Lewati ke konten
Antiepilepsi / AntikejangResep dokter

Fenitoin

Fenitoin adalah **obat antikejang (antikonvulsan)** dengan zat aktif **fenitoin natrium (phenytoin sodium)** dari golongan **hidantoin**. Obat ini dipakai untuk mengendalikan dan mencegah **kejang pada epilepsi**, terutama kejang tonik-klonik umum dan kejang parsial atau psikomotor (lobus temporalis). Sediaan injeksinya digunakan untuk **status epileptikus** serta pencegahan dan penanganan kejang pada prosedur bedah saraf. Fenitoin berstatus **obat keras** (daftar G) sehingga hanya boleh dibeli dan digunakan dengan **resep dokter**.

Nama generik
Fenitoin natrium (phenytoin sodium)
Nama dagang
Fenitoin
Disusun Tim Redaksi SehatkuDiperbarui 9 Agustus 2026

Indikasi (Untuk apa)

  • Mengendalikan dan mencegah kejang tonik-klonik umum (grand mal) pada penderita epilepsi
  • Mengendalikan kejang parsial kompleks atau kejang psikomotor yang berasal dari lobus temporalis
  • Penanganan status epileptikus (kejang yang berlangsung terus-menerus) melalui sediaan injeksi di fasilitas kesehatan
  • Pencegahan dan penanganan kejang yang terjadi selama atau setelah prosedur bedah saraf seperti kraniotomi
  • Terapi nyeri pada neuralgia trigeminal sebagai alternatif bila obat lini pertama tidak cocok
  • Catatan penting: fenitoin tidak diindikasikan untuk kejang yang disebabkan hipoglikemia atau gangguan metabolik lain, karena yang harus diatasi adalah penyebab dasarnya

Dosis

Dewasa
Fenitoin memiliki indeks terapi sempit, sehingga dosisnya selalu ditentukan dan disesuaikan secara individual oleh dokter berdasarkan berat badan, jenis kejang, dan respons pasien. Di Indonesia sediaan kapsul umumnya tersedia dalam kekuatan 30 mg dan 100 mg, dan sediaan injeksi 50 mg/mL untuk penggunaan di rumah sakit. Jangan menghitung atau mengubah dosis sendiri: ikuti petunjuk pada kemasan atau resep dokter. Telan kapsul utuh dengan air, pada waktu yang sama setiap hari agar kadar obat dalam darah stabil. Dokter biasanya meminta pemeriksaan kadar fenitoin dalam darah secara berkala karena kenaikan dosis kecil saja dapat memicu lonjakan kadar plasma dan gejala keracunan.
Anak
Dosis anak dihitung berdasarkan berat badan dan wajib ditetapkan oleh dokter spesialis anak atau saraf. Pemantauan pertumbuhan, kesehatan gusi, dan kadar obat dalam darah biasanya diperlukan selama terapi jangka panjang. Jangan memberikan fenitoin kepada anak tanpa resep dan pengawasan dokter.
Lansia
Pasien lanjut usia, pasien dengan gangguan fungsi hati, serta pasien dengan kadar albumin darah rendah umumnya memerlukan dosis lebih rendah karena obat lebih lambat dibersihkan dari tubuh dan risiko toksisitas meningkat. Penyesuaian dosis harus dilakukan oleh dokter.

Efek Samping

  • Pusing, mengantuk, dan lemas, terutama pada awal terapi atau setelah dosis dinaikkan
  • Tanda kadar obat berlebih: gerakan mata bergetar (nistagmus), jalan sempoyongan atau tidak seimbang (ataksia), bicara pelo (disartria), pandangan kabur atau ganda, dan bingung
  • Pembesaran atau pembengkakan gusi (hiperplasia gingiva) yang khas pada pemakaian jangka panjang, sehingga kebersihan mulut harus dijaga ketat
  • Pertumbuhan rambut berlebih (hirsutisme), penebalan kulit wajah, dan jerawat
  • Gangguan saluran cerna: mual, muntah, nyeri ulu hati, dan sembelit
  • Ruam kulit yang dapat berkembang menjadi reaksi berat (lihat bagian peringatan) serta demam dan pembesaran kelenjar getah bening
  • Gangguan darah seperti anemia, penurunan sel darah putih, atau gangguan pembekuan, yang biasanya terdeteksi lewat pemeriksaan laboratorium
  • Gangguan fungsi hati, penurunan kepadatan tulang (osteomalasia) pada pemakaian bertahun-tahun, serta perubahan suasana hati atau gangguan konsentrasi

