Lewati ke konten
Antispasmodik / Antikejang OtotResep dokter

Papaverin

Papaverin adalah **obat keras** berisi **Papaverin HCl** yang bekerja sebagai **antispasmodik** (pelemas otot polos) sekaligus **vasodilator**. Obat ini dipakai sebagai terapi tambahan untuk meredakan **kejang otot polos** pada **kolik usus/saluran cerna**, **kolik saluran kemih (ureter)**, dan **kolik saluran empedu**, serta pada gangguan sirkulasi akibat **vasospasme**. Papaverin adalah alkaloid benzilisokuinolin yang diisolasi dari opium, tetapi **tidak memiliki aktivitas opioid**, tidak bersifat analgesik, dan **bukan termasuk narkotika maupun psikotropika**. Karena berstatus obat keras (logo lingkaran merah huruf K), Papaverin **hanya boleh dibeli dan digunakan dengan resep dokter**, bukan untuk pengobatan sendiri. Pastikan nomor izin edarnya terdaftar di **cekbpom.pom.go.id**.

Nama generik
Papaverin HCl (papaverine hydrochloride)
Nama dagang
Papaverin
Disusun Tim Redaksi SehatkuDiperbarui 9 Agustus 2026

Indikasi (Untuk apa)

  • Terapi tambahan (spasmolitik) pada kolik usus dan saluran cerna yang disertai kejang otot polos
  • Meredakan kolik saluran kemih, termasuk nyeri kejang pada ureter
  • Meredakan kolik saluran empedu (kolik bilier)
  • Membantu melebarkan pembuluh darah (vasodilator) pada gangguan sirkulasi yang berkaitan dengan vasospasme
  • Sediaan injeksi intrakavernosa digunakan pada penanganan disfungsi ereksi — tindakan ini hanya boleh dilakukan oleh atau atas pengawasan langsung dokter

Dosis

Dewasa
Di Indonesia, Papaverin umumnya beredar dalam bentuk tablet 40 mg dan injeksi 40 mg/mL. Besar dosis, jumlah pemberian per hari, dan lama pengobatan ditentukan dokter sesuai kondisi, bentuk sediaan, dan respons pasien, sehingga ikuti petunjuk pada kemasan atau resep dokter dan jangan menentukan dosis sendiri. Jangan menambah dosis, menggandakan dosis yang terlewat, atau memperpanjang durasi pemakaian tanpa instruksi dokter.
Anak
Keamanan dan dosis Papaverin untuk anak tidak ditetapkan secara seragam dan tidak boleh ditentukan sendiri oleh orang tua. Pemberian pada anak hanya atas resep dan pengawasan dokter.
Lansia
Pasien lanjut usia lebih rentan terhadap efek pusing, mengantuk, dan penurunan tekanan darah akibat efek vasodilator. Dokter biasanya memulai dari dosis efektif terendah — ikuti petunjuk pada kemasan atau resep dokter dan laporkan bila muncul rasa melayang saat berdiri.

Efek Samping

  • Pusing dan rasa melayang, terutama saat berdiri terlalu cepat
  • Mengantuk dan rasa lemas — hindari mengemudi atau mengoperasikan mesin bila mengalaminya
  • Wajah kemerahan (flushing) dan rasa hangat akibat pelebaran pembuluh darah
  • Berkeringat berlebih
  • Sakit kepala
  • Mual dan rasa tidak nyaman di perut
  • Penurunan tekanan darah, kadang disertai jantung berdebar atau gangguan irama jantung
  • Peningkatan enzim hati hingga gangguan fungsi hati (hepatotoksisitas), terutama pada pemakaian jangka panjang — segera periksakan diri bila muncul mual berkepanjangan, urine gelap, atau kulit dan mata menguning
  • Reaksi alergi seperti ruam, gatal, hingga bengkak pada wajah atau sesak napas — hentikan obat dan segera cari pertolongan medis
  • Pada penyuntikan intrakavernosa: risiko priapismus (ereksi nyeri berkepanjangan) dan fibrosis jaringan penis — priapismus lebih dari 4 jam adalah kondisi gawat darurat yang harus segera dibawa ke IGD

