Codikaf
Codikaf adalah **obat keras** produksi PT Kimia Farma yang berisi **kodein** (kodein fosfat), yaitu opioid yang bekerja sebagai **penekan batuk kering** (non-produktif) sekaligus **pereda nyeri ringan sampai sedang**. Karena kodein di Indonesia tergolong **narkotika golongan III**, Codikaf hanya boleh digunakan dengan **resep dokter** dan tidak dijual bebas.
- Nama generik
- Kodein (kodein fosfat)
- Nama dagang
- Codikaf
Indikasi (Untuk apa)
- Menekan batuk kering (non-produktif) yang mengganggu dan tidak berdahak
- Meredakan nyeri ringan sampai sedang sesuai penilaian dokter
Dosis
Efek Samping
- Rasa mengantuk dan pusing
- Mual dan muntah
- Sembelit (konstipasi)
- Mulut kering
- Depresi pernapasan (napas melambat) terutama pada dosis tinggi
- Ketergantungan bila digunakan dalam jangka panjang atau melebihi anjuran
Kontraindikasi (Tidak boleh untuk)
- Anak berusia di bawah 12 tahun
- Remaja usia 12-18 tahun untuk indikasi pereda nyeri, terutama setelah operasi amandel atau adenoid
- Ibu hamil, termasuk menjelang persalinan
- Ibu menyusui — kodein masuk ke ASI dan dapat menyebabkan depresi napas pada bayi
- Penderita asma akut atau gangguan pernapasan berat (depresi pernapasan)
- Alkoholisme akut
- Riwayat hipersensitif terhadap kodein atau opioid lain
- Diare yang disebabkan keracunan atau kolitis pseudomembran
Interaksi dengan Obat Lain
- Alkohol serta obat penekan sistem saraf pusat (obat tidur, sedatif, ansiolitik) meningkatkan risiko kantuk berat dan depresi pernapasan
- Obat golongan MAOI dapat memicu reaksi berbahaya bila dikombinasikan dengan kodein
- Obat lain yang menyebabkan sembelit atau memengaruhi enzim hati (CYP2D6) dapat mengubah efek kodein
Peringatan Penting
- Codikaf adalah obat keras yang di Indonesia tergolong narkotika golongan III, sehingga wajib dengan resep dokter dan tidak dijual bebas.
- Obat ini dapat menyebabkan kantuk berat; hindari mengemudi atau mengoperasikan mesin selama menggunakannya.
- Jangan mengonsumsi bersama alkohol atau obat penenang karena meningkatkan risiko depresi pernapasan yang berbahaya.
- Segera cari pertolongan medis darurat bila muncul tanda overdose opioid, seperti napas sangat lambat atau dangkal, sangat mengantuk hingga sulit dibangunkan, atau bibir dan kuku membiru.
- Penggunaan jangka panjang atau dosis berlebih berisiko menimbulkan ketergantungan dan gejala putus obat.
- Hati-hati pada lansia serta penderita gangguan hati, ginjal, dan pernapasan.
- Beri tahu dokter atau apoteker bila Anda memiliki riwayat alergi terhadap kodein atau opioid lain sebelum menggunakan obat ini.
- Codikaf tidak boleh digunakan oleh ibu hamil dan ibu menyusui — brosur resmi yang disetujui BPOM mencantumkan keduanya sebagai kontraindikasi, bukan sekadar peringatan. Kodein masuk ke dalam ASI dan pada sebagian ibu dimetabolisme sangat cepat (CYP2D6), sehingga bayi berisiko mengalami depresi napas. Mintalah alternatif kepada dokter.
- Pastikan produk memiliki izin edar resmi dengan mengecek nomor registrasi di cekbpom.pom.go.id.
Kategori Ibu Hamil (FDA)
Pertanyaan Umum
Codikaf obat apa?
Codikaf adalah obat keras produksi PT Kimia Farma yang mengandung kodein (kodein fosfat), sebuah opioid. Codikaf digunakan untuk menekan batuk kering (non-produktif) sekaligus sebagai pereda nyeri ringan sampai sedang. Karena kodein tergolong narkotika golongan III, Codikaf hanya boleh dipakai dengan resep dokter.
Apakah Codikaf harus dengan resep dokter?
Ya. Codikaf berisi kodein yang di Indonesia digolongkan sebagai narkotika golongan III, sehingga termasuk obat keras dan wajib dengan resep dokter. Obat ini tidak boleh dibeli atau digunakan bebas. Anda juga dapat memastikan keaslian dan izin edarnya melalui cekbpom.pom.go.id.
Apa saja efek samping dan hal yang perlu diwaspadai saat memakai Codikaf?
