Lewati ke konten
Analgesik / AntipiretikResep dokter

Coditam

**Coditam** adalah obat pereda nyeri kombinasi yang tiap tabletnya mengandung **kodein fosfat setara kodein 30 mg** dan **parasetamol 500 mg**. Obat ini digunakan untuk meredakan **nyeri sedang sampai berat** yang tidak cukup teratasi oleh analgesik biasa seperti parasetamol atau obat antinyeri non-opioid tunggal. Parasetamol bekerja sebagai analgesik-antipiretik, sedangkan kodein bekerja secara sentral pada **reseptor opioid** untuk memblokir sinyal nyeri. Coditam diproduksi PT Kimia Farma dan termasuk **narkotika golongan III** menurut UU No. 35 Tahun 2009, sehingga **hanya boleh diperoleh dan digunakan dengan resep dokter**, tidak boleh dijual bebas maupun dibeli online.

Nama generik
Kodein fosfat (codeine phosphate) + Parasetamol (paracetamol/acetaminophen)
Nama dagang
Coditam
Disusun Tim Redaksi SehatkuDiperbarui 9 Agustus 2026

Indikasi (Untuk apa)

  • Meredakan nyeri sedang sampai berat yang tidak cukup teratasi dengan analgesik non-opioid tunggal (misalnya parasetamol atau NSAID saja)
  • Nyeri pascaoperasi, nyeri cedera, atau nyeri lain yang dinilai dokter memerlukan tambahan analgesik opioid lemah
  • Kandungan parasetamolnya juga memberi efek antipiretik (penurun demam) sebagai efek penyerta, bukan indikasi utama
  • Kodein memiliki efek antitusif (penekan batuk kering), namun indikasi utama Coditam yang tercantum pada sumber produk adalah sebagai pereda nyeri - penggunaan untuk batuk hanya atas pertimbangan dokter

Dosis

Dewasa
Hanya digunakan sesuai resep dan pengawasan dokter. Dosis lazim dewasa yang tercantum pada sumber produk adalah 1 tablet tiap 4-6 jam bila diperlukan, dengan maksimum 8 tablet dalam 24 jam (setara 4.000 mg parasetamol dan 240 mg kodein per hari). Gunakan pada dosis efektif terendah dan durasi sesingkat mungkin. Jangan menambah dosis, memperpendek jarak minum, atau memperpanjang pemakaian tanpa instruksi dokter. Selalu ikuti petunjuk pada kemasan atau resep dokter.
Anak
Tidak boleh diberikan pada anak di bawah 12 tahun karena risiko depresi napas yang bisa fatal. Kodein juga dikontraindikasikan pada anak dan remaja di bawah 18 tahun yang menjalani operasi amandel (tonsilektomi) atau adenoid, serta pada anak dengan gangguan napas. Untuk anak, mintalah alternatif pereda nyeri yang lebih aman kepada dokter - jangan pernah membagi tablet dewasa untuk anak.
Lansia
Lansia lebih sensitif terhadap efek opioid seperti mengantuk berat, bingung, sembelit, dan depresi napas, terlebih bila ada gangguan fungsi ginjal atau hati. Dokter umumnya memulai dari dosis terendah dengan pemantauan ketat. Jangan menyesuaikan dosis sendiri.

Efek Samping

  • Mengantuk, pusing, dan penurunan kewaspadaan - jangan menyetir atau mengoperasikan mesin selama memakai obat ini
  • Sembelit (konstipasi), efek yang sangat umum pada opioid dan bisa berlangsung selama pemakaian
  • Mual, muntah, mulut kering, dan nyeri perut
  • Depresi napas (napas melambat atau dangkal) - efek serius yang risikonya meningkat pada dosis besar atau bila dikombinasi obat penekan sistem saraf pusat
  • Toleransi, ketergantungan fisik dan psikologis, serta gejala putus obat bila dihentikan mendadak setelah pemakaian lama
  • Gatal, ruam kulit, atau reaksi alergi; jarang terjadi reaksi kulit berat akibat parasetamol
  • Kerusakan hati (hepatotoksisitas) bila dosis parasetamol harian terlampaui, terutama pada pemakaian bersama obat lain yang juga mengandung parasetamol atau bersama alkohol
  • Retensi urine, keringat berlebih, sakit kepala, dan gangguan suasana hati