Kontraindikasi (Tidak boleh untuk)

  • Riwayat alergi atau hipersensitivitas terhadap fenitoin maupun obat lain golongan hidantoin
  • Riwayat reaksi kulit berat atau gangguan hati akibat fenitoin sebelumnya
  • Untuk sediaan injeksi: bradikardia sinus (denyut jantung sangat lambat), blok sinoatrial, blok atrioventrikular derajat dua dan tiga, serta sindrom Adams-Stokes
  • Bukan pilihan untuk kejang akibat hipoglikemia atau penyebab metabolik lain

Interaksi dengan Obat Lain

  • Fenitoin adalah penginduksi enzim hati (CYP450) yang kuat, sehingga dapat menurunkan efektivitas banyak obat lain seperti kontrasepsi hormonal (pil KB), warfarin, kortikosteroid, siklosporin, doksisiklin, dan beberapa obat antivirus
  • Kadar fenitoin dapat meningkat sampai kadar toksik bila digabung dengan isoniazid, antijamur golongan azol (misalnya flukonazol), simetidin, omeprazol, amiodaron, kloramfenikol, atau beberapa antidepresan
  • Kadar fenitoin dapat menurun bila digabung dengan karbamazepin, rifampisin, atau konsumsi alkohol kronis, sehingga risiko kejang kambuh meningkat
  • Asam valproat dapat menggeser ikatan fenitoin pada protein darah dan mengubah kadar obat bebas, sehingga kombinasi ini butuh pemantauan ketat
  • Fenitoin juga dapat mengubah kerja obat lain seperti aripiprazol dan diuretik furosemid, sehingga penggunaannya bersamaan perlu sepengetahuan dokter
  • Antasida dan nutrisi enteral (susu formula lewat selang) dapat mengurangi penyerapan fenitoin, sehingga pemberiannya perlu diberi jeda waktu
  • Selalu beri tahu dokter dan apoteker seluruh obat, herbal, dan suplemen yang sedang Anda gunakan sebelum memulai fenitoin

Peringatan Penting

  • Fenitoin memiliki indeks terapi sempit dengan farmakokinetik non-linier: kenaikan dosis yang kecil dapat menyebabkan lonjakan kadar dalam darah dan gejala keracunan. Jangan pernah mengubah dosis sendiri, dan lakukan pemeriksaan kadar obat darah sesuai anjuran dokter.
  • Segera hentikan obat dan hubungi dokter bila muncul ruam kulit, terutama pada 28 hari pertama terapi. Fenitoin dapat memicu reaksi kulit berat seperti Stevens-Johnson Syndrome dan nekrolisis epidermal toksik; risikonya dilaporkan lebih tinggi pada pembawa alel **HLA-B*1502** yang lebih banyak ditemukan pada populasi Asia.
  • Jangan menghentikan fenitoin secara mendadak meski merasa sudah membaik, karena dapat memicu kejang berulang bahkan status epileptikus. Penghentian harus bertahap di bawah pengawasan dokter.
  • Fenitoin bersifat teratogenik dan dikaitkan dengan fetal hydantoin syndrome. Meski begitu, bila Anda hamil atau merencanakan kehamilan, jangan menghentikan obat sendiri karena kejang yang tidak terkontrol juga berbahaya bagi ibu dan janin. Segera diskusikan dengan dokter untuk menimbang manfaat dan risiko, kebutuhan asam folat, serta pilihan kontrasepsi, karena fenitoin menurunkan efektivitas pil KB.
  • Beri tahu dokter dan apoteker bila Anda pernah mengalami alergi obat, terutama terhadap fenitoin, obat golongan hidantoin, atau obat antiepilepsi lain, dan sebutkan seluruh obat, herbal, serta suplemen yang sedang Anda pakai.
  • Waspadai gejala keracunan seperti jalan sempoyongan, mata bergetar, bicara pelo, dan pandangan ganda. Segera periksakan diri bila muncul.
  • Seperti obat antiepilepsi lain, fenitoin dapat memicu perubahan suasana hati, depresi, atau pikiran untuk menyakiti diri sendiri. Bila gejala tersebut muncul, segera hubungi dokter atau tenaga kesehatan.
  • Segera cari pertolongan medis darurat bila terjadi kejang yang berlangsung lebih dari 5 menit atau kejang berulang tanpa pulihnya kesadaran, ruam disertai demam dan luka di mulut atau mata, kulit dan mata menguning, memar atau perdarahan yang tidak biasa, serta demam dan nyeri tenggorokan yang tidak kunjung membaik.
  • Jaga kebersihan gigi dan mulut serta rutin kontrol ke dokter gigi untuk mengurangi risiko pembesaran gusi.
  • Hindari alkohol, dan berhati-hati saat mengemudi atau mengoperasikan mesin karena obat ini dapat menyebabkan kantuk dan pusing.
  • Fenitoin adalah obat keras yang ditandai lingkaran merah bergaris tepi hitam dengan huruf K, sehingga wajib dibeli dengan resep dokter. Obat ini tidak boleh dipakai untuk mengobati diri sendiri tanpa diagnosis dan pengawasan dokter, dan tidak boleh dipakai bergantian dengan orang lain.
  • Pastikan produk yang Anda beli terdaftar resmi dengan mengecek nomor izin edar (NIE) di cekbpom.pom.go.id.

