Lewati ke konten
KortikosteroidResep dokter

Prednison

Prednison adalah obat **kortikosteroid sistemik** (golongan **glukokortikoid**) dengan zat aktif **prednison** yang bekerja menekan peradangan dan meredam reaksi berlebihan sistem imun. Di Indonesia prednison beredar sebagai **tablet 5 mg**, baik sebagai obat generik berlogo yang diproduksi berbagai pabrik farmasi maupun sebagai merek dagang, antara lain Eltazon, Inflason, Lexacort, Pehacort, Remacort, dan Trifacort. Obat ini digunakan untuk kondisi **inflamasi**, **alergi berat**, dan penyakit **autoimun** seperti artritis reumatoid, asma bronkial, dan lupus eritematosus sistemik. Prednison termasuk **obat keras** sehingga hanya boleh diperoleh dan digunakan dengan **resep dokter**.

Nama generik
Prednison (prednisone)
Nama dagang
Prednison
Disusun Tim Redaksi SehatkuDiperbarui 9 Agustus 2026

Indikasi (Untuk apa)

  • Penyakit inflamasi dan autoimun seperti artritis reumatoid dan lupus eritematosus sistemik, untuk menekan aktivitas peradangan
  • Asma bronkial dan gangguan saluran napas alergi lain yang memerlukan kortikosteroid oral jangka pendek atas penilaian dokter
  • Reaksi alergi berat yang tidak cukup diatasi dengan antihistamin biasa
  • Penyakit kulit inflamatorik seperti psoriasis dan dermatitis kontak pada kasus yang diarahkan dokter
  • Kolitis ulseratif sebagai bagian dari terapi penyakit radang usus
  • Demam reumatik dengan karditis
  • Peradangan mata seperti uveitis
  • Catatan: daftar indikasi di atas berdasarkan penggunaan umum prednison. Keputusan apakah prednison cocok untuk kondisi Anda hanya boleh diambil oleh dokter melalui pemeriksaan langsung.

Dosis

Dewasa
Dosis lazim dewasa berkisar 5-60 mg per hari, sangat bergantung pada jenis penyakit, tingkat keparahan, dan respons masing-masing pasien. Karena rentangnya sangat lebar, dosis pasti, jadwal minum, dan lama pemakaian harus ditentukan dokter dan ditulis dalam resep. Prednison umumnya diminum sesudah makan untuk mengurangi iritasi lambung. Jangan menaikkan, menurunkan, atau menghentikan dosis sendiri, dan ikuti petunjuk pada kemasan atau resep dokter.
Anak
Dosis untuk anak dihitung dokter berdasarkan berat badan dan jenis penyakit, tidak boleh diperkirakan sendiri oleh orang tua. Pemakaian kortikosteroid jangka panjang pada anak dapat memengaruhi pertumbuhan, sehingga perlu pemantauan berkala oleh dokter.
Lansia
Lansia lebih rentan terhadap efek samping kortikosteroid seperti osteoporosis, hipertensi, kenaikan gula darah, dan penipisan kulit. Dokter biasanya memakai dosis efektif terendah dengan durasi sesingkat mungkin serta memantau tekanan darah dan gula darah. Ikuti petunjuk pada kemasan atau resep dokter.

Efek Samping

  • Peningkatan nafsu makan dan kenaikan berat badan
  • Gangguan lambung: nyeri ulu hati, mual, hingga risiko tukak lambung, terutama bila dipakai bersama obat antinyeri OAINS
  • Wajah membulat (moon face) dan penumpukan lemak di badan pada pemakaian jangka panjang
  • Kenaikan kadar gula darah (hiperglikemia) atau memburuknya diabetes
  • Kenaikan tekanan darah dan penumpukan cairan (edema)
  • Sulit tidur, gelisah, perubahan suasana hati
  • Mudah terkena infeksi karena efek imunosupresif, serta gejala infeksi bisa tersamarkan
  • Kulit menipis, mudah memar, luka lebih lama sembuh, jerawat
  • Osteoporosis dan meningkatnya risiko patah tulang pada pemakaian lama
  • Katarak dan peningkatan tekanan bola mata (glaukoma) pada pemakaian jangka panjang
  • Kelemahan otot, serta supresi kelenjar adrenal yang bisa memicu gejala berat bila obat dihentikan mendadak
  • Segera hubungi dokter atau ke IGD bila muncul demam tinggi dengan tanda infeksi berat, muntah hitam atau BAB hitam, sesak napas, gangguan penglihatan mendadak, bengkak pada wajah atau bibir disertai ruam luas, lemas hebat dengan tekanan darah turun, atau perubahan perilaku yang mencolok.

