Lewati ke konten
AntihistaminBebas (tanpa resep)

Kofiren

Kofiren adalah obat **antihistamin** berbentuk tablet dengan zat aktif **chlorpheniramine maleate** (lebih dikenal masyarakat sebagai **CTM**), yang dipakai untuk meredakan gejala **alergi** dan gejala **flu/pilek** seperti bersin-bersin, hidung meler, mata berair dan gatal, serta gatal pada kulit, hidung, dan tenggorokan. Kofiren diproduksi oleh PT Sampharindo Perdana dan terdaftar di BPOM sebagai **obat bebas terbatas** (tanda lingkaran biru dengan peringatan P No. 1), sehingga bisa dibeli tanpa resep tetapi tetap harus dipakai sesuai aturan pakai. Efek samping yang paling sering muncul adalah **kantuk berat**, sehingga sebaiknya tidak dikonsumsi saat harus menyetir atau mengoperasikan mesin.

Nama generik
Chlorpheniramine maleate (chlorphenamine maleate, dikenal luas di Indonesia sebagai CTM)
Nama dagang
Kofiren
Disusun Tim Redaksi SehatkuDiperbarui 9 Agustus 2026

Indikasi (Untuk apa)

  • Meredakan gejala rinitis alergi (alergi hidung): bersin-bersin berulang, hidung meler atau rinore, serta hidung dan tenggorokan terasa gatal
  • Meredakan gejala alergi pada mata seperti mata berair, merah, dan gatal, termasuk pada hay fever (rinitis alergi musiman)
  • Mengurangi gatal pada kulit akibat reaksi alergi, termasuk urtikaria atau biduran dan ruam alergi
  • Meredakan gejala pilek dan flu (common cold/influenza) yang berkaitan dengan pelepasan histamin, terutama bersin dan hidung meler
  • Membantu meredakan reaksi alergi ringan lain, misalnya akibat debu, serbuk sari, bulu hewan, gigitan serangga, atau makanan tertentu, sebagai terapi simtomatik (meredakan gejala, bukan menyembuhkan penyebab alerginya)

Dosis

Dewasa
Kofiren tersedia dalam bentuk tablet. Aturan pakai lazim untuk dewasa dan anak di atas 12 tahun adalah 1 tablet, 3-4 kali sehari. Meski begitu, selalu ikuti petunjuk pada kemasan atau resep dokter, karena aturan pakai yang tercantum pada kemasan resmi produk adalah acuan utama. Sebaiknya diminum sesudah makan untuk mengurangi rasa tidak nyaman di lambung, dan jangan melebihi jumlah maksimal per hari yang tertera pada kemasan. Karena menyebabkan kantuk, banyak orang memilih meminum dosis terakhir menjelang tidur.
Anak
Untuk anak di atas 12 tahun, aturan pakainya umumnya sama dengan dewasa sesuai petunjuk kemasan. Untuk anak di bawah 12 tahun, dosis harus disesuaikan dengan usia dan berat badan, sehingga wajib dikonsultasikan dengan dokter atau apoteker terlebih dahulu dan tidak boleh diperkirakan sendiri dengan cara membelah tablet. Kofiren tidak boleh diberikan pada bayi baru lahir (neonatus) maupun bayi prematur. Pada sebagian anak, chlorpheniramine justru dapat memicu reaksi paradoks berupa gelisah, rewel, atau sulit tidur.
Lansia
Pada lansia, efek samping antihistamin generasi pertama seperti kantuk berlebihan, bingung, pusing saat berdiri, mulut kering, sembelit, dan sulit berkemih cenderung lebih berat dan meningkatkan risiko jatuh. Karena itu sebaiknya digunakan pada dosis efektif terendah sesuai petunjuk kemasan dan idealnya setelah berkonsultasi dengan dokter, terutama bila ada glaukoma, pembesaran prostat, gangguan jantung, gangguan hati, atau gangguan ginjal.