Kontraindikasi (Tidak boleh untuk)

  • Anak di bawah 12 tahun - risiko depresi napas fatal
  • Anak dan remaja di bawah 18 tahun setelah operasi amandel (tonsilektomi) atau adenoid
  • Ibu menyusui - kodein dan metabolitnya masuk ke ASI; pada ibu dengan metabolisme ultra-rapid CYP2D6 dapat menyebabkan depresi napas fatal pada bayi
  • Riwayat alergi atau hipersensitivitas terhadap kodein, opioid lain, atau parasetamol
  • Penyakit paru obstruktif berat, asma akut berat, atau kondisi lain dengan gangguan napas / depresi pernapasan
  • Gangguan fungsi hati berat (karena kandungan parasetamol) dan penyakit hati aktif
  • Diare akibat keracunan atau kolitis pseudomembran, serta ileus paralitik (penyumbatan gerak usus)
  • Sedang atau baru saja (dalam 14 hari) menggunakan obat golongan MAO inhibitor

Interaksi dengan Obat Lain

  • Obat lain yang mengandung parasetamol (obat flu, obat nyeri kombinasi, obat demam) - penjumlahan dosis parasetamol berisiko kerusakan hati. Selalu cek komposisi obat lain sebelum memakainya bersama Coditam
  • Alkohol - meningkatkan efek sedasi kodein sekaligus risiko hepatotoksisitas parasetamol
  • Obat penekan sistem saraf pusat lain: benzodiazepin, obat tidur, antipsikotik, antidepresan sedatif, antihistamin penenang, opioid lain - risiko sedasi berat dan depresi napas
  • Obat golongan MAO inhibitor - kombinasi berbahaya, hindari
  • Kodein adalah prodrug yang diubah tubuh menjadi morfin lewat enzim CYP2D6, sehingga obat penghambat atau penginduksi CYP2D6 (misalnya sebagian antidepresan) dapat membuat efeknya terlalu lemah atau justru terlalu kuat
  • Warfarin dan antikoagulan sejenis - pemakaian parasetamol jangka panjang dapat memengaruhi efek pengencer darah
  • Obat antimual, antidiare, atau antikolinergik - memperberat sembelit dan retensi urine

Peringatan Penting

  • Coditam adalah obat narkotika golongan III menurut UU RI No. 35 Tahun 2009. Obat ini wajib resep dokter, penyerahannya dicatat dan dilaporkan apotek, serta tidak boleh dijual bebas atau dibeli secara online. Membeli tanpa resep melanggar hukum dan berbahaya
  • Obat ini tidak boleh dipakai untuk pengobatan sendiri (swamedikasi). Nyeri sedang sampai berat perlu dinilai dokter lebih dulu untuk memastikan penyebabnya, bukan sekadar ditutupi dengan obat nyeri kuat
  • Berisiko menimbulkan toleransi, ketergantungan, dan penyalahgunaan. Jangan menaikkan dosis sendiri saat efek terasa berkurang - hubungi dokter. Jangan pula menghentikan mendadak setelah pemakaian panjang tanpa arahan dokter
  • Jangan pernah membagikan obat ini kepada orang lain, termasuk keluarga dengan keluhan serupa
  • Sampaikan kepada dokter dan apoteker riwayat alergi obat (terutama terhadap parasetamol, kodein, atau opioid lain) serta seluruh obat, suplemen, dan jamu yang sedang Anda pakai sebelum menggunakan Coditam
  • Batas parasetamol harian maksimal 4.000 mg untuk dewasa ikut membatasi jumlah tablet. Bila terlanjur minum melebihi dosis, segera ke IGD walaupun belum merasa sakit - kerusakan hati akibat parasetamol sering baru muncul setelah 1-2 hari dan bisa berakibat gagal hati
  • Segera cari pertolongan medis bila muncul napas melambat atau sangat dangkal, sangat sulit dibangunkan, bibir atau kuku membiru, kebingungan berat, atau kulit dan mata menguning, urine gelap, dan nyeri perut kanan atas (tanda gangguan hati)
  • Beri tahu dokter bila Anda hamil, merencanakan kehamilan, atau menyusui. Pemakaian kodein menjelang persalinan atau dalam jangka panjang selama kehamilan dapat menyebabkan depresi napas dan gejala putus obat pada bayi baru lahir, dan kodein tidak dianjurkan untuk ibu menyusui
  • Hati-hati pada penderita gangguan hati, ginjal, cedera kepala, tekanan dalam kepala meningkat, asma, gangguan prostat, atau riwayat penyalahgunaan zat
  • Pastikan produk yang Anda terima terdaftar resmi - cek nomor izin edar di cekbpom.pom.go.id. Coditam hanya boleh ditebus di apotek resmi dengan resep dokter
  • Simpan di tempat aman dan terkunci, jauh dari jangkauan anak-anak. Kembalikan sisa obat ke apotek bila terapi selesai
  • Informasi ini bersifat edukatif dan bukan pengganti konsultasi, diagnosis, atau resep dokter

