Mupirocin
Mupirocin adalah **antibiotik oles (topikal)** berisi zat aktif **Mupirocin 2%** — tiap 1 gram salep atau krim mengandung 20 mg mupirocin. Obat ini dipakai untuk mengatasi **infeksi kulit akibat bakteri Gram-positif**, terutama Staphylococcus aureus dan Streptococcus pyogenes, seperti **impetigo**, **folikulitis**, **furunkulosis**, serta luka dan infeksi kulit superfisial lain. Mupirocin termasuk golongan **asam pseudomonat (pseudomonic acid)** yang bekerja dengan menghambat enzim **isoleusil-tRNA sintetase** bakteri sehingga pembentukan protein bakteri terhenti. Di Indonesia mupirocin berstatus **Obat Keras**, jadi meskipun bentuknya salep atau krim, pembeliannya tetap **harus dengan resep dokter** dan tidak boleh dipakai untuk mengobati diri sendiri tanpa diagnosis. Selalu periksa nomor izin edar produk di **cekbpom.pom.go.id** sebelum memakainya.
- Nama generik
- Mupirocin (mupirosin)
- Nama dagang
- Simtroban, Mupicor, Pirotop, Mupipro, Mertus, Bactoderm
Indikasi (Untuk apa)
- Infeksi kulit primer akut akibat bakteri Gram-positif, terutama Staphylococcus aureus dan Streptococcus pyogenes
- Impetigo (terutama impetigo non-bulosa) pada area kulit yang terbatas
- Folikulitis atau peradangan folikel rambut akibat infeksi bakteri
- Furunkulosis (bisul) dan infeksi kulit superfisial lain sesuai penilaian dokter
- Luka superfisial, lecet, atau luka kecil yang mengalami infeksi bakteri sekunder
- Dekolonisasi nasal Staphylococcus aureus (termasuk MRSA) dengan sediaan yang ditujukan untuk pemakaian intranasal, hanya atas indikasi dan arahan dokter
Dosis
Efek Samping
- Rasa perih, panas, atau menyengat pada area yang dioles, biasanya ringan dan sementara
- Gatal (pruritus) dan kemerahan di lokasi pemakaian
- Kulit kering atau mengelupas di area olesan
- Nyeri lokal atau rasa tidak nyaman pada kulit yang diobati
- Reaksi alergi kontak (dermatitis kontak) berupa ruam yang justru memburuk setelah pemakaian
- Pada pemakaian intranasal: rasa perih di dalam hidung, hidung terasa kering, atau bersin
- Jarang: reaksi alergi berat dengan bengkak pada wajah, bibir, atau lidah, dan sesak napas — segera cari pertolongan medis
- Pemakaian berkepanjangan dapat memicu pertumbuhan berlebih bakteri atau jamur yang tidak sensitif (superinfeksi)
Kontraindikasi (Tidak boleh untuk)
- Riwayat hipersensitivitas atau alergi terhadap mupirocin maupun komponen basis salep/krimnya
- Tidak untuk pemakaian pada mata, dan tidak untuk ditelan
- Tidak untuk dioleskan pada mukosa atau area intim tanpa arahan dokter
- Tidak digunakan pada luka bakar luas, luka dalam, atau infeksi kulit yang sudah menyebar — kondisi ini memerlukan antibiotik sistemik dan penanganan dokter
Interaksi dengan Obat Lain
- Sebagai obat topikal, interaksi sistemik mupirocin sangat terbatas, tetapi tetap beri tahu dokter atau apoteker semua obat yang sedang dipakai
- Hindari mengoleskan produk topikal lain (krim, salep, atau kosmetik) pada area yang sama secara bersamaan, karena dapat mengencerkan obat dan menurunkan efektivitasnya
- Pemakaian bersama antiseptik atau antibiotik topikal lain pada luka yang sama sebaiknya hanya dilakukan atas saran dokter
- Jangan mencampur mupirocin dengan sediaan lain di dalam wadah untuk membuat racikan sendiri
Peringatan Penting
- Mupirocin adalah Obat Keras. Meskipun berbentuk salep atau krim, pembeliannya harus dengan resep dokter — bukan obat bebas dan tidak untuk swamedikasi tanpa pemeriksaan dokter.
- Beri tahu dokter atau apoteker bila Anda punya riwayat alergi obat, terutama alergi terhadap mupirocin atau salep/krim antibiotik lain, sebelum memakai obat ini.
- Periksa nomor izin edar (NIE) BPOM produk di cekbpom.pom.go.id sebelum membeli, terutama jika membeli daring, dan pastikan kemasan masih tersegel serta belum kedaluwarsa.
