Lewati ke konten
AntibiotikResep dokter

Levofloxacin

**Levofloxacin obat apa?** Levofloxacin adalah **antibiotik golongan fluorokuinolon (kuinolon)** dengan zat aktif tunggal levofloksasin (levofloxacin hemihydrate setara levofloxacin basa) yang dipakai untuk **mengobati infeksi bakteri** pada orang dewasa, mulai dari **infeksi saluran napas** (sinusitis maksilaris akut, eksaserbasi bakterial akut bronkitis kronik, pneumonia komunitas), **infeksi saluran kemih terkomplikasi** dan pielonefritis akut, sampai **infeksi kulit tanpa komplikasi**. Obat ini bekerja dengan menghambat enzim **DNA gyrase** dan **topoisomerase IV** bakteri sehingga bakteri tidak dapat memperbanyak diri. Levofloxacin beredar sebagai obat generik (OGB) dari banyak produsen dan juga dengan berbagai merek dagang, dalam bentuk tablet salut selaput, infus, dan tetes mata. Statusnya **obat keras** (lingkaran merah bergaris tepi hitam dengan huruf K), jadi hanya boleh dibeli dan digunakan **dengan resep dokter** dan tidak boleh dipakai untuk swamedikasi. Selalu pastikan nomor izin edarnya terdaftar lewat **cekbpom.pom.go.id**.

Nama generik
Levofloxacin (levofloksasin), umumnya sebagai levofloxacin hemihydrate yang setara dengan levofloxacin basa
Nama dagang
Levofloxacin
Disusun Tim Redaksi SehatkuDiperbarui 9 Agustus 2026

Indikasi (Untuk apa)

  • Sinusitis maksilaris akut akibat bakteri yang sensitif pada pasien dewasa
  • Eksaserbasi bakterial akut pada bronkitis kronik (perburukan bronkitis kronik karena infeksi bakteri)
  • Pneumonia komunitas (community-acquired pneumonia) yang disebabkan mikroorganisme sensitif
  • Infeksi kulit dan struktur kulit tanpa komplikasi
  • Infeksi saluran kemih (ISK) terkomplikasi dan pielonefritis akut
  • Prostatitis akibat bakteri yang sensitif
  • Demam tifoid sesuai penilaian dan pengawasan dokter
  • Antraks dan pes sebagai salah satu pilihan terapi antibiotik
  • Sediaan tetes mata 0,5% untuk infeksi mata bagian luar seperti konjungtivitis bakteri
  • Catatan penting: levofloxacin hanya bekerja pada infeksi bakteri, tidak untuk flu, pilek, atau infeksi virus lain, dan indikasi oral umumnya ditujukan bagi dewasa usia 18 tahun ke atas

Dosis

Dewasa
Levofloxacin tersedia sebagai tablet atau kaplet salut selaput 250 mg, 500 mg, dan 750 mg, infus 500 mg/100 mL dan 750 mg/150 mL, serta tetes mata 0,5%. Kekuatan, frekuensi, dan lama terapi ditentukan dokter berdasarkan jenis infeksi, tingkat keparahan, dan fungsi ginjal pasien, sehingga tidak ada satu dosis yang cocok untuk semua orang. Ikuti petunjuk pada kemasan atau resep dokter. Telan tablet utuh dengan air putih yang cukup, jangan digerus tanpa anjuran, beri jarak waktu minum dengan antasida, sukralfat, suplemen zat besi, kalsium, atau zinc sesuai anjuran dokter maupun apoteker, dan habiskan antibiotik sampai selesai meskipun keluhan sudah membaik agar bakteri tidak menjadi kebal.
Anak
Levofloxacin oral dan infus umumnya tidak ditujukan untuk anak dan remaja yang masih dalam masa pertumbuhan karena golongan kuinolon dikaitkan dengan gangguan sendi, tulang rawan, dan tendon. Indikasi resminya adalah dewasa usia 18 tahun ke atas. Penggunaan pada anak hanya boleh atas pertimbangan khusus dokter spesialis bila manfaatnya dinilai jauh melebihi risiko; jangan pernah memberikan sisa resep orang dewasa kepada anak.
Lansia
Pasien lanjut usia lebih rentan mengalami efek samping tendon, gangguan sistem saraf, gangguan irama jantung, serta aneurisma dan diseksi aorta. Karena risiko pembuluh darah tersebut, FDA Amerika Serikat dan regulator Eropa menyatakan fluorokuinolon termasuk levofloxacin sebaiknya tidak digunakan pada pasien lanjut usia bila masih tersedia pilihan antibiotik lain yang sesuai. Fungsi ginjal yang menurun seiring usia juga sering menuntut penyesuaian dosis, sehingga pemakaian pada lansia harus benar-benar atas penilaian dan pengawasan dokter.