Kategori Ibu Hamil (FDA)

Kategori D - risiko terbukti

Pertanyaan Umum

Fenitoin obat apa?

Fenitoin adalah obat antikejang (antikonvulsan) golongan hidantoin dengan zat aktif fenitoin natrium (phenytoin sodium). Obat ini dipakai untuk mengendalikan dan mencegah kejang pada epilepsi, khususnya kejang tonik-klonik umum dan kejang parsial atau psikomotor, serta dalam bentuk injeksi untuk status epileptikus dan pencegahan kejang pada bedah saraf. Fenitoin adalah obat keras yang hanya boleh digunakan dengan resep dokter.

Apakah Fenitoin bisa dibeli bebas di apotek tanpa resep?

Tidak. Fenitoin termasuk obat keras (daftar G) yang ditandai lingkaran merah bergaris tepi hitam dengan huruf K, sehingga wajib dengan resep dokter. Obat ini bukan narkotika dan bukan psikotropika, tetapi indeks terapinya sempit dan interaksinya sangat banyak, sehingga pemakaiannya harus dipantau tenaga kesehatan dan tidak boleh dipakai untuk swamedikasi. Sebelum membeli, pastikan produknya terdaftar resmi dengan mengecek nomor izin edarnya di cekbpom.pom.go.id.

Apa yang harus dilakukan kalau muncul ruam atau gusi membengkak saat minum Fenitoin?

Ruam kulit saat memakai fenitoin, terutama dalam 28 hari pertama, harus segera dilaporkan ke dokter karena bisa menjadi tanda awal reaksi kulit berat, apalagi bila disertai demam atau luka di mulut. Pembesaran gusi (hiperplasia gingiva) adalah efek samping khas fenitoin pada pemakaian jangka panjang; jaga kebersihan mulut, sikat gigi teratur, dan rutin kontrol ke dokter gigi. Apa pun keluhannya, jangan menghentikan fenitoin secara mendadak sendiri, karena berisiko memicu kejang berulang. Diskusikan dulu dengan dokter yang meresepkan.

Obat Terkait (Antiepilepsi / Antikejang)

Lihat daftar lengkap di indeks obat.

Kondisi yang Umumnya Ditangani

Daftar ini menunjukkan kondisi yang umumnya ditangani dengan obat golongan Antiepilepsi / Antikejang — bukan anjuran pengobatan. Diagnosis dan pilihan obat harus ditentukan dokter.

Referensi Medis

  1. 1. PIONAS Badan POM - Monografi Fenitoin Natrium
  2. 2. Cek BPOM - Verifikasi nomor izin edar produk obat
  3. 3. MIMS Indonesia - Phenytoin (indikasi kapsul dan injeksi)

Disclaimer medis: Informasi obat ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi dokter atau apoteker. Selalu baca aturan pakai di kemasan dan ikuti anjuran tenaga medis berlisensi. Jangan menghentikan obat resep tanpa konsultasi.