Kontraindikasi (Tidak boleh untuk)

  • Alergi atau hipersensitivitas terhadap prednison maupun kortikosteroid lain
  • Infeksi jamur sistemik dan infeksi berat yang tidak terkontrol atau belum diobati
  • Pemberian vaksin hidup selama menggunakan prednison dosis imunosupresif
  • Kondisi seperti tukak lambung aktif, diabetes tidak terkontrol, hipertensi berat, osteoporosis berat, glaukoma, gangguan ginjal atau hati berat, dan gangguan psikiatri berat memerlukan pertimbangan khusus dokter dan sering menjadi alasan untuk tidak memberikan prednison

Interaksi dengan Obat Lain

  • Obat antinyeri OAINS (seperti ibuprofen, natrium diklofenak) dan aspirin: meningkatkan risiko iritasi dan perdarahan lambung
  • Obat antidiabetes oral dan insulin: efek penurun gula darah dapat berkurang karena prednison menaikkan kadar gula darah
  • Antikoagulan seperti warfarin: efek pengencer darah dapat berubah sehingga perlu pemantauan
  • Diuretik pembuang kalium (misalnya furosemid, hidroklorotiazid): meningkatkan risiko kekurangan kalium
  • Obat yang mempercepat pemecahan prednison seperti rifampisin, fenitoin, fenobarbital, dan karbamazepin: dapat menurunkan efektivitas prednison
  • Obat yang menghambat pemecahan prednison seperti ketokonazol dan antibiotik golongan makrolida: dapat meningkatkan efek dan efek samping
  • Vaksin hidup (misalnya vaksin campak, BCG, polio oral): sebaiknya ditunda, karena respons imun menurun dan risiko infeksi dari vaksin meningkat
  • Obat imunosupresan lain: efek penekanan sistem imun dapat saling menguatkan
  • Beritahukan ke dokter atau apoteker semua obat, suplemen, dan jamu yang sedang Anda konsumsi sebelum memulai prednison.

Peringatan Penting

  • Prednison adalah obat keras dan wajib dengan resep dokter. Jangan dipakai untuk pengobatan sendiri, jangan memakai sisa resep orang lain, dan jangan membagikannya kepada orang lain, karena risiko efek samping sistemik yang serius.
  • Beritahukan riwayat alergi obat Anda, terutama alergi terhadap prednison atau kortikosteroid lain, kepada dokter dan apoteker sebelum memakai obat ini. Hentikan pemakaian dan segera cari pertolongan medis bila muncul tanda reaksi alergi berat seperti ruam luas, gatal hebat, bengkak pada wajah, bibir, atau lidah, dan sesak napas.
  • Jangan berhenti mendadak setelah pemakaian lebih dari beberapa minggu. Dosis harus diturunkan bertahap (tapering) sesuai arahan dokter, karena penghentian tiba-tiba dapat memicu krisis adrenal dengan gejala lemas hebat, mual, muntah, dan tekanan darah turun.
  • Waspadai produk jamu atau obat racikan ilegal yang dipasarkan sebagai obat sakti penghilang pegal, gatal, atau nyeri secara instan. Produk semacam ini sering dicampur kortikosteroid seperti prednison atau deksametason tanpa dicantumkan pada label, sehingga pemakainya terpapar dosis tinggi tanpa pengawasan dan tanpa tapering. Hanya gunakan produk yang jelas nomor izin edarnya.
  • Selalu cek nomor izin edar BPOM pada kemasan melalui cekbpom.pom.go.id sebelum membeli, dan beli hanya di apotek resmi.
  • Bawa kartu atau catatan bahwa Anda sedang memakai kortikosteroid, dan beritahukan hal ini pada setiap dokter atau dokter gigi yang menangani Anda.
  • Dosis mungkin perlu disesuaikan dokter saat Anda mengalami stres fisik seperti infeksi berat, operasi, atau cedera.
  • Hindari kontak dengan penderita cacar air atau campak bila Anda belum pernah terkena atau belum divaksin, dan segera hubungi dokter bila terpapar.
  • Pasien diabetes, hipertensi, tukak lambung, osteoporosis, glaukoma, gangguan ginjal atau hati, serta yang memiliki riwayat tuberkulosis harus memberitahukan kondisinya sebelum memakai prednison.
  • Pemakaian jangka panjang memerlukan pemantauan berkala: tekanan darah, gula darah, berat badan, kepadatan tulang, dan pemeriksaan mata.
  • Ibu hamil, merencanakan kehamilan, atau menyusui wajib berkonsultasi lebih dulu dengan dokter.
  • Prednison tidak sama dengan prednisolon maupun metilprednisolon. Ketiganya kortikosteroid berbeda dengan kekuatan dan aturan pakai yang berbeda, jadi jangan saling menukar tanpa persetujuan dokter atau apoteker.