Efek Samping

  • Gangguan saluran cerna: mual, muntah, nyeri perut, kembung, dan diare
  • Sakit kepala, pusing, atau rasa melayang
  • Gangguan tidur seperti insomnia, gelisah, atau mimpi buruk
  • Reaksi kulit: ruam, gatal, dan fotosensitivitas (kulit lebih mudah terbakar sinar matahari)
  • Peningkatan enzim hati pada pemeriksaan laboratorium
  • Nyeri, bengkak, atau radang tendon (tendinitis), terutama tendon Achilles, yang dapat berlanjut menjadi ruptur tendon
  • Neuropati perifer: kebas, kesemutan, rasa terbakar, atau nyeri pada tangan dan kaki
  • Efek pada sistem saraf pusat: cemas, bingung, depresi, halusinasi, hingga kejang pada kasus jarang
  • Kadar gula darah tidak stabil (hipoglikemia atau hiperglikemia), terutama pada penyandang diabetes
  • Efek samping serius yang jarang namun perlu penanganan segera: reaksi alergi berat (anafilaksis), diare berat atau berdarah akibat infeksi Clostridioides difficile, gangguan irama jantung karena perpanjangan interval QT, serta perburukan gejala miastenia gravis
  • Segera hentikan pemakaian dan cari pertolongan medis bila muncul nyeri tendon mendadak, kesemutan menetap, sesak napas, bengkak pada wajah, bibir, atau lidah, nyeri dada maupun perut hebat yang tiba-tiba, diare berat berdarah, kejang, atau perubahan perilaku yang tidak biasa

Kontraindikasi (Tidak boleh untuk)

  • Pasien dengan riwayat hipersensitivitas atau alergi terhadap levofloxacin maupun antibiotik kuinolon lain (misalnya ciprofloxacin, ofloxacin, moxifloxacin)
  • Pasien dengan riwayat gangguan tendon (tendinitis atau ruptur tendon) yang berkaitan dengan pemakaian kuinolon sebelumnya
  • Pasien dengan riwayat epilepsi atau kejang, kecuali benar-benar diperlukan dan diawasi ketat oleh dokter
  • Anak dan remaja yang masih dalam masa pertumbuhan, kecuali atas pertimbangan khusus dokter spesialis
  • Ibu hamil dan ibu menyusui, kecuali dokter menilai manfaatnya melebihi risiko dan tidak tersedia alternatif yang lebih aman
  • Pemakaian pada pasien miastenia gravis karena berpotensi memperberat kelemahan otot

Interaksi dengan Obat Lain

  • Antasida yang mengandung magnesium atau aluminium, sukralfat, suplemen zat besi, kalsium, dan zinc: mengikat levofloxacin di saluran cerna sehingga penyerapannya berkurang, beri jarak waktu minum sesuai anjuran dokter atau apoteker
  • Obat antidiabetes (termasuk insulin dan golongan sulfonilurea): dapat memicu kadar gula darah terlalu rendah atau terlalu tinggi, pantau gula darah lebih ketat
  • Warfarin dan antikoagulan lain: berpotensi meningkatkan efek pengenceran darah sehingga risiko perdarahan naik
  • Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS): meningkatkan risiko rangsangan sistem saraf pusat dan kejang
  • Kortikosteroid: meningkatkan risiko tendinitis dan ruptur tendon, terutama pada pasien lanjut usia
  • Obat yang memperpanjang interval QT seperti antiaritmia kelas IA dan III, antibiotik makrolida, serta sebagian antipsikotik dan antidepresan: menambah risiko gangguan irama jantung
  • Teofilin, siklosporin, dan probenesid: dapat mengubah kadar atau efek levofloxacin maupun obat tersebut di dalam tubuh
  • Selalu beri tahu dokter dan apoteker mengenai seluruh obat resep, obat bebas, herbal, dan suplemen yang sedang dikonsumsi sebelum memulai levofloxacin

