Etoricoxib
Etoricoxib adalah obat **antiinflamasi nonsteroid (OAINS)** golongan **penghambat selektif COX-2 (coxib)** yang dipakai untuk meredakan **nyeri dan peradangan** pada osteoarthritis, rheumatoid arthritis, ankylosing spondylitis, dan serangan artritis gout akut. Obat ini bekerja dengan menghambat enzim **siklooksigenase-2** sehingga pembentukan prostaglandin penyebab nyeri dan radang ditekan. Etoricoxib termasuk **obat keras berlogo lingkaran merah** sehingga hanya boleh dibeli dan digunakan dengan **resep dokter**.
- Nama generik
- Etoricoxib
- Nama dagang
- Etoricoxib
Indikasi (Untuk apa)
- Meredakan nyeri dan peradangan pada osteoarthritis (OA), termasuk kekakuan sendi lutut dan panggul
- Mengatasi gejala rheumatoid arthritis (RA) berupa nyeri, bengkak, dan kaku sendi
- Meredakan nyeri dan kekakuan pada ankylosing spondylitis (AS)
- Menangani serangan artritis gout akut (radang sendi akibat asam urat)
- Meredakan nyeri muskuloskeletal kronis atas pertimbangan dokter
- Meredakan nyeri akut pascaoperasi gigi
- Meredakan nyeri haid berat (dismenore) sesuai penilaian dokter
- Catatan penting: etoricoxib hanya meredakan gejala nyeri dan radang, tidak menyembuhkan penyakit sendi yang mendasarinya
Dosis
Efek Samping
- Gangguan saluran cerna: nyeri ulu hati, mual, dispepsia, kembung, diare, atau sembelit
- Peningkatan tekanan darah (hipertensi), terutama pada minggu-minggu awal terapi
- Pusing, sakit kepala, atau rasa lemas
- Retensi cairan yang terlihat sebagai bengkak pada tungkai dan kaki
- Palpitasi atau jantung berdebar
- Peningkatan enzim hati pada pemeriksaan laboratorium
- Serius dan jarang: kejadian kardiovaskular seperti serangan jantung (infark miokard), gagal jantung, atau stroke
- Serius dan jarang: perdarahan atau tukak saluran cerna, ditandai muntah darah atau BAB hitam
- Serius dan jarang: reaksi kulit berat seperti sindrom Stevens-Johnson dan nekrolisis epidermal toksik — hentikan obat dan segera cari pertolongan medis bila muncul ruam melepuh, kulit mengelupas, atau luka pada mulut dan mata
- Serius dan jarang: reaksi alergi berat (anafilaksis) berupa bengkak wajah atau bibir dan sesak napas
Kontraindikasi (Tidak boleh untuk)
- Riwayat hipersensitivitas terhadap etoricoxib atau komponen lain dalam sediaan
- Riwayat asma, urtikaria, atau reaksi alergi setelah memakai aspirin atau OAINS lain
- Hipertensi yang tidak terkontrol adekuat, yaitu tekanan darah menetap di atas 140/90 mmHg — kontraindikasi ini ditegaskan oleh badan otoritas obat Eropa (EMA)
- Tukak lambung aktif atau perdarahan saluran cerna aktif
- Penyakit jantung iskemik, gagal jantung sedang hingga berat, penyakit arteri perifer, dan riwayat stroke atau serangan iskemik transien
- Gangguan hati berat dan gangguan ginjal berat
- Penyakit radang usus (inflammatory bowel disease) yang aktif
- Kehamilan dan menyusui — etoricoxib tidak boleh dipakai selama hamil maupun menyusui
Interaksi dengan Obat Lain
- OAINS lain atau aspirin dosis analgesik: meningkatkan risiko tukak dan perdarahan saluran cerna — hindari pemakaian bersamaan
- Antikoagulan (misalnya warfarin) dan antiplatelet: meningkatkan risiko perdarahan, perlu pemantauan ketat
- Obat antihipertensi golongan ACE inhibitor, ARB, dan diuretik: efek penurun tekanan darahnya dapat berkurang dan risiko gangguan ginjal meningkat
- Litium: kadar litium dalam darah dapat meningkat sehingga berisiko toksik
- Metotreksat: kadar dan toksisitas metotreksat dapat meningkat
- Siklosporin dan takrolimus: meningkatkan risiko gangguan fungsi ginjal
- Kortikosteroid oral: memperbesar risiko iritasi dan tukak lambung
- Rifampisin: menurunkan kadar etoricoxib dalam darah sehingga efeknya berkurang
- Kontrasepsi hormonal: kadar hormon dalam darah dapat meningkat, diskusikan dengan dokter
- Informasikan ke dokter atau apoteker seluruh obat, suplemen, dan jamu yang sedang dipakai sebelum memulai etoricoxib
Peringatan Penting
- Etoricoxib adalah obat keras (lingkaran merah) dan wajib dengan resep dokter. Obat ini bukan narkotika maupun psikotropika, tetapi tidak boleh dipakai untuk pengobatan sendiri (swamedikasi) dan tidak boleh dibeli dari penjual daring tanpa izin apotek.