Kontraindikasi (Tidak boleh untuk)

  • Riwayat alergi/hipersensitivitas terhadap papaverin
  • Blok atrioventrikular (blok AV) total — papaverin dapat memperberat gangguan konduksi jantung
  • Gangguan fungsi hati yang bermakna atau riwayat kerusakan hati akibat papaverin sebelumnya
  • Kondisi dengan tekanan darah sangat rendah atau syok, kecuali atas pertimbangan dokter

Interaksi dengan Obat Lain

  • Obat antihipertensi dan vasodilator lain (termasuk nitrat dan penghambat PDE-5 seperti sildenafil) — dapat memperkuat penurunan tekanan darah
  • Obat yang menekan susunan saraf pusat seperti obat tidur, ansiolitik, atau antihistamin penenang — memperberat rasa kantuk
  • Alkohol — meningkatkan risiko pusing, kantuk, dan tekanan darah turun
  • Obat antiparkinson levodopa — papaverin dilaporkan dapat menurunkan efektivitasnya dan memperberat gejala Parkinson
  • Obat lain yang berpotensi membebani hati — meningkatkan risiko peningkatan enzim hati
  • Beri tahu dokter atau apoteker mengenai semua obat, suplemen, dan jamu yang sedang Anda gunakan sebelum memakai Papaverin

Peringatan Penting

  • Papaverin adalah obat keras (daftar G) dengan logo lingkaran merah huruf K, sehingga wajib dibeli dan digunakan dengan resep dokter dan tidak boleh dipakai untuk pengobatan sendiri. Jangan membeli dari penjual yang menawarkannya bebas tanpa resep.
  • Beredar informasi keliru yang menyebut papaverin sebagai narkotika. Ini tidak benar: yang tercantum dalam daftar Narkotika Golongan I pada Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 adalah tanaman Papaver somniferum dan opium mentah, bukan papaverin. Papaverin tidak memiliki aktivitas opioid, tidak menimbulkan ketergantungan, dan statusnya adalah obat keras biasa — status resep dokter tetap wajib karena alasan keamanan penggunaan.
  • Papaverin bersifat melemaskan otot polos, bukan obat penghilang nyeri langsung, sehingga tidak boleh dipakai untuk menutupi nyeri yang belum jelas penyebabnya. Segera ke dokter atau IGD bila muncul nyeri perut hebat dan menetap, perut kaku, demam, muntah terus-menerus, BAB hitam atau berdarah, tidak bisa buang air kecil, atau nyeri pinggang menjalar — gejala ini dapat menandakan batu saluran kemih, batu empedu, radang usus buntu, atau sumbatan usus yang perlu penanganan segera.
  • Beri tahu dokter atau apoteker bila Anda memiliki riwayat alergi obat, penyakit hati, gangguan irama atau konduksi jantung, tekanan darah rendah, atau penyakit Parkinson sebelum menggunakan Papaverin.
  • Hindari mengemudi, mengoperasikan mesin, atau bekerja di ketinggian selama obat menimbulkan pusing atau mengantuk.
  • Penggunaan jangka panjang memerlukan pemantauan fungsi hati oleh dokter.
  • Sediaan injeksi hanya boleh diberikan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan; pemberian yang tidak sesuai prosedur dapat memicu penurunan tekanan darah dan gangguan irama jantung.
  • Penyuntikan intrakavernosa untuk disfungsi ereksi tidak boleh dilakukan sendiri tanpa pelatihan dan pengawasan dokter karena risiko priapismus dan fibrosis.
  • Data keamanan pada kehamilan dan menyusui tidak ditetapkan secara jelas — konsultasikan dengan dokter sebelum menggunakan.
  • Sebelum membeli, pastikan produk memiliki nomor izin edar BPOM yang aktif dengan mengeceknya di cekbpom.pom.go.id. Nomor izin edar dapat berbeda antar produsen dan kemasan.
  • Papaverin juga menjadi salah satu komponen dalam beberapa produk kombinasi yang beredar di Indonesia (misalnya kombinasi dengan metampiron dan ekstrak beladona). Kandungan, indikasi, dan aturan pakainya berbeda dari tablet Papaverin HCl tunggal — baca kemasan dengan teliti agar tidak tertukar.
  • Informasi ini bersifat edukatif dan bukan pengganti konsultasi medis. Selalu konsultasikan penggunaan Papaverin dengan dokter atau apoteker.