Peringatan Penting

  • Wajib dengan resep dokter dan tidak untuk swamedikasi. Levofloxacin adalah obat keras (golongan K, lingkaran merah bergaris tepi hitam dengan huruf K). Jangan membeli tanpa resep, memakai sisa resep orang lain, atau membagikannya kepada anggota keluarga.
  • Sampaikan riwayat alergi obat sebelum terapi dimulai. Levofloxacin tidak boleh digunakan bila Anda pernah mengalami reaksi alergi terhadap levofloxacin atau antibiotik kuinolon lain seperti ciprofloxacin, ofloxacin, dan moxifloxacin. Sampaikan pula riwayat penyakit ginjal, hati, jantung, diabetes, epilepsi, gangguan tendon, dan miastenia gravis kepada dokter.
  • Periksa keaslian dan izin edar produk di cekbpom.pom.go.id sebelum menebus atau menggunakan obat. Nomor izin edar levofloxacin generik biasanya berawalan GKL (G untuk generik, K untuk obat keras, L untuk produksi lokal).
  • Risiko aneurisma dan diseksi aorta. FDA Amerika Serikat (2018) dan regulator Eropa memperingatkan bahwa fluorokuinolon termasuk levofloxacin dapat meningkatkan risiko aneurisma serta diseksi aorta. Obat ini sebaiknya dihindari pada pasien lanjut usia dan pasien dengan riwayat aneurisma aorta, penyakit vaskular aterosklerotik, hipertensi, sindrom Marfan, atau sindrom Ehlers-Danlos, kecuali tidak tersedia alternatif lain. Peringatan ini berasal dari FDA dan EMA, bukan peringatan khusus yang diterbitkan BPOM.
  • Tendinitis dan ruptur tendon dapat terjadi selama atau bahkan beberapa waktu setelah terapi, paling sering pada tendon Achilles. Hentikan pemakaian dan segera hubungi dokter bila muncul nyeri, bengkak, atau kaku pada tendon, dan istirahatkan anggota tubuh yang terkena.
  • Neuropati perifer serta efek samping sistem saraf pusat seperti kejang, kebingungan, halusinasi, cemas, dan depresi pernah dilaporkan pada golongan ini. Segera konsultasikan ke dokter bila muncul kebas, kesemutan menetap, atau perubahan suasana hati dan perilaku.
  • Perpanjangan interval QT dapat memicu gangguan irama jantung, terutama pada pasien dengan kelainan jantung, kadar kalium atau magnesium rendah, atau yang mengonsumsi obat lain yang memengaruhi irama jantung.
  • Dapat memperberat miastenia gravis sehingga sebaiknya dihindari pada pasien dengan kondisi tersebut.
  • Pasien dengan gangguan fungsi ginjal umumnya memerlukan penyesuaian dosis, sehingga dokter perlu mengetahui kondisi ginjal Anda sebelum meresepkan levofloxacin.
  • Hindari paparan sinar matahari berlebihan dan gunakan pelindung karena kulit dapat menjadi lebih sensitif terhadap cahaya selama pengobatan.
  • Habiskan antibiotik sesuai anjuran dokter. Menghentikan terapi lebih cepat karena merasa sudah sembuh dapat membuat infeksi kambuh dan mendorong resistensi antibiotik.
  • Segera ke dokter atau IGD bila selama maupun setelah pemakaian muncul sesak napas, bengkak pada wajah dan tenggorokan, ruam luas, nyeri dada atau perut hebat yang tiba-tiba, nyeri tendon mendadak, kejang, atau diare berat dan berdarah.
  • Hati-hati berkendara atau mengoperasikan mesin karena levofloxacin dapat menyebabkan pusing dan gangguan konsentrasi.
  • Informasi pada halaman ini bersifat edukatif dan bukan pengganti konsultasi medis. Keputusan penggunaan, dosis, dan lama terapi tetap berada di tangan dokter yang memeriksa Anda.