- Beri tahu dokter dan apoteker bila Anda memiliki riwayat alergi obat, terutama reaksi asma, biduran, bengkak, atau ruam setelah memakai aspirin atau OAINS lain, karena etoricoxib tidak boleh dipakai pada kondisi tersebut.
- Golongan coxib dikaitkan dengan peningkatan risiko kejadian kardiovaskular, termasuk serangan jantung, gagal jantung, dan hipertensi. Risiko inilah yang dahulu membuat obat sejenis, rofecoxib (Vioxx), ditarik secara global pada 2004 — etoricoxib sendiri tidak ditarik dan tetap terdaftar resmi di Indonesia.
- Tekanan darah wajib dipantau, khususnya dalam 2 minggu pertama terapi. Pasien dengan hipertensi yang tidak terkontrol tidak boleh memakai obat ini.
- Hentikan obat dan segera cari pertolongan medis bila muncul ruam kulit, lepuh, kulit mengelupas, atau luka pada mulut dan mata, karena etoricoxib dilaporkan berkaitan dengan reaksi kulit berat.
- Segera hubungi dokter atau ke IGD bila timbul nyeri dada, sesak napas, kelemahan sesisi tubuh, bicara pelo, muntah darah, BAB hitam, bengkak wajah atau bibir, atau nyeri ulu hati hebat.
- Pakai dosis efektif terendah selama waktu sesingkat mungkin; pemakaian jangka panjang harus atas evaluasi berkala dokter.
- Hati-hati pada pasien dengan riwayat tukak lambung, gangguan hati, gangguan ginjal, dehidrasi, atau lansia.
- Keamanan pada anak belum ditetapkan, dan etoricoxib tidak boleh dipakai oleh ibu hamil maupun ibu menyusui. Bila Anda sedang hamil, merencanakan kehamilan, atau menyusui, beri tahu dokter agar dipilihkan pereda nyeri yang lebih sesuai.
- Pastikan produk memiliki nomor izin edar BPOM dan cek keasliannya di cekbpom.pom.go.id. Nomor izin edar berbeda untuk tiap pabrik pembuat, jadi cocokkan dengan yang tertera pada kemasan.
- Informasi di halaman ini bersifat edukatif dan bukan pengganti konsultasi, diagnosis, atau resep dokter.
Kategori Ibu Hamil (FDA)
Pertanyaan Umum
Etoricoxib obat apa?
Etoricoxib adalah obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) golongan penghambat selektif COX-2 yang dipakai untuk meredakan nyeri dan peradangan sendi, seperti pada osteoarthritis, rheumatoid arthritis, ankylosing spondylitis, dan serangan asam urat (gout) akut. Obat ini juga dipakai untuk nyeri muskuloskeletal kronis, nyeri setelah operasi gigi, dan nyeri haid berat sesuai penilaian dokter. Etoricoxib beredar sebagai tablet salut selaput dengan kekuatan yang terdaftar di BPOM antara lain 60 mg dan 90 mg, dan berstatus obat keras sehingga wajib dengan resep dokter.
Apakah etoricoxib bisa dibeli bebas di apotek?
Tidak. Etoricoxib termasuk obat keras berlogo lingkaran merah sehingga hanya dapat ditebus di apotek dengan resep dokter dan tidak boleh dipakai untuk pengobatan sendiri. Setiap produk etoricoxib memiliki nomor izin edar BPOM sendiri sesuai pabrik pembuatnya, jadi cocokkan nomor yang tertera pada kemasan dan periksa keasliannya di cekbpom.pom.go.id sebelum memakai obat. Hindari membeli etoricoxib dari penjual daring yang bukan apotek berizin.
Apakah etoricoxib aman untuk penderita hipertensi dan penyakit jantung?
Perlu sangat hati-hati. Etoricoxib dikontraindikasikan pada pasien hipertensi yang tekanan darahnya menetap di atas 140/90 mmHg dan tidak terkontrol adekuat, serta pada penyakit jantung iskemik, gagal jantung sedang-berat, dan riwayat stroke. Golongan coxib dikaitkan dengan peningkatan risiko kejadian kardiovaskular seperti serangan jantung dan gagal jantung. Bila dokter tetap meresepkan, tekanan darah harus dipantau, terutama dalam 2 minggu pertama terapi. Diskusikan seluruh riwayat penyakit jantung dan tekanan darah Anda dengan dokter sebelum memakai obat ini.
Obat Terkait (Antiinflamasi (NSAID))
Lihat daftar lengkap di indeks obat.
Kondisi yang Umumnya Ditangani
Daftar ini menunjukkan kondisi yang umumnya ditangani dengan obat golongan Antiinflamasi (NSAID) — bukan anjuran pengobatan. Diagnosis dan pilihan obat harus ditentukan dokter.
Tools kesehatan terkait
Coba kalkulator gratis yang relevan dengan topik ini.
Referensi Medis
Disclaimer medis: Informasi obat ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi dokter atau apoteker. Selalu baca aturan pakai di kemasan dan ikuti anjuran tenaga medis berlisensi. Jangan menghentikan obat resep tanpa konsultasi.