Lewati ke konten
KortikosteroidResep dokter

Metilprednisolon

**Metilprednisolon** adalah obat **kortikosteroid** sistemik golongan **glukokortikoid** yang bekerja sebagai **antiinflamasi** (meredakan peradangan) dan **imunosupresan** (menekan reaksi sistem kekebalan tubuh yang berlebihan). Obat ini dipakai untuk berbagai kondisi seperti penyakit rematik dan autoimun, alergi berat yang tidak membaik dengan terapi biasa, penyakit kulit berat, gangguan mata, gangguan pernapasan, kelainan darah, hingga gangguan endokrin seperti insufisiensi adrenokortikal. Metilprednisolon adalah **nama generik**, bukan merek dagang tunggal; di Indonesia beredar sebagai obat generik berlogo dari berbagai pabrik farmasi serta merek dagang seperti Medrol (PT Pfizer Indonesia) yang labelnya disetujui BPOM. Metilprednisolon termasuk **obat keras** (lingkaran merah bertanda K) sehingga **wajib dibeli dengan resep dokter**. Pastikan produk yang Anda pakai terdaftar dengan mengecek nomor izin edarnya di cekbpom.pom.go.id.

Nama generik
Metilprednisolon (methylprednisolone)
Nama dagang
Metilprednisolon, Medrol
Disusun Tim Redaksi SehatkuDiperbarui 9 Agustus 2026

Indikasi (Untuk apa)

  • Gangguan endokrin: insufisiensi adrenokortikal primer maupun sekunder, hiperplasia adrenal kongenital, tiroiditis non-supuratif, dan hiperkalsemia yang berkaitan dengan kanker
  • Penyakit rematik sebagai terapi tambahan jangka pendek: artritis reumatoid (termasuk bentuk juvenil), spondilitis ankilosa, artritis psoriatik, bursitis akut atau subakut, epikondilitis, sinovitis pada osteoartritis, artritis gout akut, tenosinovitis non-spesifik akut, dan osteoartritis pasca-trauma
  • Penyakit kolagen: lupus eritematosus sistemik, dermatomiositis atau polimiositis, dan karditis reumatik akut
  • Penyakit kulit berat: pemfigus, dermatitis herpetiformis bulosa, eritema multiforme berat atau sindrom Stevens-Johnson, dermatitis seboroik berat, dermatitis eksfoliatif, mikosis fungoides, dan psoriasis berat
  • Kondisi alergi berat yang tidak memberi respons pada terapi konvensional: rinitis alergi musiman atau perenial, reaksi hipersensitivitas terhadap obat, serum sickness, asma bronkial, serta dermatitis kontak dan dermatitis atopik
  • Penyakit mata: uveitis, keratitis, neuritis optik, konjungtivitis alergi, iritis dan iridosiklitis, korioretinitis, serta herpes zoster oftalmikus
  • Penyakit pernapasan, kelainan hematologi, penyakit neoplastik, gangguan gastrointestinal seperti kolitis ulseratif, dan kondisi neurologis seperti multiple sclerosis

Dosis

Dewasa
Berdasarkan label yang disetujui BPOM, dosis oral dewasa umumnya berada pada rentang 2-60 mg per hari yang dibagi menjadi 1-4 kali pemberian, dan sangat bergantung pada jenis serta beratnya penyakit. Rentang yang lebar ini menegaskan bahwa dosis metilprednisolon tidak boleh ditentukan sendiri: dokter yang menghitung dosis awal, lama pemakaian, dan cara menurunkannya. Ikuti petunjuk pada kemasan atau resep dokter, dan jangan menambah atau mengurangi dosis tanpa sepengetahuan dokter.
Anak
Dosis pada anak dihitung dokter berdasarkan berat badan, usia, dan penyakit yang diobati, bukan sekadar memotong dosis dewasa. Pemakaian kortikosteroid jangka panjang pada anak dapat memengaruhi laju pertumbuhan sehingga perlu pemantauan dokter. Ikuti petunjuk pada kemasan atau resep dokter.
Lansia
Pada lansia, dokter biasanya memilih dosis efektif terendah dengan durasi sesingkat mungkin karena risiko efek samping seperti osteoporosis, hipertensi, dan peningkatan gula darah lebih besar. Ikuti petunjuk pada kemasan atau resep dokter serta lakukan kontrol rutin sesuai anjuran.