Efek Samping

  • Kantuk (sedasi) yang sering terasa berat, lemas, dan penurunan kewaspadaan — ini efek samping paling khas chlorpheniramine
  • Efek antikolinergik: mulut dan tenggorokan kering, penglihatan kabur, sembelit (konstipasi), serta kesulitan atau retensi buang air kecil
  • Pusing, sakit kepala, dan gangguan koordinasi atau keseimbangan
  • Mual, nyeri ulu hati, atau rasa tidak nyaman di perut
  • Pengentalan dahak dan sekret saluran napas, sehingga dahak terasa lebih sulit dikeluarkan
  • Reaksi paradoks berupa gelisah, gugup, atau sulit tidur, terutama pada anak dan sebagian lansia
  • Jantung berdebar atau tekanan darah turun saat berdiri (pusing melayang) pada sebagian orang, khususnya lansia
  • Jarang: reaksi alergi terhadap obat itu sendiri (ruam, bengkak pada wajah atau bibir, sesak napas) — hentikan pemakaian dan segera cari pertolongan medis

Kontraindikasi (Tidak boleh untuk)

  • Riwayat hipersensitivitas atau alergi terhadap chlorpheniramine maleate atau antihistamin golongan alkilamin lainnya
  • Bayi baru lahir (neonatus) dan bayi prematur
  • Sedang mengalami serangan asma akut, karena efek pengentalan sekret dapat memperburuk kondisi
  • Sedang atau baru saja (dalam 14 hari terakhir) menggunakan obat golongan MAOI (monoamine oxidase inhibitor)

Interaksi dengan Obat Lain

  • Alkohol — memperberat efek kantuk dan penurunan kewaspadaan secara nyata; hindari selama memakai Kofiren
  • Depresan sistem saraf pusat seperti obat tidur, obat penenang, opioid (kodein, tramadol, morfin), barbiturat, dan antipsikotik — efek sedasi saling memperkuat sehingga berisiko menyebabkan kantuk berlebihan hingga gangguan pernapasan
  • Obat golongan MAOI — dapat memperpanjang dan memperkuat efek antikolinergik chlorpheniramine
  • Obat dengan efek antikolinergik lain seperti antidepresan trisiklik, antispasmodik, dan beberapa obat parkinson — meningkatkan risiko mulut kering, sembelit, penglihatan kabur, dan retensi urin
  • Obat flu atau alergi kombinasi lain yang juga mengandung CTM/chlorpheniramine — berisiko dosis ganda tanpa disadari; selalu periksa komposisi pada kemasan sebelum meminum dua produk sekaligus

Peringatan Penting

  • Kofiren menyebabkan kantuk berat. Jangan menyetir kendaraan, mengoperasikan mesin, atau bekerja di ketinggian setelah meminumnya.
  • Hindari minuman beralkohol dan obat penenang selama memakai Kofiren karena efek kantuknya bertambah kuat.
  • Beri tahu dokter atau apoteker bila Anda punya riwayat alergi obat, terutama terhadap chlorpheniramine (CTM) atau antihistamin golongan alkilamin lainnya, sebelum memakai Kofiren. Sebutkan juga semua obat, suplemen, dan obat flu bebas yang sedang Anda pakai agar tidak terjadi dosis ganda CTM.
  • Gunakan dengan hati-hati dan sebaiknya konsultasikan dulu ke dokter bila Anda memiliki glaukoma (terutama glaukoma sudut tertutup), pembesaran prostat atau kesulitan berkemih, penyumbatan saluran cerna, asma kronis atau PPOK, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, gangguan hati, gangguan ginjal, atau hipertiroid.
  • Lansia lebih rentan mengalami kantuk berlebihan, kebingungan, dan risiko jatuh; gunakan dosis efektif terendah sesuai petunjuk kemasan.
  • Ibu hamil dan menyusui sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum memakai Kofiren, karena chlorpheniramine dapat masuk ke dalam ASI dan menyebabkan bayi mengantuk atau justru rewel.
  • Jangan melebihi aturan pakai pada kemasan. Bila keluhan tidak membaik setelah beberapa hari pemakaian, atau justru bertambah berat (demam tinggi, sesak napas, ruam meluas, bengkak pada wajah, bibir, atau lidah, jantung berdebar hebat, kejang, atau sangat sulit dibangunkan), hentikan pemakaian dan segera periksakan diri ke dokter atau ke IGD.
  • Kofiren tergolong obat bebas terbatas (lingkaran biru, peringatan P No. 1: Awas! Obat keras — bacalah aturan pemakaiannya) sehingga dapat dibeli tanpa resep. Berbeda halnya dengan obat yang tergolong obat keras (tanda lingkaran merah), yang hanya boleh dibeli dan digunakan dengan resep dokter.
  • Sebelum membeli, pastikan keaslian produk dengan mengecek nomor registrasinya di cekbpom.pom.go.id dan memastikan status izin edarnya masih berlaku. Kofiren terdaftar atas nama PT Sampharindo Perdana dengan nomor registrasi DTL0823410410A1.
  • Simpan di tempat sejuk dan kering, terlindung dari cahaya matahari langsung, serta jauhkan dari jangkauan anak-anak.

