Lewati ke konten
Antiinflamasi (NSAID)Resep dokter

Naproxen

Naproxen adalah obat **antiinflamasi nonsteroid (OAINS/NSAID)** golongan turunan asam propionat yang dipakai untuk meredakan **nyeri dan peradangan**, terutama pada gangguan otot dan sendi seperti **artritis reumatoid, osteoartritis, spondilitis ankilosa, tendinitis, bursitis, dan serangan gout akut**. Naproxen juga digunakan untuk nyeri ringan sampai sedang (sakit kepala, sakit gigi, nyeri otot dan punggung, nyeri pasca operasi) serta **nyeri haid (dismenore primer)**. Zat aktifnya bekerja dengan menghambat enzim **siklooksigenase (COX-1 dan COX-2)** sehingga produksi prostaglandin pemicu nyeri, bengkak, dan demam menurun. Di Indonesia naproxen tersedia sebagai **obat generik** maupun produk bermerek seperti Xenifar dan Alif, dalam bentuk tablet atau kaplet naproxen dan naproxen sodium. Naproxen termasuk **obat keras** (logo lingkaran merah dengan huruf K) sehingga **hanya boleh dibeli dan digunakan dengan resep dokter**, bukan untuk pengobatan sendiri. Selalu pastikan produk yang Anda beli memiliki nomor izin edar BPOM yang sah dengan mengeceknya di cekbpom.pom.go.id.

Nama generik
Naproxen (naproksen), juga beredar sebagai garamnya yaitu naproxen sodium (naproksen natrium)
Nama dagang
Xenifar, Alif
Disusun Tim Redaksi SehatkuDiperbarui 9 Agustus 2026

Indikasi (Untuk apa)

  • Meredakan nyeri dan peradangan pada artritis reumatoid (rheumatoid arthritis)
  • Meredakan nyeri dan kekakuan pada osteoartritis (pengapuran sendi)
  • Terapi gejala spondilitis ankilosa (radang sendi tulang belakang)
  • Gangguan muskuloskeletal akut seperti tendinitis dan bursitis, termasuk nyeri akibat cedera otot dan keseleo
  • Meredakan serangan gout akut (asam urat)
  • Nyeri ringan sampai sedang: sakit kepala, sakit gigi, nyeri otot, nyeri punggung, dan nyeri pasca operasi
  • Meredakan nyeri haid (dismenore primer)

Dosis

Dewasa
Naproxen adalah obat keras, sehingga dosisnya harus ditentukan oleh dokter dan mengikuti petunjuk pada kemasan atau resep. Sebagai gambaran, literatur medis menyebut dosis lazim dewasa untuk artritis berkisar 500-1.000 mg per hari yang dibagi setiap 12 jam, dan dapat ditingkatkan sampai 1.500 mg per hari untuk jangka waktu terbatas bila dokter menilai perlu. Untuk serangan gout akut, terapi umumnya diawali 750 mg lalu dilanjutkan 250 mg setiap 8 jam sampai nyeri mereda. Perlu diperhatikan bahwa naproxen beredar dalam dua bentuk, yaitu naproxen basa (tablet 250 mg dan 500 mg) dan naproxen sodium (220 mg, 275 mg, dan 550 mg); naproxen sodium 275 mg setara naproxen basa 250 mg, dan naproxen sodium 550 mg setara naproxen basa 500 mg. Karena itu jangan menyamakan angka mg antar produk begitu saja dan selalu baca kekuatan yang tertera di kemasan. Minum bersama atau sesudah makan untuk mengurangi iritasi lambung, dan gunakan dosis efektif terendah dalam durasi sesingkat mungkin.
Anak
Penggunaan naproxen pada anak tidak boleh dilakukan tanpa resep dan pengawasan dokter. Dosis anak dihitung berdasarkan berat badan, usia, dan indikasi, sehingga hanya dokter yang boleh menentukannya. Jangan pernah memberikan tablet naproxen dewasa kepada anak dengan cara membelah atau memperkirakan dosis sendiri.
Lansia
Lansia lebih rentan mengalami perdarahan saluran cerna, gangguan ginjal, dan gangguan jantung akibat OAINS. Dokter umumnya memberikan dosis efektif terendah dengan durasi sesingkat mungkin disertai pemantauan. Ikuti petunjuk resep dokter dan sampaikan seluruh riwayat penyakit serta obat lain yang sedang digunakan.