Kategori Ibu Hamil (FDA)

Kategori C - hati-hati

Pertanyaan Umum

Levofloxacin obat apa?

Levofloxacin adalah antibiotik golongan fluorokuinolon (kuinolon) dengan zat aktif tunggal levofloksasin, biasanya dalam bentuk levofloxacin hemihydrate yang setara dengan levofloxacin basa. Obat ini dipakai untuk mengobati infeksi bakteri pada orang dewasa, seperti sinusitis maksilaris akut, eksaserbasi bakterial akut bronkitis kronik, pneumonia komunitas, infeksi saluran kemih terkomplikasi, pielonefritis akut, serta infeksi kulit tanpa komplikasi; sediaan tetes matanya dipakai untuk infeksi mata luar seperti konjungtivitis bakteri. Cara kerjanya adalah menghambat enzim DNA gyrase dan topoisomerase IV bakteri sehingga bakteri tidak bisa berkembang biak. Levofloxacin tidak berguna untuk flu, pilek, atau infeksi virus lain dan termasuk obat keras yang wajib dengan resep dokter.

Apakah Levofloxacin bisa dibeli bebas tanpa resep dokter?

Tidak. Levofloxacin adalah obat keras golongan K, ditandai lingkaran merah bergaris tepi hitam dengan huruf K pada kemasan, sehingga hanya boleh dibeli dan digunakan dengan resep dokter melalui apotek resmi. Status ini juga tercermin pada nomor izin edarnya yang berawalan GKL untuk produk generik lokal. Levofloxacin di Indonesia beredar sebagai obat generik dari banyak produsen sekaligus dalam beberapa merek dagang, sehingga kekuatan dan kemasannya bervariasi antarproduk. Sebelum menggunakan, pastikan produk terdaftar dengan mengecek nomor izin edarnya di cekbpom.pom.go.id. Membeli antibiotik tanpa resep berisiko salah indikasi, salah dosis, dan mempercepat resistensi antibiotik.

Apa efek samping dan risiko Levofloxacin yang paling perlu diwaspadai?

Efek samping yang sering muncul umumnya ringan, seperti mual, diare, nyeri perut, sakit kepala, pusing, dan sulit tidur. Namun golongan fluorokuinolon memiliki beberapa risiko serius yang perlu diketahui: tendinitis dan ruptur tendon (terutama tendon Achilles), neuropati perifer, efek samping pada sistem saraf pusat termasuk kejang, perpanjangan interval QT yang dapat mengganggu irama jantung, serta perburukan miastenia gravis. FDA Amerika Serikat (2018) dan regulator Eropa juga memperingatkan adanya peningkatan risiko aneurisma dan diseksi aorta, sehingga levofloxacin sebaiknya dihindari pada lansia dan pasien dengan riwayat aneurisma aorta, penyakit vaskular aterosklerotik, hipertensi, sindrom Marfan, atau sindrom Ehlers-Danlos kecuali tidak ada alternatif. Segera hubungi dokter atau IGD bila muncul nyeri tendon mendadak, kesemutan menetap, nyeri dada atau perut hebat, diare berat berdarah, kejang, atau tanda reaksi alergi seperti sesak napas dan bengkak pada wajah.

Obat Terkait (Antibiotik)

Lihat daftar lengkap di indeks obat.

Kondisi yang Umumnya Ditangani

Daftar ini menunjukkan kondisi yang umumnya ditangani dengan obat golongan Antibiotik — bukan anjuran pengobatan. Diagnosis dan pilihan obat harus ditentukan dokter.

Tools kesehatan terkait

Coba kalkulator gratis yang relevan dengan topik ini.

Referensi Medis

  1. 1. Alodokter - Levofloxacin: golongan antibiotik kuinolon, status obat resep, bentuk sediaan tablet, infus, dan tetes mata
  2. 2. PIONAS BPOM - Monografi Levofloksasin, kelas terapi 5.1.6 Kuinolon
  3. 3. Cek BPOM - Verifikasi nomor izin edar produk levofloxacin yang beredar di Indonesia

Disclaimer medis: Informasi obat ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi dokter atau apoteker. Selalu baca aturan pakai di kemasan dan ikuti anjuran tenaga medis berlisensi. Jangan menghentikan obat resep tanpa konsultasi.