Kategori Ibu Hamil (FDA)

Belum diklasifikasi

Pertanyaan Umum

Papaverin obat apa?

Papaverin adalah obat keras dengan zat aktif Papaverin HCl yang tergolong antispasmodik atau pelemas otot polos, sekaligus bersifat vasodilator (melebarkan pembuluh darah). Obat ini digunakan sebagai terapi tambahan untuk meredakan kejang otot polos pada kolik usus, kolik saluran kemih, dan kolik saluran empedu, serta pada gangguan sirkulasi akibat vasospasme. Papaverin beredar sebagai tablet 40 mg dan injeksi 40 mg/mL, diproduksi oleh beberapa pabrik farmasi di Indonesia. Karena berstatus obat keras, Papaverin hanya boleh digunakan dengan resep dokter, dan nomor izin edarnya sebaiknya dicek di cekbpom.pom.go.id.

Apakah Papaverin termasuk narkotika?

Tidak. Papaverin bukan narkotika dan bukan psikotropika. Memang benar papaverin adalah alkaloid yang diisolasi dari tanaman opium (Papaver somniferum), tetapi papaverin termasuk golongan alkaloid benzilisokuinolin yang tidak memiliki aktivitas opioid, tidak menimbulkan efek analgesik narkotik, dan tidak menyebabkan ketergantungan. Dalam Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, yang tercantum dalam daftar Golongan I adalah tanaman Papaver somniferum dan opium mentah — bukan zat papaverin. Status Papaverin di Indonesia adalah obat keras (daftar G) dengan logo lingkaran merah huruf K, sehingga wajib resep dokter — alasannya keamanan penggunaan, bukan karena narkotika.

Apakah Papaverin bisa dibeli bebas tanpa resep dokter?

Tidak. Papaverin digolongkan sebagai obat keras, sehingga penyerahannya di apotek harus dengan resep dokter dan obat ini tidak boleh dipakai untuk pengobatan sendiri. Bila ada penjual yang menawarkannya bebas tanpa resep, hal itu bukan tanda golongan obatnya berubah, melainkan praktik penjualan yang tidak sesuai aturan. Kejang perut atau kolik juga bisa menjadi tanda kondisi serius seperti batu saluran kemih, batu empedu, radang usus buntu, atau sumbatan usus yang butuh penanganan segera, sehingga menutupi gejalanya dengan obat tanpa pemeriksaan bisa berbahaya. Konsultasikan dengan dokter atau apoteker, dan pastikan produk yang Anda beli terdaftar di cekbpom.pom.go.id.

Obat Terkait (Antispasmodik / Antikejang Otot)

Lihat daftar lengkap di indeks obat.

Kondisi yang Umumnya Ditangani

Daftar ini menunjukkan kondisi yang umumnya ditangani dengan obat golongan Antispasmodik / Antikejang Otot — bukan anjuran pengobatan. Diagnosis dan pilihan obat harus ditentukan dokter.

Referensi Medis

  1. 1. Cek BPOM - Verifikasi nomor izin edar produk obat di Indonesia
  2. 2. PIONAS BPOM - Pusat Informasi Obat Nasional Badan POM RI
  3. 3. KlikDokter - Papaverine HCl: golongan obat keras, kelas terapi antispasmodik, tablet 40 mg dan injeksi 40 mg/mL

Disclaimer medis: Informasi obat ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi dokter atau apoteker. Selalu baca aturan pakai di kemasan dan ikuti anjuran tenaga medis berlisensi. Jangan menghentikan obat resep tanpa konsultasi.