Efek Samping

  • Keluhan saluran cerna: nyeri ulu hati, mual, muntah, kembung, sembelit, atau diare
  • Iritasi lambung hingga tukak (ulkus) dan perdarahan saluran cerna, yang dapat terjadi tanpa gejala awal
  • Pusing, sakit kepala, mengantuk, atau telinga berdenging (tinitus)
  • Ruam kulit, gatal, atau reaksi alergi
  • Retensi cairan sehingga muncul bengkak pada tungkai dan kaki, serta kenaikan tekanan darah
  • Gangguan fungsi ginjal, terutama pada pemakaian jangka panjang atau pada pasien berisiko
  • Gangguan fungsi hati (jarang), yang dapat ditandai kulit dan mata menguning
  • Efek serius yang jarang tetapi berbahaya: serangan jantung dan stroke, terutama pada penggunaan dosis tinggi atau jangka panjang

Kontraindikasi (Tidak boleh untuk)

  • Riwayat hipersensitivitas atau alergi terhadap naproxen, aspirin, atau OAINS lain
  • Pasien yang pernah mengalami serangan asma, urtikaria, atau reaksi alergi setelah memakai aspirin atau OAINS lain
  • Tukak lambung atau tukak usus (ulkus peptikum) aktif, serta riwayat perdarahan saluran cerna akibat OAINS
  • Gagal jantung berat
  • Kehamilan trimester ketiga
  • Gangguan fungsi ginjal atau hati berat, kecuali atas pertimbangan dan pengawasan ketat dokter
  • Nyeri di sekitar tindakan operasi bypass jantung (CABG)

Interaksi dengan Obat Lain

  • Jangan dikombinasikan dengan OAINS lain (misalnya ibuprofen, diklofenak, meloksikam, asam mefenamat) atau aspirin dosis antinyeri karena risiko perdarahan saluran cerna meningkat tajam
  • Kortikosteroid (misalnya prednison, metilprednisolon) meningkatkan risiko tukak dan perdarahan lambung
  • Antikoagulan dan antiplatelet seperti warfarin atau klopidogrel meningkatkan risiko perdarahan
  • Obat antidepresan golongan SSRI meningkatkan risiko perdarahan saluran cerna
  • Menurunkan efek obat antihipertensi seperti ACE inhibitor, ARB, beta blocker, dan diuretik, serta meningkatkan risiko gangguan ginjal bila dipakai bersamaan
  • Meningkatkan kadar dan risiko toksisitas litium dan metotreksat
  • Penggunaan bersama siklosporin atau takrolimus meningkatkan risiko gangguan ginjal
  • Dapat mengganggu efek perlindungan jantung dari aspirin dosis rendah bila diminum berdekatan waktunya, sehingga pasien yang rutin memakai aspirin kardioproteksi perlu berkonsultasi dengan dokter

Peringatan Penting

  • Naproxen adalah obat keras (logo lingkaran merah dengan huruf K) dan wajib dibeli serta digunakan dengan resep dokter di Indonesia. Jangan memakainya sebagai pengobatan sendiri, apalagi dalam jangka panjang, tanpa penilaian dokter.
  • Seperti seluruh OAINS, naproxen membawa peringatan kelas berupa peningkatan risiko kejadian kardiovaskular trombotik (serangan jantung dan stroke), terutama pada dosis tinggi dan pemakaian jangka panjang.
  • Naproxen dapat menyebabkan tukak, perforasi, dan perdarahan saluran cerna yang bisa terjadi kapan saja, kadang tanpa gejala pendahulu. Segera hentikan obat dan cari pertolongan medis bila muncul muntah darah, tinja hitam seperti aspal, atau nyeri perut hebat.
  • Segera ke IGD bila muncul tanda reaksi alergi berat: bengkak pada wajah, bibir, lidah, atau tenggorokan, sesak napas, serta ruam kulit melepuh atau mengelupas. Beri tahu dokter dan apoteker bila Anda punya riwayat alergi terhadap aspirin atau OAINS lain sebelum memakai naproxen.
  • Cari pertolongan medis segera bila muncul nyeri dada, sesak napas, kelemahan mendadak pada satu sisi tubuh, atau bicara pelo, karena dapat menandakan serangan jantung atau stroke.
  • Gunakan dosis efektif terendah untuk durasi sesingkat mungkin. Jangan menambah dosis sendiri bila nyeri belum reda; konsultasikan kembali ke dokter.
  • Hati-hati pada penderita hipertensi, gagal jantung, penyakit ginjal, penyakit hati, asma, dan riwayat gangguan lambung, serta pada lansia.
  • Hindari mengonsumsi alkohol selama memakai naproxen karena menambah risiko iritasi dan perdarahan lambung.
  • Naproxen dapat menyebabkan pusing atau mengantuk; berhati-hatilah saat mengemudi atau mengoperasikan mesin.
  • Beri tahu dokter atau dokter gigi bahwa Anda sedang memakai naproxen sebelum menjalani operasi atau tindakan medis.
  • Bagi ibu hamil dan menyusui, penggunaan hanya boleh atas pertimbangan dokter; naproxen dikontraindikasikan pada kehamilan trimester ketiga.
  • Selalu periksa keaslian dan nomor izin edar produk di cekbpom.pom.go.id sebelum membeli, dan jangan membeli obat keras dari penjual yang tidak resmi.