Efek Samping

  • Peningkatan nafsu makan dan kenaikan berat badan
  • Wajah membulat (moon face) dan penumpukan lemak di area tertentu pada pemakaian jangka panjang
  • Retensi cairan dan pembengkakan, meskipun risikonya lebih kecil dibanding kortikosteroid seperti hidrokortison
  • Peningkatan kadar gula darah hingga memperberat atau memicu diabetes
  • Peningkatan tekanan darah
  • Gangguan lambung, nyeri ulu hati, hingga risiko tukak lambung terutama bila dipakai bersama obat antinyeri golongan NSAID
  • Gangguan tidur, gelisah, perubahan suasana hati, dan pada sebagian orang gejala psikiatri lain
  • Kulit menipis, mudah memar, jerawat, dan luka lebih lambat sembuh
  • Menurunnya daya tahan tubuh sehingga lebih mudah terkena infeksi dan gejala infeksi dapat tersamarkan
  • Osteoporosis dan peningkatan risiko patah tulang pada pemakaian jangka panjang
  • Katarak dan peningkatan tekanan bola mata (glaukoma) pada pemakaian lama
  • Penekanan fungsi kelenjar adrenal yang dapat memicu krisis adrenal bila obat dihentikan mendadak

Kontraindikasi (Tidak boleh untuk)

  • Riwayat hipersensitivitas atau alergi terhadap metilprednisolon maupun komponen lain dalam sediaan
  • Infeksi jamur sistemik yang sedang aktif
  • Pemberian vaksin hidup saat sedang menggunakan dosis imunosupresif, kecuali atas pertimbangan dokter
  • Infeksi berat yang belum terkendali, kecuali bila dokter menilai manfaatnya lebih besar dan obat diberikan bersama terapi antiinfeksi yang sesuai

Interaksi dengan Obat Lain

  • Metilprednisolon dimetabolisme melalui enzim CYP3A4, sehingga rawan berinteraksi dengan banyak obat lain
  • Penginduksi CYP3A4 seperti rifampisin, fenitoin, dan karbamazepin dapat menurunkan kadar metilprednisolon sehingga efeknya berkurang
  • Penghambat CYP3A4 seperti ketokonazol, eritromisin, klaritromisin, dan beberapa obat antiretroviral dapat meningkatkan kadar metilprednisolon sehingga efek sampingnya bertambah
  • Obat antinyeri golongan NSAID termasuk aspirin meningkatkan risiko iritasi dan tukak lambung bila digabung
  • Obat antidiabetes oral maupun insulin dapat berkurang efeknya karena metilprednisolon menaikkan gula darah, sehingga dosis mungkin perlu disesuaikan dokter
  • Diuretik pembuang kalium meningkatkan risiko hipokalemia (kalium darah rendah)
  • Antikoagulan seperti warfarin dapat berubah efeknya sehingga pemantauan pembekuan darah perlu lebih ketat
  • Vaksin hidup sebaiknya tidak diberikan selama terapi dosis imunosupresif karena respons imun menurun dan risiko infeksi dari vaksin meningkat
  • Imunosupresan lain seperti siklosporin dapat saling memengaruhi kadar dan menambah risiko efek samping

Peringatan Penting

  • Jangan menghentikan metilprednisolon secara mendadak setelah pemakaian jangka panjang atau dosis tinggi. Dosis harus diturunkan bertahap (tapering) sesuai arahan dokter karena penghentian tiba-tiba dapat memicu krisis adrenal yang berbahaya.
  • Metilprednisolon sering disalahgunakan di Indonesia sebagai "obat gatal" atau "obat pegal" yang dibeli tanpa resep. Praktik ini berbahaya: obat ini menekan sistem imun, menutupi gejala penyakit yang sebenarnya, dan menimbulkan efek samping serius bila dipakai berulang tanpa pengawasan. Jangan melakukan swamedikasi dengan metilprednisolon.
  • Metilprednisolon termasuk obat keras (lingkaran merah bertanda K) dan wajib resep dokter. Sesuai ketentuan BPOM, obat keras hanya boleh diserahkan melalui apotek atau fasilitas pelayanan kefarmasian berdasarkan resep dokter dan tidak boleh dijual bebas di ritel modern seperti supermarket atau minimarket. Tawaran metilprednisolon tanpa resep di toko atau lapak online patut dicurigai.
  • Karena menekan daya tahan tubuh, obat ini dapat membuat infeksi lebih mudah terjadi dan gejalanya tersamar. Segera hubungi dokter bila muncul demam, batuk memberat, luka bernanah, atau tanda infeksi lain selama terapi.
  • Segera cari pertolongan medis bila muncul reaksi alergi berat (ruam luas, bengkak pada wajah, bibir atau lidah, sesak napas), muntah darah atau tinja berwarna hitam, nyeri hebat di ulu hati, gangguan penglihatan mendadak, nyeri dada, kejang, perubahan perilaku atau suasana hati yang berat, serta lemas hebat, mual, pusing, atau nyaris pingsan setelah dosis diturunkan yang dapat menandakan krisis adrenal.
  • Beri tahu dokter dan apoteker bila Anda pernah mengalami alergi terhadap metilprednisolon, kortikosteroid lain, atau obat apa pun, serta bila Anda memiliki diabetes, hipertensi, tukak lambung, osteoporosis, glaukoma, katarak, gangguan hati atau ginjal, gangguan jiwa, tuberkulosis atau infeksi lain, dan bila Anda sedang hamil, merencanakan kehamilan, atau menyusui. Sebutkan pula semua obat, suplemen, dan jamu yang sedang Anda pakai.
  • Metilprednisolon adalah obat keras, tetapi bukan narkotika dan bukan psikotropika, sehingga tidak masuk daftar zat terkontrol. Meski begitu statusnya tetap wajib resep dan tidak boleh dipakai sembarangan.
  • Sebelum menggunakan, pastikan produk terdaftar resmi dengan mengecek nomor izin edar di cekbpom.pom.go.id. Metilprednisolon masih beredar resmi di Indonesia; label produk Medrol 4 mg tercatat disetujui BPOM pada 18 Juli 2025.
  • Simpan pada suhu ruang, terlindung dari cahaya dan lembap, serta jauh dari jangkauan anak-anak. Jangan memberikan sisa obat resep Anda kepada orang lain meski gejalanya terasa mirip.