- Resistensi Staphylococcus aureus terhadap mupirocin adalah masalah yang terdokumentasi dalam literatur medis. Karena itu, hindari pemakaian berulang, berkepanjangan, atau tanpa indikasi yang jelas.
- Hentikan pemakaian dan hubungi dokter jika muncul iritasi berat, ruam meluas, atau tanda alergi seperti bengkak pada wajah, bibir, atau lidah dan sesak napas.
- Segera periksa ke dokter bila infeksi tidak membaik dalam beberapa hari, atau bila muncul demam, nanah bertambah, kemerahan meluas, garis merah pada kulit, dan nyeri hebat — tanda infeksi menyebar yang butuh antibiotik minum atau suntik.
- Jangan memakai mupirocin untuk jerawat biasa, gatal alergi, atau infeksi jamur — obat ini hanya bekerja pada infeksi bakteri.
- Hindari pemakaian pada area luas kulit yang rusak dan pada pasien dengan gangguan ginjal berat tanpa evaluasi dokter, karena kandungan basis polietilen glikol pada sebagian sediaan salep dapat terserap.
- Untuk ibu hamil dan menyusui, gunakan hanya bila diresepkan dokter. Jika dipakai di area payudara saat menyusui, bersihkan lebih dulu sebelum menyusui.
- Simpan pada suhu ruang, terlindung dari cahaya matahari langsung, jauh dari jangkauan anak, dan jangan berbagi tube bekas pakai dengan orang lain.
Kategori Ibu Hamil (FDA)
Pertanyaan Umum
Mupirocin obat apa?
Mupirocin adalah antibiotik oles dengan zat aktif Mupirocin 2% (20 mg per gram salep atau krim). Obat ini dipakai untuk mengobati infeksi kulit akibat bakteri Gram-positif seperti Staphylococcus aureus dan Streptococcus pyogenes, misalnya impetigo, folikulitis, furunkulosis (bisul), serta luka kulit superfisial yang terinfeksi. Mupirocin bekerja dengan menghambat enzim isoleusil-tRNA sintetase bakteri sehingga bakteri tidak dapat membentuk protein dan berhenti berkembang. Di Indonesia, mupirocin masuk golongan Obat Keras sehingga wajib dengan resep dokter, dan nomor izin edarnya sebaiknya dicek dulu di cekbpom.pom.go.id.
Apakah Mupirocin bisa dibeli bebas tanpa resep dokter?
Tidak. Mupirocin berstatus Obat Keras di Indonesia meskipun bentuknya salep atau krim, sehingga secara aturan harus ditebus dengan resep dokter. Beberapa apotek daring memang menampilkan produk mupirocin, tetapi status golongannya tetap obat keras dan penyerahannya seharusnya melalui apoteker dengan resep. Memakai antibiotik oles tanpa diagnosis yang tepat berisiko: salah sasaran (misalnya lesi yang sebenarnya jamur atau alergi), infeksi tidak sembuh, dan mendorong resistensi bakteri. Konsultasikan dulu ke dokter atau apoteker, sampaikan riwayat alergi obat Anda, dan pastikan produknya terdaftar di cekbpom.pom.go.id.
Berapa lama Mupirocin boleh dipakai dan bolehkah dioles untuk jerawat?
Secara umum mupirocin dioleskan 3 kali sehari pada area yang terinfeksi dan tidak dipakai lebih dari sekitar 10 hari, kecuali dokter menentukan lain — ikuti petunjuk pada kemasan atau resep dokter. Pemakaian yang terlalu lama atau berulang tanpa indikasi meningkatkan risiko resistensi Staphylococcus aureus terhadap mupirocin, sehingga obat ini bisa kehilangan manfaatnya saat benar-benar dibutuhkan. Mupirocin juga bukan obat jerawat rutin, bukan obat gatal alergi, dan tidak bekerja pada infeksi jamur. Hindari pula mengoleskannya pada mata, mukosa, atau area intim tanpa arahan dokter. Bila infeksi tidak membaik dalam beberapa hari atau justru meluas dan disertai demam, segera periksa ke dokter.
Obat Terkait (Antibiotik)
Lihat daftar lengkap di indeks obat.
Kondisi yang Umumnya Ditangani
Daftar ini menunjukkan kondisi yang umumnya ditangani dengan obat golongan Antibiotik — bukan anjuran pengobatan. Diagnosis dan pilihan obat harus ditentukan dokter.
Referensi Medis
Disclaimer medis: Informasi obat ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi dokter atau apoteker. Selalu baca aturan pakai di kemasan dan ikuti anjuran tenaga medis berlisensi. Jangan menghentikan obat resep tanpa konsultasi.