Kategori Ibu Hamil (FDA)

Kategori C - hati-hati

Pertanyaan Umum

Coditam obat apa?

Coditam adalah obat pereda nyeri kombinasi berbentuk tablet yang mengandung kodein fosfat setara kodein 30 mg dan parasetamol 500 mg. Obat ini dipakai untuk nyeri sedang sampai berat yang tidak cukup mereda dengan analgesik biasa. Parasetamol meredakan nyeri dan demam, sedangkan kodein bekerja pada reseptor opioid di otak untuk menghambat sinyal nyeri. Coditam diproduksi PT Kimia Farma dan termasuk narkotika golongan III, sehingga hanya boleh digunakan dengan resep dokter dan tidak untuk pengobatan sendiri. Pastikan produk terdaftar resmi dengan mengecek nomor izin edarnya di cekbpom.pom.go.id.

Apakah Coditam bisa dibeli bebas di apotek atau online?

Tidak. Coditam mengandung kodein yang di Indonesia digolongkan sebagai narkotika golongan III berdasarkan UU No. 35 Tahun 2009. Artinya obat ini wajib resep dokter, hanya boleh diserahkan oleh apotek resmi dengan pencatatan dan pelaporan khusus, serta dilarang dijual bebas maupun secara online. Bila ada penjual yang menawarkan Coditam tanpa resep, itu ilegal dan produknya berisiko palsu atau tidak terjamin mutunya. Jika Anda mengalami nyeri yang berat, konsultasikan ke dokter agar mendapat penilaian dan resep yang tepat.

Apa bahaya terbesar Coditam yang perlu diwaspadai?

Ada tiga hal utama. Pertama, depresi napas - napas menjadi lambat atau dangkal, terutama pada dosis berlebih atau bila dicampur alkohol, obat tidur, atau obat penenang. Kedua, kerusakan hati karena kandungan parasetamolnya; jangan meminum obat lain yang juga mengandung parasetamol bersamaan, dan jangan melebihi batas dosis harian. Ketiga, ketergantungan - kodein dapat menimbulkan toleransi serta ketergantungan fisik dan psikologis bila dipakai lama atau melebihi anjuran. Coditam juga dikontraindikasikan pada anak di bawah 12 tahun, remaja di bawah 18 tahun pascaoperasi amandel/adenoid, dan ibu menyusui. Segera ke IGD bila muncul napas sangat lambat, sulit dibangunkan, atau bibir membiru. Gunakan hanya sesuai petunjuk pada kemasan atau resep dokter.

Obat Terkait (Analgesik / Antipiretik)

Lihat daftar lengkap di indeks obat.

Kondisi yang Umumnya Ditangani

Daftar ini menunjukkan kondisi yang umumnya ditangani dengan obat golongan Analgesik / Antipiretik — bukan anjuran pengobatan. Diagnosis dan pilihan obat harus ditentukan dokter.

Tools kesehatan terkait

Coba kalkulator gratis yang relevan dengan topik ini.

Referensi Medis

  1. 1. MIMS Indonesia - Coditam (kombinasi parasetamol + kodein, kode ATC N02AJ06, produsen Kimia Farma)
  2. 2. PIONAS BPOM - Monografi Kodein Fosfat
  3. 3. Cek BPOM - Verifikasi nomor izin edar produk obat

Disclaimer medis: Informasi obat ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi dokter atau apoteker. Selalu baca aturan pakai di kemasan dan ikuti anjuran tenaga medis berlisensi. Jangan menghentikan obat resep tanpa konsultasi.