Efek samping yang umum meliputi mengantuk, pusing, mual, muntah, sembelit, dan mulut kering. Pada dosis tinggi dapat terjadi depresi pernapasan, dan pemakaian jangka panjang berisiko menimbulkan ketergantungan. Segera cari pertolongan medis bila napas menjadi sangat lambat atau penderita sulit dibangunkan. Codikaf tidak boleh diberikan pada anak di bawah 12 tahun, serta perlu kehati-hatian pada ibu hamil, menyusui, dan lansia. Selalu ikuti dosis pada kemasan atau resep dokter.
Codikaf diminum berapa kali sehari dan berapa dosisnya?
Codikaf diminum tiap 4-6 jam sesuai kebutuhan, yang umum dituliskan sebagai 4 kali sehari, dengan dosis dan jumlah tablet yang ditentukan resep dokter. Menurut brosur resmi yang disetujui BPOM, untuk batuk (antitusif) usia di atas 12 tahun dosisnya 10-20 mg tiap 4-6 jam, maksimum 60 mg per hari — setara 3 tablet 20 mg, 4 tablet 15 mg, atau 6 tablet 10 mg. Untuk nyeri (analgesik) usia di atas 18 tahun, 30-60 mg tiap 4-6 jam. Menambah dosis sendiri berisiko depresi pernapasan dan kerusakan fungsi hati.
Berapa harga Codikaf di apotek?
Harga Codikaf bervariasi antar apotek, daerah, dan platform pembelian, jadi tidak ada satu harga pasti. Data harga pada listing MIMS Indonesia untuk kemasan dus 10 strip (100 tablet) menunjukkan kisaran sekitar Rp52.500 untuk 10 mg, Rp87.500 untuk 15 mg, dan Rp104.000 untuk 20 mg per box; angka lain yang beredar biasanya mengacu pada satuan kemasan berbeda, misalnya per strip. Yang lebih penting, Codikaf tidak dijual bebas: obat ini narkotika golongan III yang wajib dengan resep dokter dan hanya bisa ditebus di apotek berizin melayani narkotika.
Apakah Codikaf aman untuk ibu hamil dan ibu menyusui?
Tidak. Brosur resmi yang disetujui BPOM mencantumkan ibu hamil (termasuk hamil aterm) dan ibu menyusui sebagai kontraindikasi, bukan sekadar peringatan. Kodein diubah tubuh menjadi morfin dan menembus ASI, sehingga bayi yang menyusu bisa sangat mengantuk, sulit menyusu, napasnya melambat, dan badannya lemas; risiko ini lebih besar pada ibu yang tergolong ultra-rapid metabolizer CYP2D6. BPOM juga mengeluarkan peringatan (Maret 2016) bahwa kodein tidak disarankan untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan anak di bawah 12 tahun. Konsultasikan ke dokter untuk penanganan batuk atau nyeri yang sesuai.
Bolehkah Codikaf diberikan kepada anak-anak?
Tidak boleh untuk anak di bawah 12 tahun — brosur resmi BPOM mencantumkannya sebagai kontraindikasi mutlak. Pada usia 12-18 tahun, kodein hanya boleh dipakai sebagai penekan batuk atas resep dokter, tidak sebagai pereda nyeri, karena indikasi analgesik pada kelompok usia ini juga termasuk kontraindikasi. Alasannya, sebagian orang adalah ultra-rapid metabolizer CYP2D6 yang mengubah kodein menjadi morfin terlalu cepat sehingga berisiko keracunan opioid dan depresi napas walau dosisnya normal. Hindari juga pada anak atau remaja dengan obesitas, sleep apnea obstruktif, atau gangguan napas berat.
Codikaf untuk batuk kering atau batuk berdahak?
Untuk batuk kering (non-produktif), bukan batuk berdahak. Sesuai brosur resmi BPOM, kodein bekerja di susunan saraf pusat dengan menekan pusat batuk di otak, sehingga cocok meredakan batuk kering yang mengganggu, termasuk batuk malam hari yang membuat sulit tidur. Pada batuk berdahak, menekan refleks batuk justru merugikan karena dahak tertahan di saluran napas; kondisi itu lebih tepat ditangani ekspektoran atau mukolitik. Codikaf hanya meredakan gejala dan wajib dengan resep dokter, jadi periksakan ke dokter bila batuk tidak membaik.
Obat Terkait (Obat Batuk)
Lihat daftar lengkap di indeks obat.
Kondisi yang Umumnya Ditangani
Daftar ini menunjukkan kondisi yang umumnya ditangani dengan obat golongan Obat Batuk — bukan anjuran pengobatan. Diagnosis dan pilihan obat harus ditentukan dokter.
Referensi Medis
Disclaimer medis: Informasi obat ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi dokter atau apoteker. Selalu baca aturan pakai di kemasan dan ikuti anjuran tenaga medis berlisensi. Jangan menghentikan obat resep tanpa konsultasi.