Kategori Ibu Hamil (FDA)

Kategori C - hati-hati

Pertanyaan Umum

Naproxen obat apa?

Naproxen adalah obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS/NSAID) yang berfungsi meredakan nyeri, peradangan, dan pembengkakan. Obat ini umum diresepkan untuk artritis reumatoid, osteoartritis, spondilitis ankilosa, tendinitis, bursitis, dan serangan gout akut, serta untuk nyeri ringan sampai sedang seperti sakit kepala, sakit gigi, nyeri otot dan punggung, nyeri pasca operasi, dan nyeri haid (dismenore primer). Naproxen bekerja dengan menghambat enzim COX-1 dan COX-2 sehingga produksi prostaglandin penyebab nyeri dan radang berkurang. Di Indonesia naproxen tersedia sebagai obat generik maupun produk bermerek seperti Xenifar dan Alif, dan statusnya adalah obat keras yang memerlukan resep dokter.

Apakah Naproxen bisa dibeli bebas di apotek tanpa resep?

Tidak. Di Indonesia naproxen termasuk obat keras yang ditandai logo lingkaran merah dengan huruf K, sehingga harus dibeli dengan resep dokter dan tidak dianjurkan untuk pengobatan sendiri. Naproxen bukan narkotika dan bukan psikotropika, tetapi tetap butuh penilaian dokter karena risiko efek samping pada lambung, jantung, dan ginjal, terutama bila dipakai jangka panjang atau oleh lansia. Sebelum membeli, pastikan produk memiliki nomor izin edar BPOM yang sah dengan mengeceknya di cekbpom.pom.go.id, dan hindari membeli obat keras dari penjual yang tidak resmi.

Apa perbedaan naproxen dan naproxen sodium, dan bolehkah digabung dengan obat nyeri lain?

Naproxen dan naproxen sodium (naproksen natrium) memiliki zat aktif yang sama, yaitu naproxen; bedanya hanya pada bentuk garamnya yang memengaruhi kesetaraan dosis. Sebagai patokan, naproxen sodium 275 mg setara naproxen basa 250 mg dan naproxen sodium 550 mg setara naproxen basa 500 mg, sehingga angka mg antar produk tidak bisa langsung disamakan. Yang penting diingat, naproxen tidak boleh digabungkan dengan OAINS lain seperti ibuprofen, diklofenak, meloksikam, atau asam mefenamat, karena risiko tukak dan perdarahan lambung meningkat tajam tanpa menambah manfaat. Jika nyeri tidak juga membaik, konsultasikan kembali ke dokter alih-alih menambah obat nyeri sendiri.

Obat Terkait (Antiinflamasi (NSAID))

Lihat daftar lengkap di indeks obat.

Kondisi yang Umumnya Ditangani

Daftar ini menunjukkan kondisi yang umumnya ditangani dengan obat golongan Antiinflamasi (NSAID) — bukan anjuran pengobatan. Diagnosis dan pilihan obat harus ditentukan dokter.

Tools kesehatan terkait

Coba kalkulator gratis yang relevan dengan topik ini.

Referensi Medis

  1. 1. Alodokter - Naproxen: golongan obat resep, kategori antiinflamasi nonsteroid (OAINS), indikasi, dosis, dan efek samping
  2. 2. Cek BPOM - Cek nomor izin edar dan keaslian produk obat yang terdaftar di Indonesia
  3. 3. PIONAS BPOM - Pusat Informasi Obat Nasional, Badan POM Republik Indonesia

Disclaimer medis: Informasi obat ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi dokter atau apoteker. Selalu baca aturan pakai di kemasan dan ikuti anjuran tenaga medis berlisensi. Jangan menghentikan obat resep tanpa konsultasi.