Kategori Ibu Hamil (FDA)

Kategori C - hati-hati

Pertanyaan Umum

Metilprednisolon obat apa?

Metilprednisolon adalah obat kortikosteroid golongan glukokortikoid yang berfungsi sebagai antiinflamasi dan imunosupresan. Obat ini diresepkan dokter untuk meredakan peradangan dan menekan reaksi imun berlebihan pada berbagai kondisi, mulai dari penyakit rematik seperti artritis reumatoid dan artritis gout akut, penyakit autoimun seperti lupus eritematosus sistemik, alergi berat yang tidak membaik dengan terapi biasa, penyakit kulit berat seperti pemfigus dan psoriasis berat, penyakit mata seperti uveitis dan neuritis optik, kelainan darah, gangguan pencernaan seperti kolitis ulseratif, hingga gangguan endokrin seperti insufisiensi adrenokortikal. Metilprednisolon adalah nama generik (INN: methylprednisolone), bukan merek tunggal, dan termasuk obat keras yang wajib resep dokter.

Apakah metilprednisolon bisa dibeli bebas tanpa resep?

Tidak. Metilprednisolon adalah obat keras yang ditandai lingkaran merah bertanda K, sehingga hanya boleh dibeli dengan resep dokter di apotek. Sesuai ketentuan BPOM, obat keras tidak boleh dijual bebas di ritel modern seperti supermarket dan minimarket. Jika ada penjual, toko, atau lapak online yang menawarkan metilprednisolon tanpa resep, itu melanggar aturan dan berisiko bagi kesehatan Anda. Membeli sendiri untuk keluhan seperti gatal atau pegal juga berbahaya karena obat ini menekan sistem imun dan dapat menutupi penyakit yang sebenarnya. Selalu cek keaslian dan izin edar produk di cekbpom.pom.go.id.

Bolehkah berhenti minum metilprednisolon begitu keluhan mereda?

Tidak boleh berhenti sendiri, terutama bila obat sudah dipakai cukup lama atau dengan dosis tinggi. Metilprednisolon menekan kerja kelenjar adrenal, sehingga penghentian mendadak dapat memicu krisis adrenal yang berbahaya. Dokter biasanya menurunkan dosis secara bertahap atau tapering sampai tubuh kembali memproduksi hormon secara normal. Karena dosis oral pada label BPOM memiliki rentang yang lebar dan disesuaikan per penyakit, aturan pakai dan cara menghentikannya hanya boleh ditentukan dokter. Ikuti petunjuk pada kemasan atau resep dokter, habiskan sesuai jadwal yang diberikan, dan hubungi dokter bila muncul lemas berat, mual, pusing, atau tekanan darah turun setelah dosis dikurangi.

Obat Terkait (Kortikosteroid)

Lihat daftar lengkap di indeks obat.

Kondisi yang Umumnya Ditangani

Daftar ini menunjukkan kondisi yang umumnya ditangani dengan obat golongan Kortikosteroid — bukan anjuran pengobatan. Diagnosis dan pilihan obat harus ditentukan dokter.

Referensi Medis

  1. 1. BPOM RI - Label produk MEDROL 4 mg (metilprednisolon), disetujui BPOM 18/07/2025
  2. 2. BPOM RI - Cek Produk Obat dan Nomor Izin Edar (Cek BPOM)
  3. 3. PIONAS BPOM - Informasi obat nasional Indonesia, monografi metilprednisolon (glukokortikoid)

Disclaimer medis: Informasi obat ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi dokter atau apoteker. Selalu baca aturan pakai di kemasan dan ikuti anjuran tenaga medis berlisensi. Jangan menghentikan obat resep tanpa konsultasi.