Kategori Ibu Hamil (FDA)

Kategori C - hati-hati

Pertanyaan Umum

Prednison obat apa?

Prednison adalah obat kortikosteroid sistemik golongan glukokortikoid yang berisi zat aktif prednison. Obat ini bekerja meredakan peradangan dan menekan reaksi berlebihan sistem imun, sehingga dipakai untuk penyakit inflamasi, alergi berat, dan penyakit autoimun seperti artritis reumatoid, asma bronkial, lupus eritematosus sistemik, kolitis ulseratif, psoriasis, dermatitis kontak, dan uveitis. Di Indonesia prednison beredar sebagai tablet 5 mg, tersedia sebagai obat generik berlogo maupun merek dagang, antara lain Eltazon, Inflason, Lexacort, Pehacort, Remacort, dan Trifacort. Prednison termasuk obat keras dan hanya boleh digunakan dengan resep dokter.

Apakah Prednison bisa dibeli bebas tanpa resep dokter?

Tidak. Prednison berstatus obat keras, ditandai lingkaran merah bergaris tepi hitam dengan huruf K pada kemasan dan nomor izin edar BPOM berawalan GKL (Generik-Keras-Lokal) pada produk generiknya. Artinya obat ini wajib resep dokter dan hanya boleh diserahkan oleh apotek. Prednison bukan narkotika dan bukan psikotropika, tetapi tetap dikendalikan karena berisiko menimbulkan efek samping sistemik seperti supresi kelenjar adrenal, kenaikan gula darah, osteoporosis, dan penurunan daya tahan tubuh. Sebelum membeli, pastikan nomor izin edar pada kemasan terdaftar dengan mengeceknya di cekbpom.pom.go.id, dan belilah hanya di apotek resmi.

Bolehkah berhenti minum Prednison begitu keluhan membaik?

Tidak boleh dihentikan sendiri, terutama bila sudah dipakai lebih dari beberapa minggu. Prednison menekan kerja kelenjar adrenal dalam memproduksi hormon kortisol alami. Bila obat dihentikan tiba-tiba, tubuh bisa mengalami krisis adrenal dengan gejala lemas hebat, mual, muntah, nyeri otot, dan tekanan darah turun. Karena itu dokter biasanya menurunkan dosis secara bertahap (tapering) sampai obat aman dihentikan. Lanjutkan terapi sesuai resep dokter, dan bila Anda merasa keluhan sudah membaik atau justru muncul efek samping, konsultasikan lebih dulu ke dokter untuk menyesuaikan dosis, bukan menghentikannya sendiri.

Obat Terkait (Kortikosteroid)

Lihat daftar lengkap di indeks obat.

Kondisi yang Umumnya Ditangani

Daftar ini menunjukkan kondisi yang umumnya ditangani dengan obat golongan Kortikosteroid — bukan anjuran pengobatan. Diagnosis dan pilihan obat harus ditentukan dokter.

Tools kesehatan terkait

Coba kalkulator gratis yang relevan dengan topik ini.

Referensi Medis

  1. 1. Alodokter - Prednison: Manfaat, Dosis, dan Efek Samping
  2. 2. Cek BPOM - verifikasi nomor izin edar produk prednison
  3. 3. PIONAS BPOM - Pusat Informasi Obat Nasional (monografi prednison dan kortikosteroid sistemik)

Disclaimer medis: Informasi obat ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi dokter atau apoteker. Selalu baca aturan pakai di kemasan dan ikuti anjuran tenaga medis berlisensi. Jangan menghentikan obat resep tanpa konsultasi.