Kategori Ibu Hamil (FDA)

Kategori B - relatif aman

Pertanyaan Umum

Kofiren obat apa?

Kofiren adalah obat antihistamin berbentuk tablet yang mengandung chlorpheniramine maleate, zat aktif yang di Indonesia lebih akrab disebut CTM. Kofiren dipakai untuk meredakan gejala alergi dan gejala flu atau pilek, seperti bersin-bersin, hidung meler, mata berair dan gatal, serta gatal pada kulit, hidung, dan tenggorokan. Produk ini diproduksi oleh PT Sampharindo Perdana dan terdaftar di BPOM sebagai obat bebas terbatas, sehingga boleh dibeli tanpa resep dokter selama dipakai sesuai aturan pakai pada kemasan.

Apakah Kofiren bikin ngantuk dan bolehkah diminum sebelum menyetir?

Ya. Chlorpheniramine adalah antihistamin generasi pertama yang menembus sistem saraf pusat, sehingga kantuk berat adalah efek samping yang paling sering terjadi dan bukan tanda obatnya bermasalah. Karena itu, jangan menyetir kendaraan, mengoperasikan mesin, atau melakukan pekerjaan yang menuntut kewaspadaan tinggi setelah meminum Kofiren. Hindari juga alkohol dan obat penenang karena efek kantuknya akan saling memperkuat. Banyak orang memilih meminum dosis terakhir menjelang tidur agar rasa kantuknya tidak mengganggu aktivitas.

Perlukah resep dokter untuk membeli Kofiren, dan bagaimana cara memastikan produknya asli?

Kofiren termasuk obat bebas terbatas (ditandai lingkaran biru dan peringatan P No. 1: Awas! Obat keras — bacalah aturan pemakaiannya), sehingga tidak memerlukan resep dokter dan dapat dibeli di apotek. Meski begitu, tetap baca dan patuhi aturan pakai pada kemasan, dan konsultasikan ke dokter bila akan digunakan untuk anak di bawah 12 tahun, lansia, ibu hamil atau menyusui, serta penderita glaukoma atau pembesaran prostat. Untuk memastikan produk asli dan izin edarnya masih berlaku, cek nomor registrasi pada kemasan melalui cekbpom.pom.go.id. Perlu diingat, obat yang tergolong obat keras (lingkaran merah) tetap hanya boleh diperoleh dengan resep dokter.

Obat Terkait (Antihistamin)

Lihat daftar lengkap di indeks obat.

Kondisi yang Umumnya Ditangani

Daftar ini menunjukkan kondisi yang umumnya ditangani dengan obat golongan Antihistamin — bukan anjuran pengobatan. Diagnosis dan pilihan obat harus ditentukan dokter.

Tools kesehatan terkait

Coba kalkulator gratis yang relevan dengan topik ini.

Referensi Medis

  1. 1. BPOM RI — Cek Produk: detail registrasi KOFIREN (No. reg. DTL0823410410A1, tablet, ATC R06AB04, PT Sampharindo Perdana, status berlaku)
  2. 2. PIONAS BPOM — Pusat Informasi Obat Nasional, informasi resmi obat termasuk golongan antihistamin klorfeniramin
  3. 3. WHO ATC/DDD Index — kode R06AB04 = chlorphenamine (chlorpheniramine), memvalidasi zat aktif pada record BPOM Kofiren

Disclaimer medis: Informasi obat ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi dokter atau apoteker. Selalu baca aturan pakai di kemasan dan ikuti anjuran tenaga medis berlisensi. Jangan menghentikan obat resep tanpa konsultasi.