • Segera periksakan diri ke dokter bila batuk tidak membaik dalam beberapa hari atau disertai demam tinggi, sesak napas, nyeri dada, dahak berdarah, atau penurunan kesadaran, dan bila muncul jantung berdebar hebat, tekanan darah melonjak, atau kebingungan setelah minum obat ini.
  • Ibu hamil, ibu menyusui, serta penderita diabetes, penyakit ginjal, atau penyakit hati wajib berkonsultasi dengan dokter sebelum menggunakan Dextral. Komposisi produk juga dapat berubah bila produsen melakukan reformulasi, jadi baca ulang komposisi dan aturan pakai pada kemasan terbaru.

Kategori Ibu Hamil (FDA)

Belum diklasifikasi

Pertanyaan Umum

Dextral obat apa?

Dextral adalah obat batuk dan pilek kombinasi dari Molex Ayus Pharmaceutical yang berisi empat zat aktif: dextromethorphan HBr untuk menekan refleks batuk, guaifenesin (glyceryl guaiacolate) untuk mengencerkan dahak, phenylpropanolamine HCl untuk melegakan hidung tersumbat, dan chlorpheniramine maleate (CTM) untuk meredakan bersin serta hidung meler. Obat ini dipakai untuk meringankan gejala flu dan batuk, baik batuk kering maupun berdahak, yang disertai hidung tersumbat dan gatal di tenggorokan. Dextral tersedia dalam bentuk kaplet/tablet, sirup, dan Dextral Forte yang komposisinya berbeda, serta termasuk obat bebas terbatas sehingga bisa dibeli tanpa resep dokter. Karena isinya kombinasi, Dextral bukan obat batuk zat tunggal dan hanya meredakan gejala, jadi jangan dikonsumsi bersama obat flu lain yang mengandung zat aktif sama.

Apakah Dextral menyebabkan kantuk dan aman diminum sebelum menyetir?

Ya, Dextral sangat sering menyebabkan kantuk berat karena mengandung chlorpheniramine maleate (CTM), yaitu antihistamin generasi pertama yang menembus otak. Karena itu jangan menyetir, mengendarai motor, atau mengoperasikan mesin setelah meminumnya, dan hindari alkohol maupun obat penenang yang memperberat efek tersebut. Sebaiknya minum Dextral saat Anda bisa beristirahat, misalnya menjelang tidur, sesuai aturan pada kemasan. Selain kantuk, obat ini juga dapat menimbulkan mulut kering, pusing, jantung berdebar, dan kenaikan tekanan darah akibat kandungan phenylpropanolamine.

Apakah Dextral ditarik BPOM karena mengandung dextromethorphan dan PPA?

Tidak. Dextral masih beredar legal di Indonesia dan tidak ditarik BPOM. Yang dibatalkan izin edarnya oleh BPOM pada 2013 (SK HK.04.1.35.06.13.3534, 27 Juni 2013) adalah obat dekstrometorfan sediaan tunggal karena rawan disalahgunakan; sediaan kombinasi seperti Dextral tetap diizinkan beredar. Untuk phenylpropanolamine (PPA), BPOM menyatakan tidak menarik obat flu dan batuk berisi PPA di Indonesia, tetapi membatasi kadarnya (maksimal 15 mg per takaran) dan mewajibkan peringatan bagi penderita hipertensi dan hipertiroid pada kemasan. Penarikan produk PPA di Amerika Serikat sejak tahun 2000 terkait risiko stroke perdarahan pada dosis tinggi, terutama pemakaian sebagai pelangsing yang tidak pernah disetujui di Indonesia. Untuk memastikan produk yang Anda beli asli dan terdaftar, cek nomor izin edarnya di cekbpom.pom.go.id.

Obat Terkait (Obat Batuk)

Lihat daftar lengkap di indeks obat.

Kondisi yang Umumnya Ditangani

Daftar ini menunjukkan kondisi yang umumnya ditangani dengan obat golongan Obat Batuk — bukan anjuran pengobatan. Diagnosis dan pilihan obat harus ditentukan dokter.

Referensi Medis

  1. 1. BPOM RI - Pembatalan Izin Edar Obat yang Mengandung Dekstrometorfan Sediaan Tunggal (SK HK.04.1.35.06.13.3534, 27 Juni 2013)
  2. 2. BPOM RI - Keterangan pers tentang obat flu dan batuk yang mengandung Phenylpropanolamine (PPA)
  3. 3. Cek Produk BPOM - verifikasi nomor izin edar obat

Disclaimer medis: Informasi obat ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi dokter atau apoteker. Selalu baca aturan pakai di kemasan dan ikuti anjuran tenaga medis berlisensi. Jangan menghentikan obat resep tanpa konsultasi.